Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
51. Teriakan


__ADS_3

Setelah itu, Aiza mandi dan menuju ke tempat yang disediakan untuk mengajar mengaji.  Selama kurang lebih satu setengah jam, Aiza menyelesaikan tugasnya mengajar ngaji.  


Ia lalu menyusun meja khusus untuk mengaji ke sudut ruangan luas.  Tepat saat itu Adnan datang. Tetangganya itu berdiri di pintu mengawasi kelincahan Aiza.


"Eh, Adnan. Ada apa ke sini?" tanya Aiza saat mendapati tetangganya itu di ambang pintu. Senyumnya tampil dengan sempurna hingga lesung pipitnya terlihat dan matanya yang indah pun menyipit.


Pria berkaca mata itu hanya mengangkat alis, menunggu Aiza hingga menyelesaikan kesibukannya yang merapikan ruangan. Aiza berjalan mendekati Adnan sambil merapikan jilbab, mengusap bagian atas dengan telapak tangan.


"Mau pinjam Al qur'an lagi?" tebak Aiza dengan suara yang selalu terdengar ceria.


"Enggak." 


Aiza melangkah keluar, berjalan menuju ke sisi rumah diikuti oleh Adnan. "Jadi ngapain?"


"Kamu masih menerima murid baru nggak?"


"Murid ngaji?"


"Iya." Adnan mengangguk. "Murid mu kan udah banyak banget. Kalau semisal ada yang datang buat daftar ngaji, kamu masih terima nggak?" Adnan menoleh ke wajah Aiza yang menggemaskan pipinya cubi dan matanya bulat seperti boneka. Uluh uluh... Anak siapa sih bisa semenggemaskan itu? 


"Masihlah. Siapa emangnya?" Aiza duduk di kursi samping rumah ya, yang di depannya terdapat taman luas dengan berbagai macam tanaman hias, menyejukkan mata.


Adnan tersenyum tipis.  Ia ikut duduk di kursi sisi Aiza.


"Kali ini muridnya udah gede," jawab Adnan.


"Kamu?" Aiza langsung terkekeh. Tawanya renyah sekali. 


Adnan hanya terpaku menatap tawa renyah Aiza. 

__ADS_1


"Kamu kan udah top banget ngajinya. Malahan udah bisa jadi guru ngaji. Tajwidnya bagus, harokatnya tepat, dan semuanya udah pas. He heee... Trus kalau bukan kamu, siapa?" tanya Aiza yang enak sekali main tebak- tebakan.  “Umurnya udah lima belasan tahun, gitu?" tanya Aiza.


"Lebih gede dari kamu."


"Itu mah bukan gede namanya, tapi tua." Lagi- lagi Aiza tergelak. "Tapi kan yang namanya menuntut ilmu itu nggak terbatas usia. Menuntut ilmu itu sampai mati. Nggak ada istilahnya terlambat mencari ilmu. So, suruh aja orang itu ke sini buat belajar ngaji. Kakek kakek pun tetep bisa ngaji di sini kok."


"Kupikir kamu hanya akan menerima murid usia dua belas tahun ke bawah. Soalnya kan murid- murid kamu di sini mayoritas kecil-kecil semua."


"Oh. Emang sih murid di sini paling tua umurnya dua belas tahun. Itu pun dia udah mau khatam. Intinya aku nggak membatasi usia kok. Suruh aja dia belajar ngaji di sini." Aiza bersemangat. 


“Sebenarnya aku Cuma mau bilang kalau orang yang dimaksud itu adalah aku.”  Adnan lalu tertawa.


“Tuh kan bener, kamu Cuma nge prank doang.  Kamu mah nggak usah belajar ngaji lagi.  tapi kan emang udah bisa mengaji.”


“Aku sebenarnya mau bilang supaya kamu lebih berhati- hati aja sama Akhmar.  Dia kan preman tuh.  Bahaya kalau kenal dekat sama laki- laki yang begitu.  Pergaulannya nggak bagus!”


Aiza mengangkat alis.  “Ohh… santai aja.  Aku kan nggak dekat sama dia.”


