
Akhmar seharian tidak tinggal diam, juga tidak masuk kampus. Ia menyusuri pasar, jalanan, juga tempat- tempat mangkalnya geng motor untuk mencari motor merk kawasaki warna hijau dengan plat nomer 1910 seperti yang dia lihat di area saat melihat Aiza pingsan di pinggir jalan. Tentunya motor milik salah satu pengendara motor yang melarikan diri saat ia datang ke lokasi kejadian.
Sebelumnya ia sudah mencari tahu nomer plat tersebut adalah plat wilayah sana. Dan ia yakin pemiliknya tak akan jauh dari seputaran sana.
Setelah lama berkutat dengan pencarian, memasuki berbagai tempat, menyusuri markas- markas dan tempat tongkrongan, Akhmar akhirnya beristirahat di warung untuk minum sejenak. Ia lelah. Keringat bercucuran. Usahanya belum membuahkan hasil.
Ia harus tahu siapa pelakunya. Harus.
Apakah ini saatnya ia meminta bantuan pada Atep, Bajul, Enyong dan Jambrong? Akhmar meraoh hape untuk menelepon teman- temannya itu, namun urung. Akhir- akhir ini ia sudah mengasingkan diri, menjauh dari teman- temannya. Apakah masih layak untuk meminta bantuan? Apa kata mereka nanti?
Akhmar menghargai teman- temannya. Lebih baik ia tidak meminta bantuan teman- temannya.
Akhmar kembali menaiki motor setelah membayar. Ia terkesiap menatap motor warna hijau yang baru sjaa melintas di sisinya. Fokus matanya langsung tertuju ke nomer plat motor. Tepat, itulah nomer yang ia cari.
Akhmar langsung menarik kuar gas motornya, mengejar. Tepat saat ia sudah bersisian dengan pengendara. Kakinya langsung menendang ke arah motor di sisinya.
Brak!
Motor lawan terjatuh.
Pemilik motor Kawasaki terpelanting, terlempar dari motor di jarak dua meter. Terdengar suara deritan motor bergesekan dengan aspal, menyakitkan telinga. Mesin motor itu masih dalam keadaan menyala meski sudah tergeletak.
__ADS_1
Akhmar menghampiri si penunggang motor yang telah terkapar. Mencengkeram kerah bajunya dan menarik ke atas hingga tubuh pemiliknya terangkat dan bangkit berdiri seiring dengan tarikan tangan Akhmar.
Sekali tarik, helm di kepala pria itu pun terlepas dari kepala.
Gluduk! Helm dilempar ke tanah begitu saja. Wajah pria taka sing membuat Akhmar mengernyit. Bang Jamed?
“Bang, lo yang kemarin ngeroyok Aiza dan ngebuat cewek itu jatuh pingsan. Apa yang udah lo lakuin ke dia? Kenapa lo lakuin itu ke dia?” bentak Akhmar datar dengan gigi menggemeletuk.
“Apa- apaan ini, Akhmar?” Jamed balas menghardik keras.
Tak sedikit pun Akhmar merasa gentar atas hardikan pria bertubuh kekar itu dan perawakan yang jauh lebih besar dari Akhmar. Tatapan mata Akhmar tetap tajam, menantang. Kepatuhannya yang selama ini dia tunjukkan, kini hilang entah kemana. Aiza. Satu nama itu menjadi alasan kemarahannya.
Masih dengan suara datar dan diiringi tatapan tajam, Akhmar berkata, “Jangan ngelak lo! Ngaku! Atau gue tonjok!” Akhmar mengancam sambil mengangkat kepalan tangannya.
Tubuh Akhmar berkelit cepat hingga layangan tangan hanya mengenai udara. Lalu dengan sekali bekuk, Akhmar berhasil menekuk lengan Jamed ke belakang dan melumpuhkan kaki Jamed posisinya kini berlutut.
“Katakan! Kenapa lo ngeroyok Aiza?” geram Akhmar dengan suara rendah.
“Gue nggak ngeroyok siapa pun! Gue nggak ngerti apa yang lo omongin! Bangs*t, lo beraninya ngelakuin ini ke gue. Mampus lo setelah ini!”
“Lo dalam kondisi nggak berkutik pun masih berani ngebantah. Dari salah satu motor yang kemarin mengeroyok Aiza, gue liat motor lo ada di salah satunya.”
__ADS_1
“Lo salah sasaran, Akhmar. Motor gue kemarin dipinjam temen.”
“O ya? Apa lo bisa dipercaya?”
Jamed sebenarnya kesal sekali karena Akhmar sudah berani melawannya. Ia tidak tahu saja bahwa sejak dulu Akhmar tidak pernah takut pada siapa pun, kalau pun ia patuh pada Jamed, itu hanya karena sebatas menghargai saja.
“Lo boleh potong tangan gue kalau gue bohong!” Jamed meyakinkan. Tangannya yang dipelintir sudah seperti hendak patah, sakit sekali. Kakinya sampai gemetar merasakan sakit itu.
Akhmar berusaha mempercayai Jamed. “Kalau begitu, kasih tau gue siapa yang minjem motor lo kemarin!”
“Oke. Lepasin dulu!”
“Gue patahin tangan lo kalau lo macem- macem!”
“Bangs*t lo! Beraninya ngancem gue.” Jamed kesal sekali. “Lo udah banyak bikin salah sama gue. Lo nipu gue, lo juga ngedeketin Meta, cewek yang gue suka. Sekarang lo ngancem gue begini.”
Akhmar menarik sudut bibirnya. Ia lalu melepaskan cengkeraman tangannya.
Jammed mengerang, memutar- mutar tangannya yang sakit. “Bener- bener lo, Mar! Gua bunuh lo setelah ini!”
“Malaikat pencabut nyawa lebih seneng sama lo ketimbang gue, Bang!” Akhmar geram sekali.
__ADS_1
Bersambung
Bentar lagi akan menuju dimana Aiza menjadi gadis dewasa dan Akhmar menjadi lelaki yg jauh lebih dewasa pula. Tungguin yah