Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
109. Merasa Kehilangan


__ADS_3

Bajul cepat melerai, menahan lengan Akhmar, menarik pundak Akhmar ke belakang hingga menjauhkannya dari Atep. Bajul trauma dengan kejadian Vito, takut kejadian serupa terulang kembali, takut Akhmar khilaf dan membuat Atep koit.


"Kurang ajar lo!" maki Atep. "Aiza nggak salah apa- apa sama lo. Dia gadis baik- baik. Kenapa lo sekejam itu menyutuh Bang Jamed buat ngerusak kesucian gadis itu? Lo gila ya!" Akhmar geram sekali. Tangannya mengepal.


"Sori Mar. Gue bener- bener kehilangan lo. Semenjak lo deket sama Aiza, kita kehilangan sosok lo. Cewek itu udah bikin lo menjauh dari kita. Waktu lo tersita habis cuma buat cewek itu doang," ucap Atep menunduk.


"Dan lo mengorbankan Aiza atas sikap gue? Beraninya lo! Gadis baik- baik yang nggak punya kesalahan apa pun lo korbanin. Kalo lo punya masalah sama gue, jangan kaitkam Aiza. Lo temuin gue dan selesein masalah langsung sama gue," hardik Akhmar.


Atep diam. Tak bisa bicara. Ia tak menyangka jika akhirnya Akhmar menemukan pelakunya.


"Jika saja Jamed sampai benar- benar merusak Aiza, gue nggak akan bisa ampuni lo! Gue habisi lo!" Akhmar kesal sekali.


"Mar, gue begini karena kehilangan lo."


"Masih aja lo ngebela diri. Apa lo nggak ngerasa salah? Lo udah celakain cewek nggak berdosa!" Akhmar kembali maju dan melayangkan tinju.


Bajul menengahi. Menahan dada Akhmar. Atep bangkit berdiri dan sedikit menjauh.


Tak mau tinggal diam, Akhmar terus meringsek maju.

__ADS_1


"Sudah, Mar! Cukup, jangan terusin!" pinta Bajul.


"Lo bener- bener nggak ada hati!" Akhmar tak peduli dengan ucapan Bajul, ia terus memburu Atep.


Bugh!


Pukulan Akhmar mendarat tepat mengenai wajah. Bukan wajah Atep, tapi salah sasaran. Malah wajah Bajul yang mendapat bogem itu.


"Awkh...!" Bajul merintih memegangi bagian pipi yang sakit.


Akhmar tampak menyesal sudah salah menghantam wajah Bajul. Ia meraih lengan Bajul menunjukkan penyesalannya.


"Nggak apa- apa. Aku nggak pa- pa, Mar!" Bajul menganggukkan kepala.


"Mar, gue trauma. Jangan lagi mukulin orang. Jangan sampai lo mengulangi kesalahan yang sama seperti kejadian vito. Cukup, Mar!" Bajul mendamaikan. Menepuk- nepuk pundak Akhmar.


"Lo kasih tau ke dia, gue nggak main- main!" Akhmar menunjuk Atep dengan dagunya. Kemudian melangkah pergi.


***

__ADS_1


Akhmar berdiri di depan pintu kamar Aiza, ingin masuk ke dalam, namun urung. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Qanita dan Zahra yang setia menemani.


Sudah satu hari pasca Aiza masuk rumah sakit, namun gadis itu masih dalam masa perawatan. Akhmar ingin tahu bagaimana kondisi Aiza, apakah ada cacat setelah masa perawatan? Ataukah baik- baik saja? Jika dia baik- baik saja, seharusnya gadis itu sudah kembali ke rumah? 


Lantas apa yang terjadi dengan fisik Aiza? Akhmar benar- benar penasaran. Namun ia tak bisa masuk kamar karena ada Qanita di sana. Ia tak mau membuat haduh suasana. Apa lagi membuat hubungan Aiza dan Qanita kembali memburuk. Lebih baik ia mengalah.


Akhmar balik badan, terkejut melihat Nayla yang sudah berada di hadapannya kini. Gadis itu membawa kue dan buah di tangannya.


"Mas Akhmar ya?" ucap Nayla dengan senyum.


Akhmar mengangguk. 


"Mau jengukin Aiza ya? Kenapa nggak masuk? Yuk, barengan masuk ke dalam. Nayla juga mau jengukin Aiza," ucap Nayla ramah.


"Enggak. Jangan bilang sama siapa- siapa kalau aku di sini ya. Aku pergi!" Akhmar melenggang pergi meninggalkan Nayla yang mengernyit heran.


Beberapa kali Akhmar melihat hape nya berdering dengan nama penelepon yang sama, Aiza. Akhmar tak menjawabnya. Ia sedang berusaha menjauhi Aiza, sudah seharusnya ia tidak berhubungan lagi dengan gadis itu. Semuanya demi kebaikan Aiza. 


Setelah itu, Akhmar mematikan hape nya hingga Aiza tak lagi bisa menghubunginya.

__ADS_1


Sesungguhnya Aiza hanya ingin mengatakan kepada Akhmar supaya pria itu tidak mencari siapa pelaku yang telah mencelakainya.  Itu saja. Aiza tak mau Akhmar tertimpa banyak masalah.


Bersambung


__ADS_2