Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
45. Perseteruan Hebat


__ADS_3

Akhmar sedang berkendara, ia lalu mengurangi kecepatan motornya saat melewati rumah Vito. Ada banyak polisi, serta warga yang berkerumun. Terdengar pula tangis histeris bersahut- sahutan. Suara tangis mamanya Vito dan Sarah, adiknya Vito.


Kendaraan yang ditunggangi Akhmar nyaris berhenti, bergerak dengan sangat lambat. Akhmar menoleh, mengawasi rumah yang tampak begitu ramai. Suasana di rumah itu tampak gaduh.


Ada beberapa orang warga yang berkerumun di pinggir jalan, tepatnya di depan rumah Vito. Mereka saling bicara.


"Kasian Vito meninggal dunia."


"Itu mamanya sama adiknya nggak ada yang jagain."


"Kasian banget ya. Kok bisa jatuh ke jurang."


"Polisi sedang mengawal kasus ini. Semoga nggak ada apa- apa. Tapi kan aneh masak Mas Vito bisa nyasar sampe ke jalan sepi sana sendirian yak?"


Telinga Akhmar sekilas mendengar pembicaraan yang saling sahut.


Dengan organ tubuh yang terasa dingin, Akhmar kembali melajukan kendaraan hingga sampai di depan rumahnya. Ia bergegas cepat memasuki rumah meski dengan perasan tak menentu.


Belum hilang pikiran keruh akibat pemandangan yang baru saja ia saksikan, sudah tampak pemandangan tak menyenangkan di depan mata begitu ia membuka pintu rumah. Tampak Desi, adik sepupu mamanya yang akrab dipanggil Tante Esi itu berdiri di tengah- tengah ruangan.


Wanita bergaun merah muda itu adalah tantenya Akhmar, adik sepupu dari ibunya Akhmar.   Wanita muda itu memang sering berkunjung ke rumah itu.  terakhir kali, ia berkunjung dua bulan yang lalu. Sempat menginap juga.  dia rajin membawa makanan.  Namun Akhmar tidak begitu menyukainya.  Sebab Akhmar beranggapan bahwa Desi terlalu ikut campur ke dalam urusan pribadinya.


Adam berdiri di sisi Desi dengan berkacak pinggang, tatapan matanya tampak horor.


Aldan duduk di sofa, mengawasi keadaan sekitar.


"Sejak dulu kamu nggak berubah ya Akhmar, selalu pulang malam tanpa ada kegiatan yang bermanfaat, kasian papa kamu seharian bekerja dan kamu malah berfoya foya." Desi terlihat seperti seorang hakim, ia mengelus lengan Adam di sisinya seakan sedang merasa iba dan ingin memberikan perhatian.


Akhmar terdiam sebentar, namun kemudian melenggang masuk tanpa peduli dengan ucapan Desi.


Pandangan Adam mengikuti arah gerak tubuh Akhmar.  Penampilannya masih tampak sangat rapi dan klimis dengan sorot mata menatap frustasi ke wajah putranya tersebut.  


Ada apa lagi ini?  Akhmar tak heran dengan tampilan yang ditunjukkan oleh papanya.  Sudah makanan sehari- hari. 


Aldan terus mengawasi wajah- wajah di hadapannya.


 “Akhmar!” 

__ADS_1


Suara lelaki paruh baya mengguntur keras di salah satu ruangan luas.  Lelaki berpenampilan kelemis yang tak lain adalah Papanya Akhmar itu menatap frustasi ke wajah putranya tersebut.  


Dengan gerakan kasar, lelaki itu melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher, sedetik kemudian ia melepas dasi dari lehernya dan melemparnya ke sembarang arah, dasi malang berakhir dengan menggantung di sandaran sofa.


“Mau berapa kali Papa dengar masalahmu?  Setiap hari, setiap jam, setiap menit dan detik, selalu kabar tentangmu yang mengotori telinga Papa,” hardik Adam, Papanya Akhmar sambil berjalan hilir- mudik di depan Akhmar, dia benar- benar terlihat stres.


Akhmar diam saja, ia lalu duduk di kursi dengan kaki kiri terlipat naik ke kursi yang menjadi alas pantatnya.  Pandangannya fokus ke pena yang diputar-putar dengan tangannya sendiri, ia sedang menghitung berapa banyak putaran yang dihasilkan pena itu.  Sementara mulutnya mengunyah makanan yang sesekali ia raih dari toples di depannya.


“Akhmar!” Adam merampas pena dari tangan Akhmar, melemparnya ke udara dan jatuh ke lantai, tak puas ia pun memukul meja membuat Akhmar sedikit terlonjak kaget.


Adam benar- benar emosi melihat bungsunya itu yang ternyata sejak tadi tidak mengacuhkan perkataannya.  


Akhmar mengangkat wajah dan mendapati ekspresi kemarahan, tatapan dan napas Papanya yang menderu menunjukkan betapa lelaki tengah baya itu sedang sangat marah.  Namun Papanya itu tidak memukul, ia hanya menatap dan menggeram.


Akhmar mengedikkan bahu dengan santainya melihat Papanya naik darah. 


Kemudian Desi kembali angkat bicara. “Tadi ayahnya Alya datang kemari, mencari Mas Adam.  Seperti yang sudah aku ceritakan tadi, Ayahnya Alya bilang kalau Alya hamil dan minta pertanggung jawaban dari Akhmar.”


Nah, benar.  Wanita itu terus saja ikut campur.  Akhmar mengusap wajah. 


