
Setelah motor melaju cukup jauh, Akhmar menghentikan kendaraannya di sisi jalan raya, teman- temannya ikut berhenti.
"Sebenernya siapa yang ngelaporin kasus ini ke Pak Rt?" Akhmar mengedarkan pandangan ke wajah- wajah temannya sesaat setelah membuka kaca helmnya. wajah- wajah di hadapannya hanya terlihat bingung, sama seperti dirinya.
"Parah tuh orang, ngaduin kita begini." Atep menyeletuk kesal.
"Bahkan sekarang kita harus benar- benar berhenti make barang itu. Kita harus cek dan memberikan laporan ke Pak Rt. Gilla ini kan?" Akhmar memukul setang dengan kesal.
"Apakah mungkin cewek yang kemarin itu?" tebak Atep.
"Jangan ngaco, dia bukan warga sekitar sini. Mana mungkin dia kenal sama Pak Rt. gue jamin bukan dia pelakunya." Akhmar menggeleng. "Vito. Apakah dia?"
"Bisa jadi. Setelah dia memergoki kita, Pak Rt langsung tau kejadian ini. Nggak alah lagi, pasti dia pelakunya!" ucap Atep berambisi.
"Gue cabut!" Akhmar kembali menyalakan mesin motornya.
"Loh, baru jam berapa ini? Udah cabut aja?" seru Atep.
Akhmar tidak menggubris, ia melajukan kendaraannya meninggalkan teman- temannya.
Isi kepalanya terngiang beberapa ayat yang sudah sempat dia hafal. Namun kemudian ayat itu ditepis oleh nama Vito yang terus menari- nari di kepalanya. Ia pun memutar haluan motornya. Berniat hendak mencari Vito.
__ADS_1
* * *
Akhmar menempelkan hape nya ke telinga, menelepon Atep. “Tep, ikut gue! Buruan!”
“Ya, gue di belakang lo. Anak- anak juga ikut ini! Emangnya lo mau kemana?” tanya Atep.
“Ikut aja!” titah Akhmar kemudian mematikan sambungan telepon. Ia mengendarai motor dengan kecepatan luar biasa.
Atep dan teman- temannya menyusul di belakang, mengikuti Akhmar. Taka lama Akhmar menghentikan motor di ujung gang. Atep dan lainnya juga berhenti. Mereka menunggu di sana. teman- teman Akhmar tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Akhmar, namun mereka tetap menunggu di sana tanpa mau banyak tanya.
Tak lama tampak Vito, pria yang terkenal pendiam itu menutup toko miliknya dan berjalan meninggalkan toko.
Akhmar mendekati Vito, meraih lengan Vito dan menggeretnya.
“Naik!” titah Akhmar saat ia sudah menaiki motornya, memerintah Vito supaya membonceng di motornya.
“Tt tapi, mau kemana?” Vito gugup.
“Lo mau pulang kan?”
“Iya.” Vito menunduk ketakutan melihat tatapan tajam Akhmar yang disertai dengan hardikan keras.
__ADS_1
“Ya udah, naik!” akhmar menunjuk jok motor di belakangnya.
“Buruan!” titah Atep tak sabar.
Vito lalu menaiki motor Akhmar.
Iring- iringan motor mereka melaju di jalan raya. Bahkan Vito tak berani bertanya ketika akhmar membawanya cukup jauh dari kediaman rumahnya. Jalan menuju pulang bukan ke arah sana, tapi apa yang bisa ia lakukan selain hanya diam mematung.
Setelah jauh berkeliling, akhirnya Akhmar menghentikan kendaraannya tepat di jalan sepi, dimana tak ada satu pun kendaraan melinats di sana. Ia turun dan mencengkeram lengan baju Vito, menariknya hingga tubuh Vito huyung mengikuti tarikan tanagn Akhmar.
“Apa lo yang ngelaporin kita ke RT kalau kita make barang haram?” tanya Akhmar dengan tatapan membunuh.
Atep dan lainnya berdiri mengelilingi.
Vito menggeleng dengan gugup, ketakutan. “Enggak. Gg gue nggak ngelakuin apa- apa.”
“Jangan bohong!” hardik Akhmar lagi.
“Bb beneran. Gue nggak ngelaporin apa- apa.” Keringat di pelipis Vito meluncur sebesar biji jagung.
“Makin lo ketakutan dan nggak mau mengakui, maka gue makin yakin bahwa lo adalah pelakunya!” Akhmar merangkulkan lengan kekarnya ke leher Vito. Mempererat rangkulan itu hingga kulit wajah Vito memerah. Ketakutan. Takut dicekik, padahal Akhmar tidak melakukannya, hanya memperkuat lingkaran lengan itu saja.
__ADS_1
Bersambung