
Aiza berlari memasuki halaman rumah yang ditumbuhi beraneka ragam tanaman hias. Ia mengucap salam saat memasuki rumah.
Aiza berjalan menuju kamar. Sebelum sampai kamar, ia melewati ruangan keluarga. Di sana ada ibunya dan Zahra, Kakaknya yang terlihat sedang sibuk menyusun kue ke dalam kotak.
Pasti pesanan kue lagi. Dan itu membuat Ibu Aiza tidak bisa istirahat demi memenuhi permintaan pelanggan. Tapi tidak apa bekerja keras mencari nafkah dengan cara itu, dari pada harus meminta- minta pada ayah. Karena memang semenjak ayahnya menikahi banyak perempuan, Ibunya jarang menerima nafkah dari Ayah. Lihatlah, Ibu bekerja sendiri demi memenuhi kebutuhannya, juga kebutuhan anak-anaknya.
Aiza menyalami punggung tangan uminya.
“Pesenan kue lagi, Umi?” tanya Aiza sembari menghampiri Ibunya. Aiza lebih suka memanggil Ibunya Umi meski ibunya itu adalah keturunan Betawi asli. Sedangkan ayahnya dipanggil dengan sebutan abah sesuai permintaannya sebab abahnya memang Banjar asli.
“Iya, sayang.” Pandangan Ibunya fokus ke kue tanpa beralih ke wajah Aiza yang tersenyum sangat manis, andai Ibunya melihat senyum itu, pasti lelahnya akan sedikit berkurang.
“Apakah sekolah barunya menyenangkan?” tanya sang Umi sambil memasukkan kue yang sudah dicetak ke dalam oven.
“Alhamdulillah nggak ada masalah,” jawab Aiza sambil mencuci tangan di wastafel. Ia membantu Uminya memasukkan kue ke dalam oven setelah mengelap tangan. “Tadi Aiza langsung ikutan les, trus langsung ambil paket bahasa Arab. Jadinya pulang malam begini.”
“Umi udah paham soal itu.” Qanita tersenyum.
“Nggak usah bantuin, Za. Kamu belajar aja sana,” sergah Zahra.
“Amal tuh dibagi-bagi. Jangan diambil sendirian.”
“Kasian kamunya, dek. Capek. Udah sana belajar ke kamar!”
Qanita, Ibunya Aiza hanya tersenyum melihat interaksi kedua putrinya. Ia senang karena dua anaknya tidak pernah bertengkar seperti anak-anak orang lain.
__ADS_1
“Ini sudah hampir selesai. Kamu ke kamar sana,” ucap Qanita. “Ayo sana cepat mandi. Sebentar lagi Abahmu pulang, kita makan malam bersama.”
“Umi yakin Abah bakalan pulang?” tanya Aiza seperti menganggap mustahil kalau Ayahnya akan pulang.
“Iya. Tadi Abahmu telepon.”
“Paling juga bentar lagi nelepon dan bilang kalau nggak jadi pulang.” Suara Aiza terdengar jemu.
Tidak salah Aiza jika dia merasa kesal pada sang Ayah, yang bukan hanya sekali atau dua kali Ayahnya berjanji akan pulang, tapi nyatanya tidak jadi pulang. Sementara Ibunya sudah masak banyak untuk menyambut suami, dan akhirnya masakan itu dihabiskan tanpa kehadiran sang suami.
Aiza sudah bosan dengan penuturan yang sama, sehingga kehadiran Ayahnya sama sekali tidak ia harapkan.
Aiza menuju ke meja makan dan melihat sebal pada aneka ragam makanan yang tersaji. Kenapa ibunya terus-terusan bersikap sehormat itu pada Ayahnya yang selama ini tidak menghargai istri menurut Aiza.
“Lain kali nggak usah masak sebanyak ini, Umi. Mubajir,” ucap Aiza dengan muka yang masih cemberut. “Palingan abah sedang sama istri- istri mudanya.” Aiza membalikkan badan meninggalkan dapur.
Pertama, Ayahnya mengaku akan menikah lagi dengan janda muda kaya raya beranak satu yang kecantikannya luar biasa. Hal itu tentu saja membuat Ibunya merasa tersakiti, tapi tidak ada yang bisa Ibunya lakukan kecuali mengijinkan suaminya menikah lagi.
Kedua, suaminya mengaku akan menikah lagi dengan janda cantik jelita yang tinggal di Bandung.
Terakhir, ayahnya baru saja menikahi gadis cantik berusia dua puluh satu tahun, hanya selisih empat tahun dengan Aiza.
Lengkap sudah, ayah Aiza kini memiliki empat istri. Dan semakin jarang lelaki itu pulang ke rumah istri pertama. Bisa sebulan atau dua bulan sekali lelaki itu pulang ke rumah. Disamping dia harus membagi waktu untuk pekerjaannya, dia juga harus membagi waktu dengan para istri-istrinya. Apakah begini tabiat laki- laki jika memiliki banyak uang?
“Poligami itu nggak apa-apa. Nggak berdosa. Laki-laki diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu. Wanita yang membenci poligami dan menentang keras poligami,artinya menentang Al Qur’an. Ikhlas tertingginya wanita adalah saat rela suaminya menikah dengan wanita lain.”
__ADS_1
Itu kalimat yang Aiza pernah dengar dari mulut Ayahnya sewaktu berbincang dengan Ibunya.
Aiza kesal sekali setiap mengingat kata-kata itu. Ayahnya selalu saja menekan ibunya dengan Agama yang sengaja dia angkat hanya untuk memenangkan dirinya tanpa peduli dengan penjelasan indah dalam ayat- ayat Tuhan.
Entah terbuat dari apa hati Ibunya, perempuan itu tetap terlihat sabar dan legowo. Ia juga tetap patuh dan hormat pada suaminya, meski ia sudah terlihat seperti sampah di mata suaminya.
“Katanya ustad, paham agama, tapi kok gitu?” ucap Aiza mengenang ayahnya.
***
.
Hanya yg merasa bukan pendusta yg boleh masuk!
.
Kalimat itu tertulis rapi di sepotong karton yang ditempelkan di pintu kamar Aiza. Siapa lagi yang dia sindir jika bukan ayahnya. Lucunya, sang ayah benar-benar tidak berani masuk setelah membaca tulisan itu.
Biasanya yang pertama ayahnya lakukan ketika pulang ke rumah adalah menerobos memasuki kamar Aiza untuk mengantarkan oleh-oleh. Tapi kemarin, ayahnya hanya mengetuk pintu dan berteriak memanggil Aiza supaya keluar mengambil oleh-oleh yang ia bawa.
Ini membuktikan kalau sang ayah nyadar atau bagaimana? Aiza tersenyum geli. Selama ini ayahnya selalu bersikap cuek setiap kali Aiza menunjukkan sikap garang, memprotes dan menolak keputusan ayahnya yang katanya menikah lagi. Sekarang ayahnya mulai mundur dengan teratur.
Aiza mandi dan langsung mengenakan gamis indah dipadu jilbab kekinian. Ia membuka hape, mengarahkan jempol ke aplikasi Al Quran. Seperti biasa, ia membuka aplikasi Al Quran dan membaca beberapa ayat.
Tiba- tiba ia ingat surat Al Balad. Sudah sampai mana Akhmar menghafalnya? Bibirnya tertarik membentuk senyum seiring dengan matanya yang terpejam. Aneh, pria itu sebenarnya menolak, tapi kok setuju aja sewaktu ditantang hafalan?
__ADS_1
Bersambung
Ramein yak...