Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
69. Di Luar Kendali


__ADS_3

“Mau berapa kali sih aku mesti berada di ambang maut saat bersamamu?” kesal Aiza dengan suara bergetar.  Tatapannya nanar.  “Aku capek.  Aku harus terlibat ke dalam masalah gilamu ini.  nyawa taruhannya loh.”


Akhmar terdiam.  Membisu.  Menatap tangisan Aiza.  Permata bening itu mengalir membasahi pipi yang bercahaya.  Ingin sekali Akhmar mengusap air mata di pipi putih itu, tapi tidak mungkin ia lakukan.  Aiza pasti akan meneriakinya ‘bukan mahrom’.  Ia tahan saja keinginan untuk menghapus air mata di pipi Aiza.  Ia hanya mengamati saja tanpa bisa melakukan apa- apa.  Bahkan memeluk untuk menenangkan pun tak bisa.


Aiza bukanlah Alya, bukan Priti, juga bukan gadis- gadis lain yang begitu mudah dipeluk.  Aiza adalah gadis yang sangat menjaga diri.  Hanya dalam keadaan kepepet alias tak ada jalan lain yang dapat membuat Aiza terpaksa harus bersenggolan dengan lawan jenis.  Seperti kejadian tadi.


Aiza sesenggukan.  Ia mengusap air matanya sendiri dengan jari lentiknya.


“Aku mau pulang.”  Aiza menatap motor Akhmar yang sudah hangus.  Menghitam.  Apinya tinggal sedikit.  Lalu bagaimana caranya ia bisa pulang dengan keadaan motor Akhmar yang sudah hancur begitu?


Sebenarnya, jauh di dalam hati Akhmar, ia sangat menyayangkan kondisi motornya yang hancur.  Itu motor baru, hasil jerih payah Aldan.  Pasti Aldan sedih jika mengetahui motor pemberiannya malah jadi hangus begitu.


“Za, aku minta maaf.”


Aiza bersungut.  Memutar badannya hingga membelakangi Akhmar.


“Kejadian hari ini sama- sama nggak kita inginkan, juga diluar kendaliku.  Kita bisa ada di sini berawal dari kecelakaan itu.  kalau kecelakaan itunggak terjadi, kamu pasti juga nggak akan mengalami ini.”  Akhmar membuang napas.


Aiza tergugu.  Ia menelan kata- kata Akhmar dengan akal sehat.  Benar juga apa kata Akhmar.  Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi, mereka nggak akan berada di sana.


Aiza menoleh ke arah Barat.  Semburat warna jingga mulai muncul di langit barat.  Matahari sudah hampir kembali ke peraduan.  Pertanda malam akan mengganti siang.  Awan gelap mulai beterbangan, menutup matahari.  Gelap.  Langit berubah gelap akibat mendung hitam.


“Bentar lagi malem.  Trus ini gimana?” polos Aiza yang sudah tidak lagi menangis.  Matanya masih sembab.

__ADS_1


“Kita cari tempat teduh dulu, yuk!  Takutnya bentar lagi hujan.”


“Ya udah, jalan sana!”


“Kamu duluan, nanti kalau kenapa- napa kan bisa langsung ketahuan.”


“Enggak.  Aku di belakang aja.  Laki- laki nggak boleh berjalan di belakang perempuan, nanti kamu tergoda ngeliat pinggulku bergoyang atau apa aja yang keliatan di matamu.”


Akhmar mengalah.  Ia berjalan di depan dengan kaki pincang diikuti oleh Aiza.


Hari ini Aiza sharusnya mengikuti kegiatan olah raga memanah, lalu dilanjutkan les fiqih.  Malamnya, ia seharusnya les bahasa Arab. Tapi sederet kegiatan itu sengaja ia batalkan karena sedang kurang enak badan.  Seusai jam belajar di skeolah, Aiza memilih pulang karena ingin beristirahat.  Namun kejadiannya malah begini.


Umi dan kakaknya tidak menanyakan kepulangannya yang terlambat karena mengira ia sedang disibukkan dengan kegiatan sehari- harinya.


“Ini kita di mana sih?” celetuk Aiza.


“Aku juga nggak tau.”


“Kayaknya kita udah ngelewatin perbatasan kota deh.  Ini udah masuk kota lain kan?”


Akhmar mengawasi sekeliling yang sepi.  “Mungkin.”


Angin bertiup kencang.  Langit pun mulai gelap.  

__ADS_1


“Bentar lagi hujan.  Kita bisa kehujanan.”  Aiza panik.


“Kita cari tempat untuk berteduh.”  Pandangan Akhmar mengawasi jauh ke depan.  Tak ada rumah.


Suara deru mesin mobil di kejauhan terdengar cukup keras.  Akhmar menoleh ke belakang.  tampak mobil truk melaju kencang menuju kea rah mereka.


“Kamu mau naik truk?  Kalau kamu mau, kita bisa menumpang truk itu sampai ke kota.  Gimana?” tanya Akhmar.


Aiza menoleh ke arah truk yang semakin mendekat.  Lampunya menyilaukan.  Gadis itu mengangguk.  Lebih baik naik truk dari pada mereka tersesat di sana sampai malam.


Akhmar melambaikan tangan, berjalan agak ke tengah jalan.


Truk pun berhenti.  Akhmar mendekati pintu mobil yang kacanya diturunkan oleh supir.


“Bisa numpang sampai kota, Pak?” tanya Akhmar.


Supir berwajah sangar itu tersenyum.  Ia menoleh ke samping yang menunjukkan tiga teman laki- lakinya yang sudah menyumbat penuh jok depan.  “Ini juga udah ada yang numpang, dek.  Nggak muat.  Di belakang penuh muatan.”


Akhmar menggaruk kepalanya, kesal.  “Ya udah, Pak.”


Truk pun kembali melaju.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2