Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
27. Sutil


__ADS_3

( ‘Untuk mendapatkan keindahan surga itu, seharusnya manusia berlomba’ (QS. Al-Muthaffifin : 26) )


*** 


“Ngapain tuh emak-emak bawa-bawa peralatan tempur kesini?” tanya Enyong yang terlihat santai meski si Ibu itu sudah menampilkan ekspresi galak.


“Tauk.  Mau ngegoreng upil elu kali.”  Atep menimpali.


“Hahahaaaa…”


Gemuruh tawa Atep dan Enyong membuat kemarahan Ibu berambut keriting semakin memuncak.  


“Sini kalian!  Biar gua ketok kepala kalian pake ini.”  Ibu itu mengangkat sutilnya.


Akhmar dan kedua temannya kembali bertukar pandang melihat si Ibu semakin mendekat.


“Percayalah kita nggak bakalan bisa melawan kekuatan super.  Ayo, kabur.”  Akhmar berucap dengan santai, kemudian melompat dari kursi dan lari.


Demikian juga dengan Atep dan Enyong yang langsung pada bubar, bertaburan lari tunggang langgang sambil terbahak-bahak


“Kabur kemana kalian?”  Jahanaaaam!” Ibu Jasmine sangat marah.


Atep dan Enyong kembali ke kampus.

__ADS_1


Sementara Akhmar salah arah, justru lari ke seberang jalan, berlawanan arah dengan kedua temannya.


Akhmar terus berlari dan bertabrakan dengan seseorang ketika berbelok ke sebuah gang.


“Shit!” pekik korban yang ditabrak.  


Akhmar menatap lawan tabrakannya, tak lain lelaki bertubuh kekar yang notabenenya disegani dan ditakuti seluruh manusia yang tinggal di komplek itu.  Yang wajahnya seram.  Namun Akhmar tidak takut pada pria itu.  Tak ada yang ditakuti Akhmar kecuali sambaran petir.  


Sejak dulu, Jampang adalah sosok yang disegani, maka ia pun mengikuti aturan itu sebagaimana umumnya. 


Dulunya Jampang adalah senior di sekolah Akhmar.  Jampang berhenti sekolah sesaat sebelum ujian kelulusan.   Saat itu, Akhmar masih kelas sepuluh.  Dan sekarang Jampang menjadi preman kawakan di komplek itu, Iya, Jampang dulunya adalah kakak kelas Akhmar.


“Ngapain lo kayak diuber setan gitu?” tanya Jampang.


“Nggak pa-pa,” jawab Akhmar, mustahil ia jujur mengatakan kalau ia diuber- uber emak- emak membawa sutil.  Akhmar menoleh ke belakang, ia lega melihat Ibunya si Jasmine sudah tidak kelihatan.


“Nah, kebetulan nih gue ketemu lo dimari.  Lo tau nggak hukuman buat orang yang berani nabrak- nabrak gue?”  Jampang merengkuh bahu Akhmar dan meangkulnya erat.


“Nggak tau.”  Akhmar menjawab datar.


“Sini lo!  Ikut gue!”  Jampang menggeret badan Akhmar.  Meremas bahu yang ia geret.


Yang digeret mengikuti kemana akan di bawa.  Akhmar sebenarnya bisa saja melawan Jampang, namun sisi kepatuhan dalam dirinya masih melekat.  Tak apalah membuat hati si Jampang senang hari ini, itung- itung biar hidungnya makin besar.

__ADS_1


Mereka berjalan menyusuri gang dan melewati beberapa perumahan.


Sialan!  Mau dibawa kemana ini gue?  Pikir Akhmar bertanya- tanya.  Namun ia malas banyak tanya.


Tak lama kemudian, mereka berhenti di dekat pagar samping sekolah Aliyah.  Akhmar berjinjit mengintip ke dalam pagar beton.  Seluruh siswi di sana mengenakan jilbab, siswa laki- lakinya mengenakan peci hitam.


Jampang menarik lengan Akhmar menuju ke pagar besi sepanjang dua meter yang bentuknya seperti sel hingga mereka bisa melihat ke dalam tanpa harus berjinjit.  


Kepala Jampang berputar- putar mencari-cari ke dalam pagar sana.  Ia mengangkat dagu saat menemukan yang ia cari.


“Noh, lo liat tuh cewek cantik yang disono itu.”  Jampang menunjuk gadis berseragam putih abu-abu yang duduk di bawah pohon rindang bersama dua temannya.


“Yang mana?”  Akhmar kebingungan.  Ada tiga cewek di sana.


“Yang paling pinggir.  Itu, tuh.  Yang pake gelang warna merah.”


“Ooh… Yang bodinya tinggi itu?”


“Lo jangan malah menilai-nilai gitu.  Bisa cemburu gue.”


 “Itu pacar Abang?”


“Bukan.  Namanya Meta.  Gue sakit hati sama tuh cewek.  Berani- beraninya dia nolak cinta gue.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2