
Di sisi lain, Nayla memasuki kamar Aiza. Senyum lebar terbit di wajah gadis itu. Ia menaruh buah tangannya dan mencium pipi kiri kanan Aiza. Setelahnya, ia menyalami tangan Qanita dan Zahra.
"Ya Allah, Za. Kenapa bisa begini? Apa yang terjadi?" Nayla menatap cemas.
"Ini cuma luka kecil, bentar lagi juga udah dibolehin pulang. Tunggu scan dari dokter. Gue jatuh dari ojek," jelas Aiza sama seperti yang dia katakan pada Qanita dan Zahra. Ia tak mau membuat keluarganya cemas jika saja jujur mengatakan seluruh peristiwa yang terjadi.
"Lain kali hati- hati, Za." Nayla mengusap punggung tangan Aiza.
"Permisi!" Suster masuk. "Keluarga Aiza, bisakah menemui pihak administrasi? Perawatan sudah selesai dan Nona Aiza sudah diperbolehkan pulang."
"Baik. Saya akan ke sana," ucap Qanita menyusul suster keluar kamar.
Zahra ke kamar mandi.
Saat itulah Aiza menggunakan kesempatan untuk mengambil secarik kertas dari balik selimutnya dan menyerahkannya kepada Nayla.
"Ini apa?" tanya Nayla.
"Kasih ke Akhmar ya! alamat rumah kontrakan Akhmar juga udah gue tulis disitu! Kalau dia nggak ada di kontrakan, kemungkinan dia di kampus," bisik Aiza.
"Emangnya lo kenapa sama Akhmar? Kayak kucing- kucingan aja?"
"Gue tadi telepon telepon dia, tapi nggak diangkat. Gue cuma mau bilang supaya dia nggak mencari orang yang udah nyelakain gue."
"Loh, lo dicelakain orang? Bukannya lo tadi bilang..."
"Jangan sampe umi atau pun kak Zahra tau kalau gue dicelakain orang," potong Aiza membuat mulut Nayla langsung membulat membentuk huruf o. "Gue cemas, Akhmar orangnya suka nekat. Takutnya dia nguber pelakunya. Itu sebabnya gue tadi telepon dia untuk ngingetin dia. Tapi dia nggak ngejawab telepon gue. Lo kasih surat itu ke dia ya!"
Nayla mengangguk sambil cepat- cepat memasukkan surat ke tasnya saat melihat pintu kamar mandi dibuka dan Zahra menyembul keluar.
Tak lama setelah itu, Nayla pun berpamitan.
***
"Mas Akhmar!" Nayla mengetuk pintu rumah kontrakan Akhmar.
Sepi. Seperti tak ada tanda- tanda kehidupan.
Nayla menoleh saat mendengar suara deru mesin motor memasuki halaman sempit rumah kontrakan.
Ternyata Akhmar baru pulang. Pria itu melepas helm. Mengernyit menatap Nayla yang bengong di depan pintu rumah kontrakannya.
Duuuh... Ganteng banget sih? Hidungnya mancung, matanya mempesona, bibirnya merah, menawan banget ya Allah. Menggoda iman banget nih Mas Akhmar. Nayla geli sendiri.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Akhmar.
"Mas, Nayla ke sini disuruh sama Aiza."
Akhmar turun dari motor, melangkah naik ke teras. "Kenapa Aiza menyuruhmu kesini?" tanya Akhmar.
"Ini." Nayla menyerahkan sepucuk surat. "Katanya, Mas Akhmar ditelepon nggak jawab. Aiza tadinya nelepon Mas Akhmar cuma mau bilang supaya Mas Akhmar jangan mencari orang yang udah nyelakain dia. Sebab itu bahaya."
"Thanks." Akhmar menggenggam surat itu.
"Mas Akhmar!" panggil Nayla kikuk.
"Hm? Kenapa?" Akhmar menatap Nayla.
"Mas Akhmar suka ya sama Aiza?"
Akhmar tidak menjawab. Diam saja.
