Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
89. Dosa Terbesar


__ADS_3

Aiza menatap semburat warna keemasan di ufuk Barat. Warna itu indah, menunjukkan sebentar lagi malam akan mengganti siang. 


Senja yang indah.


Aiza duduk di sebuah batu besar menatap ke arah barat. Ia berada di tepi sungai.


 Raut murung akhirnya menyemburat ke wajahnya setelah sejak tadi ia tetap terlihat baisa saja meski terusir dari rumahnya sendiri.  Ia mengambil buku tulis dari dalam tas yang sejak keluar dari rumah, tas itu menemaninya.


Ujung pena mulai menulis di buku itu.


( Saat ini, aku benar- benar merasa sendiri.  Entah sampai kapan aku harus menunggu sesuatu yang sangat sulit tuk kujalani hidup dalam kesendirian sepi tanpa orang- orang yang kucintai.  Kesendirian mungkin bisa memberiku kekuatan untuk menjalani hidup. Tapi untuk menjadi seseorang yang kuat, aku tidak bisa sendirian. 


Namun, sejatinya kesendirian tidak lah selalu terlihat buruk setidak nya ia telah mengajarkan baiknya hidup mandiri tanpa bantuan orang lain. Membuatku lebih tau makna hidup, tak ada pertengkaran,tak ada kebohongan, tak ada aturan dan keterpaksaan, Mengajarkan ketenangan dan konsentrasi menata hidup. 


Ketika memilih hidup dalam kesendirian,bukan tak mampu menjalani kebersamaan. tapi ketakutan akan kehilangan adalah sebuah alasan. Hargailah kesendirian, syukurilah kebersamaan. Hidup tak sekecil pikiran kita. )

__ADS_1


Aiza menutup bukunya. Memasukkan kembali ke dalam tas. Langkahnya gontai menyusuri tepi sungai. Ia tidak tahu akan kemana melangkah. 


Matahari mulai masuk ke peraduan. Maghrib sebentar lagi tiba.


"Allahu Akbar Allahu Akbar..."


Sayup- sayup suara yang menyejukkan jiwa itu berkumandang, bersahut- sahutan.


Aiza mempercepat langkah kaki menuju ke sumber suara adzan. Semakin lama suara adzan semakin dekat. Suara adzan sudah selesai saat Aiza sudah sampai di depan masjid besar. Gadis itu bergegas menuju tempat wudhu. Lalu memasuki masjid untuk mengambil mukena dan segera mengenakannya. 


"Allahu Akbar!" Suara takbir yang diserukan imam menggema melalui mikrophone. Suaranya syahdu dan menenangkan hati pendengarnya.


Usai shalat, Pria yang baru saja menjadi imam shalat itu duduk menghadap jamaah, ia memberi tausiah singkat menjelang isya. Yang temanya saat itu tentang mulianya kedua orang tua.


"Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak nilai berharga yang telah dilupakan. Padahal Islam mengajarkan selalu menghormati dan mentaati orang tua," ucap si pria berkulit putih itu untuk menyampaikan tausiahnya. "Allah dan Rasulullah telah memberi nasihat dan ajaran tentang pentingnya berbakti kepada orang tua. Itu bukan kata saya, tapi kata Al Qur'an. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 23, Allah menerangkan berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban bagi setiap Muslim setelah tauhid, yang arti suratnya menyebutkan, Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaan mu, maka sekali- kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."

__ADS_1


Pria itu menghela napas untuk mengambil udara. Lalu ia melanjutkan. "Betapa pentingnya menghormati kedua orang tua. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah menyebut 'ibu' tiga kali sebagai orang pertama yang harus dihormati. Baru yang keempat kali adalah ayah."


Pandangan pria itu mengedar. Menatap wajah- wajah jemaah pria yang duduk di barisan depan. Pandangannya tak sekali pun ke arah jemaah wanita yang duduk di barisan belakang.


"Salah satu hadits Rasulullah menyebut berbakti kepada orang tua sama seperti jihad. Diriwayatkan Muslim, Abdullah bin Umar mengatakan ada seorang pria datang kepada Rasulullah. Dia meminta izin untuk pergi jihad. Lalu Rasulullah bertanya, Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Pria itu menjawab 'Ya.' Kemudian Rasulullah bersabda, 'Maka kepada keduanya itulah kamu berjihad.'"


Senyum terurai di wajah pria itu.


"Ini simple, namun sulit. Dalam hadits Rasulullah, beliay memperingatkan kerugian bagi mereka yang tidak berbakti kepada orang tua selagi mereka hidup. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, 'Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk surga,'.  Selain merugi, mereka yang durhaka kepada orang tua akan mendapat dosa besar. 


Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya, 'Maukah aku memberitahumu tentang dosa terbesar?' Mereka menjawab, 'Ya Rasulullah.' Kemudian Rasulullah bersabda, 'Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.'"


Aiza termenung. Bukan karena menyesali perbuatannya yang telah melawan abahnya, tapi karena teringat uminya.


Bagi Aiza, uminya adalah segalanya. Dan ia hanya akan menyesal saat ia melukai uminya. Sepertinya inilah saatnya ia menyesal, sebab ia memang telah menjadi penyebab uminya terluka. 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2