
Baru beberapa hari Akhmar minggat dari rumah, ia sudah kesulitan makan. Bagaimana jika sebulan? Ia jelas tidak memiliki pendapatan. Tinggal di kos-an murah yang kumuh dan bau. Ia juga butuh uang untuk jajan, rokok, bayar buku sekolah, serta bensin motornya.
Akhmar seperti orang bingung sendirian. Ia menghentikan motor di tepi jalan, merogoh kantong celana dan tidak mendapati apapun di sana. Pandangannya tertuju ke restoran di dekatnya. Perutnya keroncongan.
Akhmar menuju ke sebuah counter dan berniat akan menjual ponselnya lalu menukarnya dengan ponsel berharga murah. Minimal harga ponsel mahal seperti yang dia miliki itu akan bisa membuatnya bertahan hidup selama sebulan kedepan. Namun niatnya urung saat pandangannya menemukan sesuatu. Ia langsung pergi menaiki motornya meninggalkan konter.
Di sebuah gang, Akhmar melakukan transaksi jual beli dengan Jampang. Ya, Akhmar menjual ponsel canggih dengan harga yang terhitung murah untuk kemudian bisa dijual lagi oleh Jampang. Tapi itu bukan ponselnya, melainkan ponsel milik lelaki yang tadi sedang membeli pulsa di konter yang ia singgahi. Tangannya begitu ringan mengambil ponsel di saku celana belakang lelaki tadi tanpa meninggalkan kecurigaan.
Akhmar menggunakan uang hasil menjual hape untuk membeli nasi bungkus dan rokok. Itu adalah kali pertamanya dia mencuri. Dan hal itu membuatnya ketergantungan. Hingga saat ia jalan-jalan sore mencari nasi bungkus, ia melihat lelaki berpenampilan kelemis turun dari mobil menuju minimarket. Namun lelaki itu berhenti ketika mengangkat telepon.
Akhmar tertarik menatap dompet tebal lelaki itu yang terlihat menggiurkan, dompet tersebut dua centi melewati bibir kantong celana belakang.
Akhmar mendekati lelaki itu sambil mengerudungkan topi jaketnya ke kepala, lalu menarik dompet tersebut setelah celingukan kesana kemari untuk memastikan keadaan aman.
“Copet! Copet!”
Sial!
Akhmar lupa kalau celana lelaki itu ketat hingga gerakan dompet yang ia tarik itu cukup terasa di bokong lelaki itu.
Akhmar melarikan diri, menghindari lelaki kelemis yang mengejarnya sambil terus meneriaki copet. Akhmar merasakan hidupnya benar-benar akan habis di tangan warga. Setiap orang yang dia lintasi, menoleh dan akhirnya ikut mengejar.
__ADS_1
Di depan sana, beberapa orang berduyun meneriaki dan mendekat ke arah Akhmar.
Sial! Akhmar terkepung. Ia mengedarkan pandangan mencari celah untuk kabur.
Dia akan menjadi bulan- bulanan jika begini.
Tiba- tiba sebuah mobil berhenti tepat di sisinya, tak lain mobil yang tak asing di matanya.
“Cepat!” titah Aldan yang duduk di bagian kemudi memberi isyarat kepada Akhmar.
Secepatnya Akhmar meraih handle pintu mobil dan menyelinap masuk dengan gesit.
Mobil melesat kencang berbelok ke kanan tepat di persimpangan jalan di depan.
“Apa yang udah kamu lakukan? Mereka meneriaki mu maling. Kamu maling apa?” Aldan bicara dengan lembut meski raut wajahnya menunjukkan rasa frustasi.
Akhmar memutar mata. Dengan tenang ia berkata, “Aku butuh untuk menyambung hidup.”
“Ya Allah, Akhmar. Kamu tau nggak mencuri harta orang lain adalah salah satu dosa besar. Kamu udah mengambil harta orang lain yang bukan hak mu. Itu merupakan kezaliman yang nyata. Hukuman Allah dari mencuri adalah tangannya dipotong.” Inilah cirri khas Aldan, yang kerap memberikan tausiah setiap kali Akhmar melakukan kesalahan. Hampir semua kasus selalu berujung dengan dikeluarkannya dalil.
Akhmar tidak membalas kata- kata Aldan.
__ADS_1
“Kita ini dilarang memakan harta sebagian yang lain dengan cara yang bathil, ini hukum yang ditetapkan Allah,” imbuh Aldan lagi.
“Bukannya mencuri untuk menghilangkan lapar dan nggak dilakukan terus- menerus itu nggak apa- apa ya?”
“Mar, kamu itu meninggalkan rumah, meninggalkan harta yang kamu punya dengan sengaja. Nggak ada alasan yang mengatakan kalau kamu itu kelaparan. Kamu punya harta, Mar.”
Akhmar memilih diam. Biarkan saja kakaknya itu bicara panjang lebar. Paling kalau capek, bakalan diam sendiri.
“Orang yang makan makanan haram, maka kesadaran beragamanya akan sempit. Dan bahayanya, pemakan harta haram nggak akan diterima amalnya dan ditolak doanya. Catat baik- baik, orang yang makan harta haram sama dengan merusak dan menghancurkan dirinya sendiri, merusak ibadahnya, mempermainkan doanya dan menghancurkan keturunannya kelak.” Aldan berharap hati adiknya akan tersentuh sehingga turun kata taubat setiap kali menceramahinya.
Mobil berhenti di depan rumah kontrakan Akhmar. Membuat Akhmar mengernyit heran, bertanya- tanya kenapa Aldan bisa mengetahui alamat kontrakannya.
“Bagaimana Mas Aldan tahu kontrakanku?” tanya Akhmar.
“Aku diam- diam selalu mengawasi mu.”
Jawaban itu lumayan membuat hati Akhmar tersentuh. Bertubi- tubi, Aldan kerap memberikan perhatian kepadanya. Bahkan tidak pernah marah meski separah apa pun perilaku Akhmar selama ini.
“Aku turun.” Akhmar menuruni mobil, berjalan dengan langkah lebar menuju ke rumah kontrakan yang halamannya agak kotor karena sampah makanan yang dibuang begitu saja oleh Akhmar.
Bersambung
__ADS_1
jempol like nya jangan lupa klik 😉