"Maaf." Nayla merasa tak enak hati. "Ya udah, Nayla pergi. Permisi." Nayla gegas balik badan.
"Gimana kondisi Aiza?" tanya Akhmar membuat langkah kaki Nayla terhenti dan ia kembali membalikkan badan menghadap Akhmar. "Udah baikan. Tadi udah diperbolehkan pulang."
"Dia pulang ke rumahnya bersama orang tuanya?" Akhmar sekilas melirik pintu rumah kontrakan di samping rumahnya. Tak lain rumah kontrakan yang ditempati Aiza.
"Sepertinya iya. Soalnya kan dijemput uminya. Kenapa Mas Akhmar nggak mau jawab telepon Aiza? Kenapa pas jengukin Aiza juga nggak mau masuk? Kenapa Mas Akhmar kayak kucing- kucingan begini?" berondong Nayla.
Nayla sekarang mengerti jawabannya.
"Ya sudah, kamu boleh pergi. Thanks udah kirim surat ini buat aku," ucap Akhmar.
"Ya udah, aku permisi." Nayla bergegas meninggalkan rumah kontrakan itu.
Akhmar masuk ke rumah. Duduk lesehan di lantai dengan punggung menyandar di dinding. Ia membuka lipatan kertas. Membaca tulisan yang berderet rapi.
.
Assalamualaikum.
Akhmar, terima kasih atas pengalaman yang kamu berikan. Jika memang tidak bersama adalah yang terbaik, maka aku ikhlas untuk menjalaninya.
Namun kamu mesti mengetahui satu hal, bahwa ilmu itu sangat penting dalam kehidupan. Sama seperti perkataan para ahli ilmu, yang mengungkap betapa manusia sangat membutuhkan ilmu.
Barang siapa menginginkan dunia, hendaklah ia berilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, hendaklah ia berilmu.
__ADS_1
Barang siapa belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau sesaat, ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Ilmu itu bagaikan binatang buruan, sedangkan pena adalah pengikatnya, maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.
Sebab orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus.
Jika seseorang bepergian dengan tujuan mencari ilmu agama, maka Allah akan menjadikan perjalanannya seperti perjalanan menuju surga.
Bantinglah otak untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya guna mencari rahasia besar yang terkandung di dalam benda besar yang bernama dunia ini, tetapi pasanglah pelita dalam hati sanubari, yaitu pelita kehidupan jiwa.
Ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.
Akhmar, Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu, belajarlah untuk tenang dan sabar.
Ilmu pengetahuan ibarat padang pasir dan bintang di malam yang gelap, untuk itu kejarlah ilmu sekuat daya dan upaya.
Kebutuhan manusia terhadap ilmu jauh lebih besar dari pada kebutuhannya terhadap makan dan minum karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali saja dalam sehari, sedang ilmu, dibutuhkan dalam setiap embusan napas.
Belajarlah, karena manusia dilahirkan tidak dalam keadaan mengetahui suatu ilmu.
Sebab ilmu pengetahuan adalah pelita hidup. Ilmu adalah hiasan lahir, agama hiasan batin. Ilmu memberikan kekuatan dan menerangi jalan, agama memberi harapan dan dorongan jiwa.
Kalaulah bukan karena ilmu, tentulah manusia tak ada bedanya dengan binatang.
Tuntutlah ilmu dari lahir hingga ke liang lahat.
And than, satu hal lagi, peluk papa kamu sebelum kamu menyesal.
Thanks for your time.
Aiza Hulya.
.
Akhmar termenung. Kata- kata yang indah. Merasuk di kalbu. Menggetarkan hati.
Ilmu.
Ya, ilmu wajib dicari.
Mata Akhmar terpejam. Ia teringat Papanya. Teringat segala dosa-dosanya yg terkilas balik bagai rekaman, teringat kesalahannya yang telah membunuh Vito, kesalahannya yang telah menyakiti Alya yang entah sudah pergi kemana karena gadis itu kabur dari rumah.
Akhmar membuang napas berat.
__ADS_1
***
Bersambung