
Aiza melangkah keluar dengan tertatih, memasuki ruangan luas yang lebih mirip seperti aula. Merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Pipinya baret dan muncul bercak darah, siku bajunya robek dan memperlihatkan darah, lututnya juga berdarah, paha dan pinggangnya nyeri.
Tetap berada di dalam ruangan sempit tempatnya bersembunyi tadi juga percuma, lebih baik ia keluar. Tatapan Aiza mengedar pada empat pria yang berdiri dengan wajah- wajah sangar dan penuh kemenangan.
“Apa yang kalian inginkan dariku?” Suara Aiza lantang, menatap tajam ke sekeliling.
“Apa lagi kalau bukan keperawanan? Ck ck ck… kau cantik sekali!” Salah seorang pria menatap dnegan mata jelalatan.
Wajah putih Aiza membuat pria itu membayangkan seluruh tubuh yang juga putih dan kenyal.
“Demi Allah, kalian hanya akan mendapat azab setelah perilaku terkutuk ini.” Suara Aiza tercekat.
Empat pria itu terdiam. Bertukar pandang.
“Hei, kenapa bengong? Buruan pegang dia! dikasih barang bagus begini kok malah pada melempem?” hardik salah seorang yang sejak tadi bicara.
Tiga anak buahnya diam saja, malah hanya bertukar pandang tanpa melakukan apa pun.
“Kenapa kalian diam?” hardik si bos lagi.
Salah seorang anak buah melangkah maju mendekati Aiza, namun tak ada yang dilakukan pria itu saat sudah berada di dekat Aiza. Hanya diam saja.
“Kenapa lo bengong?” bentak si bos.
__ADS_1
Yang dibentak hanya menggaruk kepalanya. Ia enggan menyentuh Aiza, yang diyakini bahwa gadis berkerudung itu selalu terjaga. berat rasanya menyentuh gadis berkerudung yang kehormatannya selalu terjaga, alangkah buruk saat ia harus merusak sesuatu yang selama ini dijaga baik- baik.
“Gobl*k! malah bengong lagi!” si bos mendekati anak buahnya dan memukul keras kepala anak buahnya itu. “Lo dibayar bukan untuk bengong. Lo disuruh ngebantuin gue supaya gue bisa nyicipin cewek bening itu! bod*h!”
Anak buah yang dipukuli hanya menunduk diam. Dua anak buah lainnya berusaha meredam kekesalan bosnya.
Aiza menggunakan kesempatan itu untuk berjalan keluar secara diam- diam. Hingga para begudal itu tanpa sadar telah kehilangan Aiza.
Langkah Aiza tertatih hingga sampai ke jalan aspal.
“Woi, itu dia kabur! Sial!” Para pria begudal itu berhamburan keluar dari gedung dan mengejar Aiza.
Sekujur tubuh Aiza rasanya sakit semua. Kakinya ngilu semakin parah.
Bruk!
Pandangan Aiza mulai kabur. Tangannya melambai pada motor yang bergerak menuju ke arahnya. Detik berikutnya gelap.
***
Akhmar menginjak rem dan langsung melompat turun dari motor saat melihat pemandangan mengejutkan dengan raut panik.
“Aiza!” panggilnya sambil meraih tubuh yang tergeletak di pinggir jalan. Ia memegang pergelangan tangan Aiza.
__ADS_1
Oh.. masih hidup. Akhmar lega.
Pandangannya kemudian tertuju ke arah beberapa pria yang naik ke motor dan berhamburan pergi. Suara ramainya deru motor memekakkan telinga.
“Woi!” teriak Akhmar menatap marah pada papa pria itu, namun mereka tak mengabaikan teriakan Akhmar.
Akhmar sebenarnya ingin mengejar para pria yang dia yakini menjadi penyebab pingsannya Aiza di pinggir jalan dengan kondisi terluka, namu nyawa Aiza jauh lebih penting dari pada harus mengejar begudalan itu.
Tanpa peduli dan berpikir panjang, Akhmar langsung mengangkat tubuh itu.
***
Akhmar membuka- buka tas milik Aiza, mencari hape. Ia menemukan benda itu. sebuah tulisan bergerak menjadi wallpaper. Akhmar membaca tulisan itu.
.
Terlalu lama kau abaikan aku hingga aku terbiasa dengan sepi dan mulai akrab dengan kesendirian.
.
Akhmar merasa tersindir. Kalau memang disindir, bukankah ia baru sebentar mengabaikan Aiza, lalu kenapa kalimatnya seperti itu? Apakah itu artinya Aiza merasa sudah terlalu lama diabaikan? Semenit rasa setahun?
Akhmar membuang napas. Ia berada di rumah sakit sekarang. Aiza masih terbaring di kamar.
__ADS_1
Kata dokter, pergelangan kaki Aiza terkilir, mengalami sedikit retak tulang di pinggang, ada memar di paha, luka luar di bagian lutut dan siku tangan. Sekarang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Bersambung