
"Kok, baru dateng?" tanya Aiza.
"Sengaja. Nunggu anak- anak pada kelar ngajinya. Aku mau belakangan aja," jawab Akhmar.
"Kemarin kamu udah setor hafalan?"
"Udah."
"Udah hafal?"
"Udah."
"Beneran?" tanya Aiza ingin meyakinkan.
"Kalau nggak percaya, silakan tanya ke abah kamu."
Aiza tak mau melanjutkan pembicaraan. "Ya udah. Sekarang ulangi. Aku mau denger langsung."
"Siap!" Akhmar bersemangat. Ia lalu membaca hafalannya. Tak ada yang terbata. Lancar.
Aiza salut dengan kegigihan Akhmar yang begitu bersemangat menghafal ayat suci Al Quran. Padahal lidah Alhmar masih sangat kaku melafazkan huruf- huruf hijaiyah, membuktikan bahwa dia awalnya memang tidak pernah mengaji. Namun kegigihannya luar biasa. Terbukti sanggup menghafal surat sepanjang itu dalam waktu yang tidak panjang.
Setelah selesai menyetor hafalan, Akhmar mulai membaca Iqro', sama seperti yang diajarkan oleh Ismail, bahwa ia harus memulai dari awal.
"Tsa..." Aiza mengajarkan Akhmar mengulang huruf itu berkali- kali. Alhmar kesulitan melafazkan huruf sesuai yang diminta.
"Sa," ulang Akhmar.
"Tsa."
"Ssaa."
"Tsa." Aiza kembali menegaskan.
"Sssssaaaaya suka kamu."
Plak!
"Ah!" Akhmar memegang pipinya yang baru saja terkena pukulan penggaris kayu. "Ini pipi, bukan bedug!"
__ADS_1
"Makanya kalau ngaji yang bener. Disuruh ngucapin huruf tsa yang bener malah ngaco!" ucap Aiza.
"Maaf. Habisnya kamu ribet. Masak diulang- ulang terus. Bisa gempor ini bibirku."
"Kamu tuh ngucapinnya masih salah, makanya disuruh ngulang terus. Yang bener dong."
"Perasaan udah bener."
"Ikutin aku! Tsa! Lidahnya agak keluar, ujung lidah dikenain ke gigi!" titah Aiza. "Awas ya kalau ngelantur!"
"Sya."
Nah disuruh baca tsa malah yang keluar begono. Aiza kembali mengulang lafaz yang benar.
Akhmar pun berusaha melafazkan sesuai huruf tersebut. Tak lama, akhirnya Akhmar berhasil melafazkan dengan benar.
"Nah, itu baru bener," ucap Aiza dengan senyum.
Masyaa Allah... Cantik sekali saat Aiza tersenyum. Lesung pipinya tampil sempurna.
“Belajar ngajinya cukup sampai di sini. Besok lanjut lagi."
"O ya, apa alasan kamu suka nongkrong bareng temen- temen di persimpangan jalan?" tanya Aiza.
Akhmar mengedikkan pundak enteng.
"Pekerjaan yang kalian lakukan itu hanya akan nambahin dosa doang. Nggak ada manfaatnya. Kayak kemarin, temen- temen kamu itu iseng dan bahkan pegang- pegang aku, apa namanya itu kalau bukan nyari masalah? Itu namanya kurang ajar. Nggak sopan." Muka mungil Aiza tampak memerah mengenang kejadian itu.
Akhmar terkejut, bagaimana mungkin ada temannya yang berani kurang ajar terhadap Aiza?
"Aku pastikan semua itu nggak akan pernah terjadi lagi ke kamu," ucap Akhmar antusias.
"Aku ini kan salah satu korban, percuma kalau cuma aku doang yang aman. Semua cewek digangguin, itu nggak baik tauk!"
Akhmar terdiam memikirkan banyak hal.
Suara dering ponsel membuat Aiza merogoh ha pe dari saku celananya. Zahra menelepon.
"Assalamualaikum, Kak Zahra. Ada apa, Kak?" Aiza menempelkan benda pipih itu ke telinga.
__ADS_1
"Dek, nenek tadi udah dianterin makan belum? Kalau belum, biar kakak anterin ke kamarnya," sahut Zahra.
Waduh, Aiza sampai lupa mengantar makan malam sang nenek. Padahal biasanya pekerjaan itu selalu dia yang melakukannya. Biasanya, neneknya hanya makan rebusan singkong, rebusan pisang, atau roti saja kalau malam.
Aiza meletakkan ha pe ke meja. "Oh iya, hafalan buat kamu besok adalah surat An Nas. Hafalin ya! Suratnya pendek kok. 6 ayat doang."
"Hafalan terus? Kapan kelarnya?" Akhmar garuk- garuk kepala, mengira setelah menyelesaikan hafalan kemarin, maka selesai pula tugas hafalannya, tapi ternyata tidak.
"Sampai 30 juz. Itu baru kelar," tegas Aiza.
"30 juz?"
"Iya. Semua surat yang ada di dalam Al quran. Semua anak- anak di sini juga begitu. Harus hafalan. Kelar satu surat, lanjut ke surat berikutnya. Begitu terus sampai hafal 30 juz."
Lebih parah dari romusha jaman Jepang. Ini penyiksaan habis- habisan. Otak pun bisa peang.
"Emangnya kamu udah hafal 30 juz itu? Seenggaknya gurunya lebih hafal duluan dari muridnya."
"Guru nggak harus hafal. Yang penting punya ilmu buat ngajarin muridnya. Guru matematika nggak harus hafal rumus matematika untuk mengajari muridnya. Aku mau nganterin makan buat nenek. Kamu boleh pulang." Aiza menghambur pergi meninggalkan ruangan.
Akhmar hendak bangkit berdiri, namun urung menatap hape milik Aiza yang tergeletak di atas meja. Akhmar meraih hape tersebut dan memencet dua belas digit angka di panggilan, tak lain nomer miliknya sendiri. Lalu menekan nomer itu hingga tersambung ke hape miliknya sendiri.
Akhmar kembali meletakkan hape tersebut ke meja sesaat setelah mendelette panggilan keluar.
Akhmar pun pulang dengan perasaan yang tak ternilai.
***
Ya, mulai malam itu, setiap pulang mengaji, Akhmar mendapat tugas hafalan oleh Aiza dan itu dikerjakan oleh Akhmar dengan senang hati. Waktu Akhmar di setiap harinya tersita hanya untuk menghafal Al Quran dan sibuk mengaji. Tak ayal, setiap surat pendek berhasil diselesaikan oleh Akhmar hanya dalam satu hari. Dan Akhmar sudah bisa setor satu surat setiap harinya. Menakjubkan.
Namun di balik kesenangan Akhmar yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan hafalan, membuat Atep dan Enyong kesal karena Akhmar tidak pernah lagi memiliki waktu untuk ngumpul bareng di tempat tongkrongan.
Dan satu hal yang menambah daftar rutinitas Akhmar sekarang adalah pekerjaan.
Iya, Akhmar sudah mulai bekerja di sebuah ekspedisi jasa pengiriman barang. Mulai dari pagi jam 7 sampai dengan jam 3 sore, Akhmar melakukan rutinitasnya mengantar barang. Dan pada sore harinya, ia kuliah. Malamnya, belajar mengaji. Kegiatannya full sekarang.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1