Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
59. Menakutkan dan Menyeramkan


__ADS_3

Akhmar memasukkan motor baru yang dibelikan Adnan. Motor itu membuktikan betapa besar perjuangan Adnan untuk membuat roda kehidupannya tetap berjalan semestinya. Adnan pasti sangat ingin melihat Akhmar menjadi orang baik.


Akhmar menggelengkan kepala, tak ingin berperang dengan pikirannya sendiri. Ia pun melempar tubuh ke kasur leseh. 


Baru satu menit berbaring di ruangan sempit itu, tubuh Akhmar sudah langsung keringatan.  Ia melepas kaosnya dan melempar ke sembarang arah.  Dadanya yang bidang terekspos dengan peluh menetes di kulit lehernya yang kokoh, mengalir sampai ke dada bidangnya.


Pengap sekali kontrakan itu. Kontrakan kecil yang mungkin bisa membunuhnya secara perlahan. Ia tidak terbiasa berada di ruangan seperti itu. Tapi ia bukan manusia lemah, ia mudah beradaptasi. Hanya saja, ia butuh waktu.


Pikiran Akhmar teringat Vito, yang dikabarkan sudah dalam keadaan tak bernyawa.  Lalu bagaimana nasib Sarah dan ibunya?  Mereka pasti sedang berduka.


Pikiran Akhmar beralih pada Adam, papanya itu tengah marah besar.  Sampai- sampai tidak mau mengakuinya sebagai anak.  Bahkan, kini papanya itu semakin membencinya.  


Sekian tahun lamanya Akhmar hidup di keluarga Adam, tanpa merasakan kasih sayang dan sentuhan lembut seorang ibu.  Dia tumbuh begitu liar.  


Dia tidak mendapat perhatian, hanya Aldan yang kerap memberikan perhatian.  Sejak Akhmar berusia sembilan tahun, ia juga jarang berkumpul bersama dengan papanya.  Sebab papanya itu mulai sibuk dengan pekerjaan yang membesarkan perusahaannya.  Papanya itu jarang ada di rumah.  Bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka bertemu dalam sebulan.  


Adam terlalu sibuk dengan rutinitasnya, sampai dia lupa bahwa ada hati yang perlu dididik.  Apakah Akhmar hanya butuh uang untuk hidup?  Tidak.  Dia juga butuh perhatian, namun itu tidak dia dapatkan.  


Memang, di usia sehari sampai Sembilan tahun, Adam berjuang banyak hal untuk kehidupan Akhmar.  Semua dilakukan oleh Adam sendirian tanpa seorang istri.  Bahkan mengurus Akhmar kecil pun sendirian, tanpa istri.  Adam menjadi ayah sekaligus ibu untuk Akhmar dan Aldan.


Sayangnya, mulai umur Sembilan tahun, saat Akhmar mengenal dunia tekhnologi, mengenal dunia digital, juga mengenal lingkungan yang semakin luas, ia tidak mendapat dampingan orang tua.  Sehingga beginilah jadinya.  Akhmar jauh lebih liar dari apa yang dipikirkan.  

__ADS_1


Beralih dari masa lalu, pikiran AKhmar kini tertuju pada Aiza.  Sudut bibirnya tertarik mengenang sosok Aiza.  Entah kenapa pelupuk matanya terbayang gadis itu, gadis aneh yang membuatnya takluk.  Menyebalkan namun bikin penasaran.


Benarkah ia menyukai Aiza?


Bahkan sampai detik ini Akhmar masih sangat ingin menemui Aiza dengan modus ingin belajar mengaji.  Padahal Akhmar gedeg sekali pada gadis itu, tapi juga penasaran.


Mata Akhmar yang lelah itu entah sejak kapan sudah dalam keadaan terpejam.


"Mar, bangun!" 


"Mar, bangun! Woi!"


"Buset nih anak tidurnya ngebo gini. Bangun woi!" Ibu kos berbadan gemuk yang rambutnya keriting itu menendang kaki Akhmar dengan kuat. "Lu enak aja beli motor baru. Noh, gue liat ada motor baru di ruang depan. Tapi kontrakan kagak lu bayar- bayar. Ini idah lewat lima hari. Cepetan bayar!"


Terkejut, ibu kos menyentuh nadi di pergelangan tangan Akhmar.


"Bujugile.. Ya Allah, udah koit." Ibu kos berlari menghambur keluar. Berteriak sekuat- kuatnya mengabarkan kepada para tetangga bahwa nak kontrakannya ada yang meninggal.


Orang- orang pun berduyun- duyun mendatangi kontrakan yang ditempati oleh Akhmar. 


"Ini meninggal kenapa,Bu Marni?" tanya pria yang disebut tokoh agama dan disegani warga, sering dipanggil pak kyai. Penampilannya yang rapi dan alim membuatnya tampak sopan.

__ADS_1


"Nggak tau juga itu kenapa meninggal. Saya ke sini, dia udah nggak napas begitu."


Kyai itu mengecek nadi Akhmar, benar sudah tidak berdenyut lagi. Tubuhnya pun sudah dingin. Pak kyai meminta warga untuk mencari tahu keluarganya supaya segera dikabari. Namun tak satu pun yang tahu siapa keluarga Akhmar. 


Tak mau berlama- lama menunggu, karena pengurusan jenazah harus disegerakan, maka kyai meminta warga untuk segera memandikan jenazah. Tubuh Akhmar dibawa masuk ke tempat pemandian, dibaringkan, disiram, dan dibersihkan.


Setelah itu diletakkan di ruang tengah dengan tubuh dibalut kain kafan persis seperti pocong, hidung disumbat kapas. Dia sudah benar- benar tak bernapas. Lalu dishalatkan. Diangkat dan dimasukkan ke keranda. Orang- orang melafazkan kalimat tahlil 'Laa illa haa ilallah'.


 Liang lahat sudah menunggu, tubuh Akhmar dimasukkan ke liang lahat. Ditimbun tanah. Dan saat tanah pertama menimbun dan mengenai wajahnya, saat itulah Akhmar terjaga dari mimpi.


"Hah?" Akhmar berteriak sekuat mungkin. Napasnya ngos- ngosan. Keringat dingin membasuh tubuhnya. Ia terduduk. Tangannya menampar pipinya sendiri. Dan ternyata masih sakit. Artinya ia kini berada di alam nyata dan belum mati.


Mimpi tadi? Sungguh sangat menyeramkan. Menakutkan. 


Bayangan mencekam saat ia dimandikan dan dibungkus kain kafan terus terbayang di benaknya, kulitnya meremang. Menghadapi kematian ternyata lebih menakutkan dari apa pun. Belum ada sedikit pun amal, belum ada persiapan apa pun, dan kematian seperti ada di depan mata. Akhmar masih ingat bahwa perasaan di dalam mimpi itu seperti nyata dan sangat mencekam. 


Akhmar bangkit berdiri menuju kamar mandi, mencuci wajah. Mengatur napasnya yang tersengal untuk sejenak.  Setelah napas itu kembali normal, ia kembali ke kamar untuk menjemput bantal. 


Bantal itu dia lempar ke lantai ruangan tengah, kemudian berbaring di sana. Tak ingin mimpi itu terulang lagi, ia memilih tidur di ruang tengah. 


Bayangan di mimpi masih mengganggu. Ia kesulitan tidur. Akhirnya malah melakukan hafalan. Memutar murotal untuk menghafal ayat.

__ADS_1


***


BERSAMBUNG


__ADS_2