
“Mar, kamu pingsan?” Aiza makin bingung. Andai saja Akhmar terjatuh dan terguling, pasti tubuhnya makin bonyok lagi.
Aiza menoleh ke kanan kiri, siapa tahu ada mobil umum yang sekiranya bisa membawa tubuh Akhmar, namun tidak ada kendaraan umum di sekitarnya, terpaksa ia melajukan kendaraan itu secepat mungkin supaya cepat sampai.
Aiza memegangi salah satu tangan Akhmar supaya tubuh itu tidak terjatuh, mempertahankan posisi itu dengan maksimal.
Sesampainya di rumah sakit, Aiza berteriak meminta tolong supaya tubuh Akhmar dibawa ke dalam. Seorang satpam membantu mengangkat tubuh Akhmar dan dibantu oleh beberapa perawat yang menyusul keluar dan memindahkan tubuh Akhmar ke bed.
Mereka mendorong tubuh itu masuk ke UGD.
Aiza panik. Berdiri di depan pintu UGD sambil hilir mudik, ia terus berdoa, berharap Akhmar akan baik- baik saja. Kalau saja terjadi hal buruk terhadap AKhmar, Aiza pasti akan menyesal seumur hidupnya. Gara- gara dia, Akhmar jadi begini. Entah siapa yang salah, tapi yang jelas itu adalah kecelakaan.
Aiza mendorong pintu UGD dan masuk. Ada beberapa tirai pembatas yang di dalamnya terdapat beberapa pasien yang berbeda- beda. Masing- masing tengah ditangani dokter. Aiza tidak tahu Akhmar berada di tirai bagian mana.
“Mbak, pasien yang baru aja masuk dimana ya?” tanya Aiza pada perawat yang duduk di kursi sambil mencatat.
“Mbak ini keluarganya ya?”
Aiza agak bingung harus menjawab apa. Ingin menjawab teman, tapi bukan teman. Ingin menjawab bukan siapa- siapa, tapi takut dilarang masuk. Ingin menjawab saudaranya, berarti dia berbohong.
“Saya temannya.” Akhirnya itulah jawaban yang dia lontarkan. “Dimana orangnya ya Mbak?”
“Ini, Mbak!” Perawat menunjuk salah satu tirai.
“Makasih.” Aiza mendekati tirai yang ditunjuk tanpa membukanya.
Aiza mendengar suara perbincangan antara dokter dan Akhmar.
“Tidak ada yang berbahaya dari lukanya, Mas. Tidak ada patah tulang, tidak ada masalah di tubuh Anda. Hanya luka luar. Lututnya juga hanya luka luar. Ini sedang dijahit. Dan luka yang lain hanya memar saja.” Suara dokter terdengar sedang menjelaskan. “Anda terlihat terbiasa dengan luka begini ya?”
“Ya,” jawab Akhmar tenang.
__ADS_1
“Bukannya tadi saudara pingsan?”
“Enggak.”
Mata Aiza membulat, giginya menggemeletuk. Tangannya meremas bajunya sendiri.
Keterlaluan nih cowok! Niat banget ngeboongin!
Sepanjang jalan, padahal Aiza udah panik banget. Bahkan mengijinkan Akhmar berada di posisi mepet dengan punggungnya karena menganggap adanya unsur udzur. Tapi ternyata itu semua hanya modus.
Tak lama tirai dibuka, dokter menyembul keluar, pandangan mata Aiza pun bertemu dengan mata Akhmar.
Pria itu terkejut menatap Aiza yang sudah ada di sana dengan ekspresi kesal. Akhmar yakin Aiza mendengar pembicaraannya tadi.
Akhmar menaikkan alis seperti tanpa dosa.
Aiza memalingkan wajahnya, kemudian berlalu pergi, keluar dari ruangan UGD.
Resek banget tuh orang! Bisa- bisanya modus!
Aiza gedeg sekali. Dadanya pun terasa membara. Ya, Aiza paling benci dikibulin hanya karena alasan dimodusin.
Langkah Aiza terdengar gaduh, dia sentakkan kaki ke lantai dengan kuat. Ia melengos keluar melintasi pintu kaca, sampailah di pekarangan rumah sakit.
“Za!” Seseorang memanggil Aiza, suara dari arah belakang itu sangat dikenal oleh gadis itu. suara Akhmar.
Tiba tiba langkah Aiza terasa berat, bahkan ia sudah melangkah tapi tak bisa maju. Ada apa ini? Eh, ternyata tas punggungnya ditarik dari belakang, membuatnya tak bisa bergerak maju.
“Kmau mau meninggalkan aku?” tanya Akhmar.
Aiza menatap sinis wajah Akhmar yang kini berdiri di sisinya.
__ADS_1
“Aku khilaf!” Akhmar terlihat sangat tenang, bahkanmukanya datar sekali.
“Kamu tuh kelewatan tau nggak?” hardik Aiza.
“Iya, aku tau.”
“Trus kenapa dilakuin?”
“Maaf.” Akhmar tak mau membuat Aiza semakin kesal.
“Aku paling nggak suka sama cowok yang mesum. Sebenernya kamu pun tau kan kalau dalam ajaran kita jelas dilarang laki- laki dan perempuan yang bukan mahrom saling senggol apa lagi posisi mepet kayak tadi. Dan kamu ngelakuin itu Cuma mau bersenang- senang doang. Gila kamu!” Aiza melewati Akhmar, lagi- lagi ia tidak bisa maju karena tertahan, tas punggungnya ditarik oleh Akhmar.
“Aku pulangnya gimana?” Akhmar masih tampak tenang dan rileks.
“Ya naik motormu lah.”
“Kakiku baru saja dijahit, aku nggak bisa mainin gigi motor karena bagian jari- jari kaki juga sakit.”
“Apa urusannya sama aku? Kamu kan bisa kreatif dikit, telepon temen kamu suruh ke sini buat jemput kamu. Apa susahnya? Bukannya kamu punya banyak temen?” sinis Aiza.
Akhmar langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan benda pipih itu retak. Tak bisa nyala saat Akhmar menekan tombol power.
“Bahkan aku nggak bisa menghubungi teman- temanku, semua nomer hape temanku ada di sini,” ucap Akhmar. “Kamu tega ngeliat aku kesusahan begini?”
“Ya udah naik taksi atau apalah gitu.”
“Trus motorku gimana?” Akhmar melirik kendaraannya yang diparkir di parkiran.
“Biar aku yang bawa.”
Akhmar tersenyum tipis. Ia sangat paham kalau gadis di hadapannya itu memang anti lengket sama laki- laki. Akhmar tadi sebenarnya sudah berhasil mengelabui Aiza jika saja gadis itu tidak menguping pembicaraannya. Sayangnya semua menjadi kacau akibat kejadian yang tak diduga- duga.
__ADS_1
Bersambung
Klik like yups