
Akhmar menarik tangan Alya dan membawa gadis itu menuju pintu setelah hampir satu jam mereka menghabiskan waktu bersama- sama di tengah dinginnya Ac yang dinyalakan dengan temperatur rendah.
“Sekarang waktunya pulang!” Akhmar membuka pintu dan celingukan melihat keluar, memastikan keadaan aman dan tidak ada manusia yang melintas.
“Iya, aku pulang. Tapi janji ya, kita hadapi Papi bersama-sama! Aku takut!”
“Hm. Ya udah pulang sana!” Akhmar menuntun Alya keluar kamar.
“Kamu nggak mau nganterin aku?” Alya berhenti dan menoleh.
Akhmar garuk-garuk kepala melihat Alya yang tidak bergegas pergi, Akhmar tak mau ketahuan Aldan. “Lah, kamu tadi kesini naik apa?”
“Jalan kaki, rumah kita kan deketan. Tiga ratus meter doang.”
“Ya udah, pulangnya jalan kaki juga. Kamu juga yang bakalan kacau kalau dipergoki Papimu.”
“Mm… Ya udah kalo gitu. Tapi tadi siang…”
“Ayolah, aku nggak mau Mas Aldan mergokin kita berduaan kayak gini,” potong Akhmar.
“Oke deh aku pulang.”
Akhmar mengecup singkat bibir mungil Alya.
Alya tersenyum cerah dan berlari pergi.
Ya ampun, apa semua cewek selugu Alya? Pikir Akhmar geleng- geleng kepala. Dia kembali masuk kamar dan menutup pintu.
__ADS_1
Tubuhnya dilempar ke spring bed dan memeluk bantal guling. Matanya terpejam lagi. Setelah pertemuannya dengan Alya, tak lantas membuat ingatannya tentang Vito lenyap. Bayangan Vito masih terus menggelenyar di otaknya.
“Sialan! Nih, pala kenapa mikirin Vito mulu?” Akhmar mengacak-acak rambutnya kesal. Lalu harus dengan cara apa supaya ia melupakan Vito?
Akhirnya Akhmar teringat buku milik Nayla Permata. Ia mengambil buku itu dari dalam tas sekolahnya, membuka lembar demi lembar. Sosok Akhmar yang sama sekali tidak demen membaca, kini akhirnya tertarik membaca hanya karena satu alasan, ingin lepas dari bayang-bayang Vito.
Dahi Akhmar mengerut membaca setiap tulisan di sana. Semua isinya tentang agama. Wajar, Aiza sekolah di Aliyah, pasti pendidikan di sana kebanyakan membahas agama.
Akhmar ke kamar mandi dan mencuci wajahnya yang berkeringat dengan air. Anak rambutnya basah. Ia menunduk, memejamkan mata. Teringat Vito. Dia sempat terlibat aksi saling tarik sesaat sebelum Vito terjatuh ke jurang.
Seharusnya Vito tidak akan mengalami hal itu jika ia tidak menendang Vito. Sekarang, hanya tinggal menunggu keluarganya Vito heboh mempertanyakan keberadaan Vito yang tak kunjung pulang. Setelah itu, barulah heboh dikabarkan penemuan mayat di dasar jurang. Itu pun kalau ada yang menemukan.
Rumah Vito tak jauh dari rumah Akhmar, hanya berjarak dua rumah saja.
Akhmar keluar dari kamar mandi. Mengelap wajah dengan handuk. Ia mengernyit melihat Aldan sudah berdiri di tengah- tengah ruangan kamarnya. Gerakan tangannya yang mengelap wajah pun terhenti.
Dengan seulas senyum, lelaki berperawakan tinggi itu mendekati ranjang king size milik Akhmar dan duduk di sisi ranjang.
“Udah belajar?” tanya Aldan.
“Udah. Mas kapan pulang?” Akhmar meletakkan buku ke nakas lalu menumpuk kedua telapak tangannya dan menjadikannya alas kepala untuk berbaring.
“Barusan.” Aldan tertarik melihat buku bersampul rapi yang baru saja Akhmar letakkan ke atas nakas. Setahu Aldan, buku-buku tulis milik Akhmar semuanya kusut dan tidak bersampul. Aldan mengambil buku itu, membuka dan membaca sekilas. Ia tersenyum sekaligus geleng-geleng kepala.
“Sejak kapan?” Aldan menatap Akhmar masih dengan seulas senyum.
“Sejak kapan apanya?”
__ADS_1
“Kamu demen ama bacaan beginian? Keren!” Aldan mengacak singkat rambut Akhmar. “Baguslah kalo kamu udah mulai suka sama bacaan beragama. Loh, ini kan…. Bukunya anak sekolah Aliyah? Niat banget kamu pinjem pelajaran mereka, tapi mantap. Berarti kamu pengen tahu lebih banyak apa-apa aja pelajaran di Aliyah, ya?”
Akhmar mengangkat alis saja tanpa menjawab, dibiarkannya Aldan salah paham.
“Tumben Mas nyamperin aku ke sini? Ada apa, Mas?”
Aldan menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bertanya. “Kamu kenal Alya?”
Akhmar spontan menautkan alis dan menatap Kakak laki-lakinya dengan seksama. Kenapa tiba-tiba Aldan menanyakan Alya.
“Kenapa dengan Alya?” Akhmar balik tanya.
Sekilas pandangan Aldan menyapu penampilan adik semata wayangnya yang mengenakan celana selutut dan kaos putih ketat, mempertontonkan betisnya yang berotot dengan dada sixpack yang tentunya disukai para wanita. Dari situ Aldan dapat melihat begitu cepat pertumbuhan badan adiknya itu. Di usianya yang masih remaja, Akhmar memiliki fisik yang sempurna.
“Akhmar, jangan pergunakan kesempurnaan fisik mu itu buat yang enggak- enggak.”
“Mas, ngomong apa?” Akhmar menatap Aldan intens.
Meskipun Aldan sudah berkali-kali mengatakan agar Akhmar memanggilnya dengan sebutan Abang, namun Akhmar lebih suka memanggil Mas. Almarhum Ibu mereka, asli Yogyakarta, membuat Akhmar lebih suka yang berbau bahasa Jawa dari pada bahasa lain. Padahal Akhmar tidak pernah melihat Ibunya. Hanya berjarak beberapa jam saja antara kelahiran Akhmar dan meninggalnya sang Ibu.
“Alya tadi dateng ke rumah, dia nyariin kamu. Dia bilang dia mau minta pertanggung jawaban mu.”
Akhmar terkejut dan bangkit duduk. “Maksudnya pertanggung jawaban apa ini?”
“Dia nangis- nangis tadi.”
Akhmar terdiam sejenak dan mengumpat dalam hati. Belum kelar satu masalah, eh udah muncul masalah baru lagi. Astaga.
__ADS_1
Bersambung