Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
112. Bukan Jahanam


__ADS_3

"Papa terpukul atas kepergian mu. Dia papamu, Mar. Dia yang mengurus mu, membesarkan mu, dan mengorbankan hidupnya hanya untukmu. Amarah papa semata- mata hanya ingin mendidik mu. Dia mencintaimu, menyayangimu, Mar." Suara Aldan tercekat, hampir seperti bisikan. "Kamu nggak akan pernah mengerti sebelum kamu menempati posisi seperti papa, dimana usianya sudah tua dan memiliki anak. Berat, Akhmar."


Hening.


Hanya terdengar suara napas Aldan yang menderu keras.


"Andai saja ini adalah napas terakhir papa, akankah kamu masih nggak mau minta maaf pada papa?"


"Mas, jangan berkata begitu! Papa masih akan bertahan." Jantung Akhmar seperti disengat mendengar kematian.


Hampir setengah jam mereka menunggu dan menikmati rasa frustasi. 


Sejurus pandangan tertuju ke arah pintu yang terbuka. Dokter menyembul keluar.


"Dok, bagaimana papa saya?" tanya Aldan dengan suara gemetar.


"Kondisinya kritis. terjadi penyempitan pembuluh darah di area jantung. Akan kami atasi dengan segera. Doakan yang terbaik." Dokter meminta supaya pasien dipindahkan ke ruang operasi.


Tak lama para suster mendorong bed yang diatasnya terdapat tubuh Adam yang lemas dan tak sadarkan diri.


Akhmar dan Aldan mengikuti bed hingga berhenti di depan ruang operasi.

__ADS_1


Mereka kembali menunggu hingga beberapa jam lamanya.


Rasa cemas dan resah mengaduk- aduk hati. Gelisah tak menentu.


Tepat pukul tiga dini hari, dokter mengatakan bahwa operasi sudah berjalan sesuai prosedur. 


Akhmar memasuki ruang rawat dimana Adam dirawat. Sudah beberapa jam Adam memasuki ruang rawat, dan hanya Aldan yang menunggui di sana. Sedangkan Akhmar sejak tadi menunggu di luar.  Ia mengumpulkan nyali untuk bisa memasuki ruangan itu.


Dalam posisi terbujur di atas bed, Adam terpejam.


Akhmar melangkah mendekati bed itu. Hatinya kebas menatap wajah papanya yang pucat. Mata Adam akhirnya terbuka.


Aldan langsung menghambur mendekati Adam dan mengucap sederet kalimat hamdallah. Matanya sampai berkaca- kaca.


Saat itulah pandangan mata Adam dan Akhmar bertemu.


Hati Akhmar seperti tersengat merasakan tatapan mata Adam yang terasa menusuk sampai ke jantung.


Pelan, tangan Akhmar terjulur dan meraih tangan Adam. Ia bersimpuh, mencium tangan itu. 


Bukan hanya hati Akhmar saja yang terpukul saat melihat papanya seperti hendak direnggut oleh maut, tapi juga batinnya seperti terkoyak.

__ADS_1


"Papa!" Akhmar menciumi wajah sang Papa tanpa henti.  “Inilah anakmu yang Jahanam, yang baru menyadari betapa hebatnya seorang papa.  Dan yang baru meminta maaf setelah terlambat.”


Suara Akhmar lebih seperti bisikan dan serak.


Beberapa detik Adam terdiam, membiarkan Akhmar larut dalam penyesalan sambil menciumi keningnya.


"Akhmar!" Suara Adam akhirnya meluncur keluar juga. "Kau tidak terlambat. Kau bukan jahanam." Adam tercekat. Ia mengangkat satu tangannya dan memegang pucuk kepala Akhmar. 


Akhmar memejamkan mata sambil mencium punggung tangan papanya. Ia ternyata masih memiliki kesempatan untuk bisa meminta maaf. 


"Kemarilah! Dekat dengan papa!" Adam menatap Akhmar yang menunduk di dekat punggung tangannya.


Yang ditatap menegakkan punggung dan mendekatkan wajahnya ke wajah sang papa.


Adam mengangkat kedua tangannya meski kesulitan karena salah satunya ditempeli infus. Ia memeluk erat tubuh Akhmar dan menangis sesenggukan.


"Kau bukan jahanam. Kau putraku!" Tangis Adam benar- benar pecah.


Aldan mengusap cairan yang sejak tadi meleleh dari sudut matanya menyaksikan pemandangan itu. Kalimat hamdallah terus mengalir di hatinya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2