Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
55. Telat


__ADS_3

Aiza berlari keluar rumah mengenakan seragam putih abu- abu dengan jilbab yang juga berwarna putih.  Seperti biasa, gadis itu terburu- buru karena telat.  Kelamaan berselancar dengan ha pe.  Lupa mengecek jam.


“Telat?” tanya Adnan yang baru saja keluar dari rumah mengendarai motor, pria itu menghentikan motornya di sisi Aiza.


“Iya.”


“Aku antarin mau?” tawar Adnan sungkan.  Ia mengerti Aiza tidak pernah mau berboncengan motor dengan laki- laki.  Gadis itu sangat menjaga diri.


“Aku cari kendaraan umum aja.”  Aiza mengawasi di sekeliling.  Sepi.


Pandangan Adnan tertuju ke sebuah taksi yang muncul dari ujung jalan.  Nah itu ada taksi, kamu mau naik taksi?”


“Iya deh nggak apa- apa.”  Padahal Aiza ingin ngirit.  Tapi apa boleh buat, dari pada kesiangan, mendingan menerima tawaran Adnan untuk naik taksi.  


Taksi berhenti sesuai lambaian tangan Adnan yang menghentikannya.


“Makasih.  Aku duluan!”  Aiza melempar senyum dan masuk ke taksi.


Adnan mengangguk.

__ADS_1


Taksi melesat cepat menuju kesekolah yang disebutkan oleh Aiza.  Tak butuh waktu lamahingga taksi itu sampai di persimpangan gang.  Gedung sekolah tempat Aiza memang tidak di tepi jalan, masuk gang hingga seratus meter.  Sehingga Aiza turun di persimpangan jalan.  


Sebenarnya ia kesal setiap kali melewati gang itu, sebab ia dipastikan akan bertemu dengan sekelompok pria yang sering berkumpul di sana, mereka itu seperti kurang kerjaan dan suka dengan hal- hal yang mubajir.  Buang waktu.  Segalanya tidak bermanfaat.  Tapi itu sih urusan mereka.  Satu hal yang paling Aiza tidak suka adalah perilaku mereka yang meresahkan, mengganggu cewek lewat.  Itu kan sikap tidak terpuji.


Aiza paling muak digangguin laki- laki, dirayu dan digombalin.  Bukan maksudnya sombong, tapi perilaku itu tidak pantas menurutnya.  


Dari kejauhan, tampak para pria tengah berkumpul di persimpangan jalan.  Mereka adalah Atep, Enyong, Bajul dan dua orang lainnya.  Eh tunggu dulu, tidak ada Akhmar diantara mereka.  Bukankah pria itu adalah pentolan di grup kawanan somplak itu?  tapi kali ini Aiza tidak melihat Akhmar di sana.


“Woi… Cewek yang selalu dibelain Akhmar lewat woi!” seru Enyong membuat sejurus perhatian semua orang terarah kepada Aiza.


“Oh… Itu cewek yang bikin Akhmar sedikit beda.  Cantik beut.”


“Cantik banget sih kamu!”


Mereka semua sibuk menggoda dengan kata- kata receh.  Namun tak satu pun orang yang berani mendekat saat Aiza melintas di depan mereka.  Semuanya berada di posisi masing- masing.  Hanya saja, mulut mereka terus nyerocos.


Aiza tak peduli, pandangannya terus ke depan.  Sedikit pun tak mau menoleh.


Enyong penasaran, ia mendekati Aiza dan berjalan di sisi gadis itu.

__ADS_1


“Hai, Aiza!”  Enyong menjawil lengan Aiza.


Plak!


Tonjokan keras mendarat di hidung Enyong.  Pria itu merintih merasakan sakit yang luar biasa.


“Jangan kurang ajar ya!” hardik Aiza dengan sorot membunuh.  Kulit wajahnya yang putih berubah memerah.  Emosinya benar- benar naik.  Ia lalu berlari pergi.  


Masih dengan raut kesal, Aiza memasuki pagar sekolahnya yang untung saja masih terbuka.  Tak lama ia masuk, barulah pintu gerbang dikunci oleh satpam.


“Aizaaa!”  Nayla menyambut kedatangan Aiza.  “Buruan!  Kita baris!”  Nayla menggeret lengan Aiza dan membawanya masuk ke barisan upacara.


Aiza meletakkan tasnya di dekat bunga.  Lalu menyusul di barisan paling belakang.


***


BERSAMBUNG


KLIK LIKE YUPS

__ADS_1


__ADS_2