Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
07. Meremang


__ADS_3

“Kematian adalah benar adanya.  Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian.  Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, dan Allah benar-benar akan menguji manusia dengan kejelekan dengan kebaikan, dan kepada Allah manusia akan dikembalikan.”


***


"Ya udah, besok biar kakak yang urus motormu. Ada di bengkel mana?" tanya Zahra membuat Aiza terkesiap.


Mana mungkin Aiza mengatakan dimana keberadaan motornya. Jika ia menyebutkan alamat bengkel itu, pasti akan ketahuan kalau ia melintasi jalan yang tidak seharusnya ditempuh. 


Bengkel itu jelas berada jauh dari perlintasan Aiza menuju pulang ke rumah. Oh ya ampun, bagaimana ini?


"Nggak usah, Kak. Benerin motornya juga butuh waktu lama. Seminggu belum tentu kelar. Rusak parah soalnya," jawab Aiza.


"Oh... Ya udah." Pandangan Zahra tertuju ke jaket yang tergeletak di lantai sesaat tadi dihempaskan begitu saja oleh Zahra karena gugup saat mengganti pakaian Aiza. 


"Lah, itu jaket siapa? Itu jaket laki- laki kan?" Zahra mengawasi jaket hitam berukuran besar yang jika dipakai Aiza pasti kedodoran. 


"Loh, kamu bawa jaket siapa?" timpal Qanita yang juga heran. Selama ini kedua putrinya tidak pernah berhubungan dekat dengan laki- laki. Mereka terjaga dari pergaulan bebas.

__ADS_1


"Mm... Itu jaket orang yang nolongin Aiza waktu jatuh dari motor. Badan Aiza menggigil kedinginan, jadi dia berikan jaket itu ke badan Aiza. Dia kasian mungkin liat Aiza menggigil," tutur Aiza yang juga tidak berbohong.


"Ooh.. umi panggil bu bidan ya biar obatin luka kamu!" Qanita menatap teduh bungsunya.


Aiza menggeleng. 


"Ini cuma keseleo, Umi. Diurut aja pasti sembuh," jawab Aiza yang tak mau merepotkan sang umi.


"Beneran?" tanya Qanita ingin meyakinkan kalau bungsunya baik- baik saja. 


"Beneran, umi." Mata bulat Aiza menyipit akibat senyumnya.


Aiza mengangguk, membiarkan uminya berlalu pergi.


Zahra mengusap lengan Aiza lembut. "Lain kali kalau ada apa- apa, cepet kabarin kakak."


"Iya, kakak." Aiza mengangguk.

__ADS_1


"Lagian kamu sih lucu, motor dan helm yang kamu pakai itu kan udah nggak layak pakai lagi, kenapa masih bertahan pakai itu sih? Umi kan bisa beliin motor baru, kamunya aja yang nggak mau. Ini juga demi keselamatan nyawa kamu loh." Zahra sudah mulai seperti burung beo, cerewet sekali kalau urusan menasihati.


"Maksudnya Umi minta beliin motor ke abah? Ogah!" Aiza membanting tubuhnya ke kasur. Sialnya tidak tepat, belakang kepala malah mengenai sandaran dipan.


Zahra terkekeh melihat Aiza mengaduh sambil memegangi kepalanya yang sakit. "Itu namanya kualat. Marah mulu sama abah, akhirnya kena kan?"


Aiza tak peduli. Ia memposisikan tubuhnya dengan benar, menoleh ke belakang terlebih dahulu sebelum akhirnya merebahkan tubuh mengantisipasi kejadian naas seperti tadi.


Zahra dengan tekun mengurut kaki Aiza yang sakit, gadis itu entah mendapat ilmu dari mana hingga begitu pintar mengurut. Sesekali Aiza menjerit saat sentuhan Zahra mengurut pada bagian yang sakit.


"Oke, urutannya cukup sampai di sini dulu. Besok dilanjutin lagi. Bobok gih, udah malem. Kakak mau bantuin umi bikin kue untuk dijual besok," ucap Zahra kemudian berlalu pergi sesaat setelah mengemas pakaian basah milik Aiza dan membawanya serta keluar. Tangan Zahra sempat mematikan sakelar lampu ruangan. 


Dalam keadaan remang- remang, Aiza termenung mengingat kejadian tadi. Dimana pria bertubuh tinggi itu membonceng di motornya, lalu menggendong tubuhnya.


Aiza meremang mengingat itu. Ia memeluk lengannya sendiri dan mengusap lengan itu berkali- kali sambil menjejak- jejakkan kaki. Tak pernah terpikir ia bisa sampai digendong pria yang bukan mahram begitu? Bayangan saat ia berada di gendongan pria itu terus mengganggu pikiran Aiza. Ia tidak bisa tidur karenanya. 


Siapa sebenarnya pria itu? Kenapa diteriakin maling? Apa beneran maling? 

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2