
Ya, Aiza baru ingat bahwa ia pernah bertemu dengan Aldan sebelumnya, tak lain pria yang ia panggil dengan sebutan ustad muda Aiza bahkan pernah menjadi makmum Aldan saat shalat.
"Eih eih... Sudah, jangan lama- lama saling lihat. Nanti imannya tergoda." Salah seorang menyeletuk.
"Anak muda mah cepat nyamber ke dalam sono meski cuma mata yang melihat."
Mereka saling sahut. Lalu terdengar gemuruh tawa.
Aiza menunduk, beringsut mundur. Lalu berpamitan hendak ke belakang.
Aldan? Jadi pria yang dijodohkan dengan Zahra adalah Aldan?
Aiza masuk ke kamar. Butuh waktu untuk sendiri. Ia bahkan masih menyendiri di kamar dengan segudang pemikiran di kepala saat para tamu sudah pergi.
***
Entah bagaimana kabar Akhmar sekarang. Aiza penasaran. Ingin menghubungi Akhmar dan mengabari kalau dia sudha kembali. Tapi apa gunanya? Toh sekarang ia malah terjebak di situasi rumit begini.
Setidaknya Aiza mengatakan seluruh kejadian yang menimpanya, membicarakan semua baik- baik dengan Akhmar supaya tidak terjadi kesalahpahaman.
Aiza menghubungi nomer hape milik Akhmar. Tidak terhubung. Apakah Akhmar sudah ganti nomer?
Aiza harus bagaimana sekarang?
Sepertinya satu- satunya jalan untuk bisa bertemu dengan Akhmar adalah menemui pria itu.
__ADS_1
Aiza pun pergi ke rumah Akhmar dengan mengendarai motor. Sepanjang perjalanan, ia sudah memikirkan kata- kata apa saja yang akan ia sampaikan kepada Akhmar. Mengenai hubungan mereka, mengenai perjodohan kesasar, mengenai pesan Bajul, dan banyak hal.
Motor Aiza melewati pagar rumah.
"E eeeeh..." Motor hampir saja terjatuh saat seorang satpam menghentikannya dan memegang stang motornya dengan paksa.
"Mbak, kok nyelonong aja? Mbak ini siapa?" Satpam tersenyum ramah.
"Duuh... Saya sampai jantungan ini pak. Untung aja motor saya nggak kejungkang." Aiza deg- degan.
"Maaf, Mbak. Udah bikin mbak kaget."
"Kalau orang nggak dibolehin masuk, kenapa pintu gerbangnya dibuka pak?" Aiza menunjuk pintu yang terbuka.
"Iya, tadi saya tinggal sebentar ke belakang buang air. Belum sempet nutup. Trus mbak ini siapa? Ada keperluan apa?" tanya satpam sopan.
“Ooh… Mas Akhmar? Mas Akhmar kan sudah dua tahun ndak pulang.”
“Dia nggak pulang? Memangnya dia kemana?” Aiza kaget.
“Ke Yogyakarta.”
Belum sempat Aiza mengajukan pertanyaan berikutnya, sosok pria muncul dari dalam rumah, membuat perhatian Aiza beralih ke arah pria itu.
Mata Aiza yang bulat membelalak sempurna menatap pria yang kini berdiri di teras mengenakan pakaian khas rapi ala kantoran dengan stelan jas. Aldan.
__ADS_1
Loh? Aiza membungkam. Bingung.
Demikian pula Aldan yang memaku. Setengah hatinya bahagia melihat gadis yang dinobatkan sebagai calon istri itu ada di depan rumahnya. Namun juga sisi lain hatinya bingung kenapa gadis itu bisa mengetahui alamat rumahnya. Dengan keyakinannya, ia berpikir, ada keperluan apa Aiza menemuinya? Sampai- sampai mendatanginya ke rumah begini?
Perlu menjadi catatan, dulu, saat Aiza mendatangi rumah Akhmar untuk mengambil buku, mereka memang tidak bertemu. Sebab yang menyambut kedatangan Aiza kala itu adalah Roni. Lalu Roni menyampaikan kepada Aldan bahwa ada seseorang yang menunggu Akhmar di ruangan tamu. Aldan berinisiatif langsung menyampaikan hal itu ke Akhmar. Sekali lagi, tidak ada pertemuan di rumah itu antara Aldan dan Aiza.
“Aiza, ada apa menemuki di rumah?” tanya Aldan yang meyakini bahwa gadis itu tentu bertujuan untuk menemui calon suaminya.
Aiza terpaku. Lidahnya pun jadi kelu. Ya Allah, ternyata Akhmar dan Aldan adalah kakak dan adik. Ini bagaimana?
“Ayo masuk!” ajak Aldan menunjuk rumahnya.
“Mm… Aku… Iya boleh, aku masuk.” Aiza terpaksa memasuki rumah sambil berpikir keras. Apa yang harus ia katakan kepada Aldan sekarang? Alasan apa yang membuatnya bisa berada di sana? Andai saja ia menyebut nama Akhmar, itu pasti akan melukai hati Aldan. Berat sekali menyebut nama Akhmar.
“Ada apa, Aiza?” tanya Aldan sesaat setelah mempersilakan Aiza duduk di sofa.
“Maaf, Mas Aldan. Sepertinya kita memang perlu bicara.”
Aldan tersenyum simpul. “Mau bicara soal apa?”
“Apakah Mas Aldan yakin akan menikahi Aiza?” Dahi Aiza mengernyit.
“Yakin.” Aldan mengangguk. “Aku tahu papa memilihkan jodoh yang tepat untukku. Ini adalah jawaban dari doa- doa di sepertiga malamku.”
Kata- kata Aldan membuat Aiza semakin bingung. Padahal niat hati Aiza ke sana adalah untuk membicarakan hubungannya dengan Akhmar yang telah terbengkalai. Tapi kenapa jadi begini?
__ADS_1
Bersambung