“Astaghfirullah…”  Adam mengusap wajahnya frustasi.  Ia menghela napas getir, matanya berkaca-kaca hampir menangis.  Antara sedih dan marah terpatri di wajahnya.  “Ya Allah, hukuman apa ini?”


“Aku bukan pelakunya!” ucap Akhmar membela diri.


“Lalu, siapa pelakunya.  Bukankah kamu sekarang adalah pacarnya Alya?  Dan kamu juga yang sering membawa Alya di kos- an Mang Usup?  Informasi itu baru saja papa dengar tadi.  Mau membela diri bagaimana lagi?” hardik Adam.


Akhmar bangkit berdiri, berjalan menjauh, tampak tak peduli dengan amarah papanya.  Namun ia kemudian berhenti, mendengarkan saja omelan papanya meski tak tertarik.  Jika ia terus berjalan, maka mungkin papanya akan langsung melemparkan meja ke udara.  


Akhmar mendekati meja di sisi dinding, menuang air mineral.  Dan meneguknya.  Ia lalu mengeluarkan hape, jempolnya asik berselancar dengan benda canggih itu.


Adam benar- benar emosi melihat bungsunya itu yang ternyata sejak tadi tidak mengacuhkan perkataannya.  


“Akhmar!” hardik Adam keras.


Akhmar menoleh dan mendapati ekspresi kemarahan.  Ia mengedikkan bahu melihat Papanya naik darah.


“Kau benar- benar keterlaluan!” Tatapan mata Adam menyala- nyala.  “Kamu bikin aib keluarga saja.  Nama baik keluarga kita bisa tercemar akibat ulahmu yang telah membuat Alya hamil. Astaghfirullah…”  Adam mengusap wajahnya frustasi.  Ia menghela napas getir, matanya berkaca-kaca hampir menangis.  Antara sedih dan marah terpatri di wajahnya.  “Ya Allah, hukuman apa ini?”

__ADS_1


Aldan yang sejak tadi duduk di sofa, hanya memandangi kejadian di depannya tanpa berkata apapun.  Ia tahu apa yang harus dilakukan, hanya perlu diam.  Karena pemandangan seperti itu bukanlah kali pertamanya, sudah sering dan bahkan sangat sering.  


Hanya saja, kali ini terlihat lebih serius dan amat sangat tegang.  Karena kesalahan yang dilakukan Akhmar sudah melewati batas wajar, dan kemarahan Papanya juga sudah diluar batas kendali.


“Kau ini memang tidak punya akal, ternyata binatang lebih berakal darimu,” gertak Adam setelah ia merasakan dadanya begitu nyeri.


“Tau apa Papa soal aku?  Ngurusin aku aja nggak pernah,” bantah Akhmar dengan mata melebar.  Isi dada Akhmar terasa panas mendapat bentakan dan makian Papanya.


Adam tercengang mendengar bantahan barusan.  Belum pernah ia mendengar Akhmar menjawab begitu.  Bahkan Akhmar selalu diam meski di belakangnya menggerutu setelah dimarahi Papanya.  Dan sekarang, Akhmar mulai berani menjawab.


“Kau sungguh keterlaluan!  Inikah balasanmu setelah semua yang Papa lakukan?  Berapa banyak uang yang sudah Papa habiskan demi hidupmu?”


“Dan Papa menyesal?”


Sahutan Akhmar yang bernada lancang membuat Adam naik pitam, ia menyambar gelas berisi kopi yang untungnya sudah tidak lagi panas dan menyiramkannya ke wajah Akhmar, membuat Akhmar sontak berdiri demi menghindari siraman kopi hangat.  Namun gerakannya sedikit terlambat hingga air kopi mengenai pipi kanan sampai ke dada.


“Lihatlah Kakakmu itu, dia tidak pernah berkelakuan sepertimu.  Kenapa kau tidak pernah bisa menjadi seperti dia?” Adam menunjuk- nunjuk Aldan yang kini sudah berdiri di belakang Akhmar, dia ada di sana karena sedang berusaha mengantisipasi kejadian buruk yang mungkin terjadi.


“Karena aku bukan Mas Aldan.  Aku terlahir sebagai Akhmar.”  Akhmar mengelap pipinya yang basah dengan sekali usap telapak tangannya.


“Aku ini Papamu.  Aku yang membesarkanmu.  Bisa- bisanya kau menjawab dengan kata- kata semenyakitkan itu?  Sudahkah kau pikirkan sebelum kau bicara?”


“Aku nggak perlu berpikir.  Bukankah Papa sendiri yang bilang kalau aku nggak punya akal?”


“Keterlaluan!  Papa benar- benar malu memiliki anak sepertimu.”


“Dan aku nggak pernah minta Tuhan untuk lahir di keluarga ini.”


Adam tercekat.  Rahangnya terlihat mengeras dan giginya menggemeletuk.  “Mulai sekarang, urusanmu bukan lagi urusanku.  Pergilah dari rumah ini!  Angkat kakimu sekarang juga!  Jangan panggil aku papa.  Kau bukan anakku lagi.  Jahanam!”


Akhmar menatap Adam tak kalah emosi.  Dengan urat rahang dan organ tubuh yang menegang menahan amarah, ia berkata, “Oke, kalau itu mau Papa.  Aku juga nggak butuh belas kasihan Papa.  Aku bisa hidup tanpa pemberian Papa!”


Akhmar melangkah meninggalkan Adam.


Bersambung


Klik like plis

__ADS_1


__ADS_2