
Malam itu, Aiza mengajar mengaji anak- anak.
“…. Fadkhulii fii ‘ibaadii, wadkhulii jannatii.” Aiza membacakan surat Al Fajr dan diikuti oleh anak-anak yang duduk berbaris rapi di hadapannya. Kemudian anak-anak itu mengikuti apa yang dibacakan Aiza dengan serentak sesuai irama yang diajarkan Aiza.
Setiap kali sesudah belajar mengaji, anak-anak diajarkan menghafal Al Qur’an. Dan itulah cara Aiza mengajarkan anak-anak yang mayoritas usianya masih kecil, antara tiga sampai sembilan tahun.
Guru yang mengajar selalu berganti-gantian. Siapa yang sempat mengajar, maka akan duduk di meja guru untuk mengajar mengaji. Terkadang Babenya Aiza, terkadang Enyaknya Aiza, sesekali Kakaknya Aiza, paling sering Aiza sendiri.
Awalnya, yang menjadi guru ngaji adalah Ayahnya Aiza, tapi karena Ayah Aiza terlalu sibuk dengan pekerjaan ditambah urusan istri- istrinya, maka pekerjaan itu beralih kepada Ibunya Aiza.
Dan sekarang Ibunya Aiza disibukkan dengan kegiatannya berjualan kue, Ibu Aiza tidak lagi memiliki waktu untuk mengajar mengaji. Hingga akhirnya pekerjaan mulia itu turun kepada Aiza.
Jika dulu Ayah dan Ibunya Aiza hanya mengajarkan mengaji saja, tapi Aiza memiliki kekreatifan untuk mengajar hafalan Al Qur’an juga. Beginilah setiap malam, rumah Aiza ramai oleh anak-anak mengaji. Aiza memiliki ruangan khusus untuk mengajar mengaji, yang posisinya paling ujung dekat dengan kolam samping rumah.
Selepas mengaji, anak-anak itu akan menyusun meja-meja kecil tempat mereka belajar dan menyusunnya ke tepi. Aiza pun menutup ruangan mengaji dan berjalan menuju kamar.
Sebelum sampai kamar, ia melewati ruangan keluarga. Di sana ada ibunya dan Zahra, Kakaknya yang terlihat sedang sibuk menyusun kue ke dalam kotak.
Pasti pesanan kue lagi. Dan itu membuat Ibu Aiza tidak bisa istirahat demi memenuhi permintaan pelanggan. Tapi tidak apa bekerja keras mencari nafkah dengan cara itu, dari pada harus meminta-minta pada ayah. Karena memang semenjak ayahnya menikahi banyak perempuan, Ibu jarang menerima nafkah dari Ayah.
Lihatlah, Ibu bekerja sendiri demi memenuhi kebutuhannya, juga kebutuhan anak-anaknya.
“Pesenan kue lagi, Umi?” tanya Aiza sembari menghampiri Ibunya. Aiza lebih suka memanggil Ibunya Umi meski ibunya itu adalah keturunan Betawi asli. Sedangkan ayahnya dipanggil dengan sebutan abah sesuai permintaannya sebab abahnya memang Banjar asli,.
“Iya, sayang.” Pandangan Ibunya fokus ke kue tanpa beralih ke wajah Aiza yang tersenyum sangat manis, andai Ibunya melihat senyum itu, pasti lelahnya akan sedikit berkurang.
“Sini biar Aiza bantuin.”
__ADS_1
“Nggak usah. Kamu belajar aja sana. Dari tadi udah ngajar ngaji, belum belajar, kan?” sergah Zahra.
“Yeee… Kak Zahra mau menang sendiri iiih… Amal tuh dibagi-bagi. Jangan diambil sendirian. Kasian adekmu yang paling cantik ini nggak kebagian amal ngebantuin Enyak, kan?”
“Kasian kamunya, dek. Sampe jam segini belom sempet belajar. Udah sana belajar ke kamar!”
Qanita, Ibunya Aiza hanya tersenyum melihat interaksi kedua putrinya. Ia senang karena dua anaknya tidak pernah bertengkar seperti anak-anak orang lain.
“Uluuu uluuuh… Perhatian banget sih Kakak Aiza yang paling bohai sekecamatan ini? idung Aiza kembang kempis jadinya nih.”
“Awas, hati-hati rontok isi dalem idungnya, dek.”
“Kakak bisa aja.” Aiza tertawa. “Kak, itu udah pakai daleman belom?” Aiza menunjuk rok Zahra yang sedang berjongkok dekat kue.
“Udah.” Zahra spontan memegangi roknya.
“Ooh… Kirain belom. Takutnya hawanya nyampe ke kue, kan nggak enak. Hihiiii…”
“Ya udah, Aiza ke kamar ngerjain Pe er. Jangan manggil-manggil, apa lagi ngegangguin. Kalau tuan terhormat yang paling dihormati datang, jangan panggil Aiza.” Aiza berlari memasuki kamar.
Zahra geleng-geleng kepala, yang dimaksud Tuan Terhormat yang paling dihormati itu pastinya ayah mereka.
Aiza menarik kursi dan duduk di meja belajar, ia menyalakan lampu meja lalu mulai membuka PR.
“Hah?” Aiza mangap lebar saat sadar tidak menemukan buku milik Nayla yang seharusnya ia salin malam itu untuk diserahkan besok pagi. Efek terlalu banyak jadwal ekstrakurikuler, ia ketinggalan pelajaran dan mesti menyalin tugas dari buku Nayla. Tapi kalau sudah begini, apa jadinya?
Gawat! Bisa diperepetin Nayla kalau bukunya hilang. Tuh anak kalau ngomel panjangnya nggak keukur. Kira-kira bukunya jatoh dimana? Aiza memutar mata mengingat-ingat serentetan kejadian sesaat setelah buku itu ia terima. Telapak tangannya kini sudah menempel di jidat dengan mulut membentuk O.
__ADS_1
“Ups, ya ampooon… bukunya jatoh pas di tempat anak-anak songong itu. Trus sekarang gimana, dong?”
Aiza entah bicara dengan siapa. Ia kini kebingungan.
Aiza berlari secepat kilat keluar kamar dan menghampiri Zahra yang sudah selesai membantu Qanita menyusun kue.
“Kaaaaak…!”
“Apaan? Mangap jangan lebar-lebar, masuk curut entar bingung.”
Aiza spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Kak, gawat ini.”
“Gawat kenapa? Ngomong yang jelas.”
“Aiza pinjem buku Nayla buat nyalin catetan yang mesti dikumpulin besok. Mana PR-nya jam pertama lagi. Tapi bukunya malah jatoh di dekat SMA Garuda.”
“Ya ampun dek, kamu gimana sih buku bisa jatoh? Bukannya dimasukin ke tas. Emang gimana ceritanya bisa jatoh?”
“Panjang ceritanya, Kak. Gimana dong ini?” Aiza mengguncang-guncang lengan Zahra. “Nayla kan jadi korban juga kalau sampai bukunya nggak ketemu.”
“Aduduuduhhh… Kamu goncang-goncang lengan kakak, sakit tauk.”
“Ya habisnya Kakak diem aja dari tadi kayak patung liberti.”
***
__ADS_1
Bersambung
Yuk kalau mau cepet ke bab dimana Aiza dan Akhmar menjadi pasangan yang halal, dan bagaimana menuju kehalalannya, bantu ajakin temen temen baca ya, boleh share di grup fb untuk ajakin temen.. 😘😁