“Yoi.”  Aiza mengangguk.  Gadis lincah itu beranjak dari tempat duduknya.  Ia hendak masuk ke rumah melalui pintu samping tempat dimana anak- anak keluar masuk saat hendak mengaji, namun urung.  Pandangannya menemukan sapu tangan yang digantung didekat patung taman.  


Oh ya ampun, Aiza lupa, ia menjemur sapu tangannya itu tadi sore, sekarang sampai sudah malam begini belum diangkat.


Aiza melangkah menuju ke tengah- tengah taman dan mengambil sapu tangan itu.  Lampu taman yang berbentuk bulat, menempel di atas tiang taman itu menerangi halaman luas.


Kresek.


“Eh, apa itu?”  Aiza terkejut mendengar suara aneh yang bersumber dari belakangnya.  Jantung Aiza deg- degan, melihat bunga yang bergerak- gerak di dekat pagar.  Artinya ada sesuatu yang bersembunyi di sana tadi.    Tapi apa?  babi?  Anjing?  Atau… maling?


Aiza mendekati pagar, mengawasi dengan seksama area di sekitar bunga yang ada di luar pagar.  Agak gelap.  Hanya diterangi oleh lampu- lampu yang agak jauh sehingga suasana remang- remang.

__ADS_1


Aiza balik badan.


“Hah?” kejut Aiza menatap sosok yang sudah berdiri di hadapannya kini.  “Maling!” Aiza histeris.  


Sosok yang tak lain adalah Akhmar itu terkejut karena diteriaki maling.  Ia sontak mendekat dan mendekap Aiza, satu lengannya melingkar di tubuh Aiza, sedangkan tangan lainnya menutup mulut gadis itu.  Tanpa sadar posisinya seperti sedang memeluk Aiza.


Aiza tak berkutik.  Posisi itu membuatnya menjadi pepet maksimal.  Ia hanya bisa menjejak- jejakkan kakinya, serta matanya membelalak lebar.  Memberontak dengan sekuat tenaga.  Tapi bagaimana mungkin ia bisa melawan tenaga Akhmar yang kokoh dan kekar itu?


Akhmar sebenarnya tidak bermaksud ingin memeluk Aiza.  Dia hanya kepepet dan takut diteriaki maling.  Masak sudah empat kali ia diteriaki maling terus?  Nggak lucu.  


Mata Akhmar menatap wajah Aiza dari jarak sangat dekat dengan tatapan penuh ancaman, berharap Aiza tak lagi berteriak.  Sungguh agung ciptaan Yang Maha Dahsyat, karunia Tuhan telah menciptakan wajah secantik Aiza.  Pahatan itu tak terlukis dengan kata- kata.  Bahkan pemahat terhebat sedunia pun tak akan mampu menciptakan wajah seindah itu.


"Jangan teriak!" bisik Akhmar.


Pria itu lalu melepaskan tangannya dari mulut Aiza karena tak ingin membuat gadis cantik itu merasa tersiksa.  Gadis itu sudah tidak lagi menjejakkan kakinya.  Ia diam menatap Akhmar masih dengan mata membelalak.


“Aaaaa….”  Aiza kembali menjerit.


Sontak Akhmar kembali membekap mulut Aiza supaya mingkem.  Ia mengira Aiza sudah tenang dan tidak akan berteriak lagi, tapi malah teriakannya semakin kencang.


Terdengar langkah kaki berlari menuju ke arah mereka.  Akhmar langsung menggeret Aiza menyelinap ke balik dinding, bersembunyi di sana.  


Ketika Zahra yang baru saja pulang dari kampus itu muncul dan celingukan di taman samping rumah, ia tidak melihat apa- apa.


“Padahal ada suara teriakan Aiza tadi dari sini.  Kemana dia?” Zahra bicara sendiri.  kemudian ia berteriak memanggil, “Zaaa… Aizaaaa!”


Tak ada jawaban, Zahra mengernyit.


Bersambung

__ADS_1


Sabar yah, Emma mesti ulang adegan yg dulu pernah posting di sono karena pembaca baru pasti akan bingung kalau tiba- tiba adegannya melompat. oke? tetap ikuti


__ADS_2