Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
83. Harapan-harapan


__ADS_3

Tiba- tiba ingatan Aiza tertuju pada kejadian tadi, ketika ia dalam keadaan tanpa baju dan hanya mengenakan pakaian bagian dalam saja. Bahkan ia pun dalam keadaan tanpa jilbab. Rambutnya tergerai. Ini mencatat sejarah bahwa satu- satunya pria bukan mahram yang melihat rambutnya adalah Akhmar.  Kulitnya meremang dan malu sendiri.


"** tadi kamu nggak liat apa - apa kan?" tanya Aiza.


"Tadi kapan?"


"Tadi. Pas kamu baru keluar dari lemari."


"Oh itu... udah keliatan kok tadi," jawab Akhmar tanpa beban.


Loh, sesantai itu Akhmar menjawabnya? Muka Aiza makin memanas.


"Kamu liat aku?" Aiza ingin meyakinkan apa yang dilihat oleh Akhmar tadi, apakah pria itu benar- benar melihat tubuhnya atau tidak, terutama dadanya.


"Ya liat semuanya. Kan udah kejadian. Gimana lagi?" Lagi- lagi Akhmar menjawabnya dengan enteng.


Aiza makin malu. Mukanya bertambah panas dan memerah seperti kepiting rebus.


"Za, thanks ya, kamu udah memberi aku ilmu. Seenggaknya aku jadi bisa membaca iqro. Aku jadi punya semangat untuk melafazkan huruf hijaiyah dengan benar," ucap Akhmar yang entah kenapa membuat Aiza tiba- tiba menjadi baper.


Gadis itu menggigit bibir bawah.


"Kamu itu gadis istimewa. Cuma ada satu yang kayak kamu. Dan percayalah, aku nggak akan mungkin bisa melupakan kisah antara kita."


Aiza masih diam. Kalimat yang diucapkan Akhmar seperti memberi tanda kalau pria itu tidak akan menemuinya lagi. Aiza merasa tidak akan memiliki waktu untuk keversamaan mereka lagi. Eh, ini kenapa Aiza malah seperti takut kehilangan begini? Ia sudah terlanjur nyaman bersama dengan Akhmar meskipun kebersamaan mereka selalu saja dalam kondisi yang tak baik.


"Ya udah, aku tutup. Sekali lagi thanks." Akhmar memutus sambungan telepon.

__ADS_1


Aiza hanya bisa menatap durasi panggilan yang terputus di layar hape nya. Ada rasa tak nyaman menyelinap di benaknya. Ada sebagian yang hilang. 


Akhmar menyudahi akses pertemuan mereka. Dan tanpa belajar mengaji, Akhmar tentu tidak akan datang lagi.  


Lalu, apakah pria itu akan kembali berkumpul bersama teman- temannya yang pergaulannya nggak bener itu? Apakah Akhmar akan kembali ke pergaulannya yang rusak? Pekerjaan Aiza baru setengah jalan, ia belum berhasil membentuk akhlak yang baik dalam diri Akhmar serta menyampaikan ilmu yang seharusnya ia sampaikan, tapi situasinya malah sudah begini. Aiza nggak rela situasi berubah sekilat ini.


Ting.


Sebuah chat masuk.


Dari Akhmar.


Aiza tersenyum. Si biang kerok nge chat juga.  Ia bergegas membaca chat tersebut. 


.


.


Aiza membelalak dengan senyum yang masih terpatri. Sempet juga tuh orang nulis di dinding. Kata- kata apa yang ditulis oleh Akhmar? 


Aiza menghambur keluar kamar setelah menyambar jilbab dan menyorongkannya ke kepala.  Ia berlari keluar melewati pintu gerbang, mengitari pagar hingga sampailah di dinding pagar bagian luar. Ia tersenyum mendapati sebaris kalimat yang tertulis di dinding itu. Tangannya menyalakan semter hape dan mengarahkan sinarnya ke tulisan supaya bisa membaca dengan jelas.


.


( Ingin bersujud bersama dengan Aiza )


.

__ADS_1


Senyum Aiza makin mengembang. Tatapan matanya terus mengulang kalimat  yang tertulis di dinding.


Dasar preman setengah insaf! Bisa- bisanya punya harapan begitu?


***


Seperti yang dijanjikan, Akhmar tidak pernah lagi datang mengaji ke rumah Aiza, ia mendatangi rumah Aiza lewat belakang hanya untuk menuliskan harapan- harapannya di dinding luar pagar beton rumah Aiza.  


Ia menunggu beberapa saat hingga Aiza muncul, dan ia hanya akan melihat dari jauh, setelah itu barulah pergi.


Sekilas saja melihat wajah Aiza, sudah cukup baginya.


Sedangkan Aiza, setiap pulang sekolah selalu mampir ke dinding luar dan mendapati tambahan satu kalimat setiap harinya. 


Aiza memotret tulisan itu dengan kamera hapenya. 


Setelah itu, Aiza akan masuk mengitari pagar, lalu menuliskan satu harapannya di dinding bagian dalam. Ia juga memotret tulisan di bagian dinding dalam.


Perasaan Aiza senang sekali bisa berbalas harapan di dinding itu, meski Akhmar tidak bisa membaca harapan apa yang di tulisan Aiza karena tertulis di dinding bagian dalam, namun ia cukup senang dengan kegiatan barunya itu. 


Minimal ia jadi tahu keinginan apa yang diharapkan oleh Akhmar. Semuanya tentang hal baik.


Harapan- harapan yang dituliskan ibarat sebuah cita- cita yang tergantung, yang kelak menjadi sebuah motivasi untuk diwujudkan satu per satu. Tidak mudah memang, namun selagi nyawa masih di kandung badan, semangat masih tumbuh, maka bukan mustahil harapan akan terwujud. Tidak semuanya terwujud pun tak mengapa, yang terpenting niat dan semangat itu ada untuk mewujudkan harapan supaya menjadi kenyataan.


Diam- diam, Aiza merasa penasaran dengan kegiatan Akhmar belakangan ini. Apa yang dilakukan pria itu selama tidak lagi belajar membaca Al Quran dengannya?  Tapi kan gengsi kalau dia kepoin Akhmar apa lagi sampai harus menelepon pria itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2