
“Za!” panggil Akhmar membuat langkah Aiza yang sudah berada di halaman rumah pun terhenti, gadis itu menoleh.
“Kalau suatu saat aku balik lagi ke kamu buat belajar ngaji, apa kamu masih mau menerima aku meski udah berhenti sebulan, dua bulan atau bahkan setahun?”
“Aku punya komitmen, agama pun juga punya komitmen kan? Siapa yang salah harus dihukum, itulah hingga akhirnya ada yang namanya hisab.” Aiza menghela napas. “Setoran hafalan itu ada aturan dan waktunya. Perhitungan itu nggak akan berubah. Jumlah surat yang kamu hafal tetap berjalan seiring berjalannya waktu. Maka kalau lebih dari waktu yang ditentukan, wajib hafal tiga puluh juzz.”
Akhmar mengernyit. Membayangkan surat Al Baqarah yang ayatnya panjang- panjang saja sudah pusing, apa lagi sampai tiga puluh juz?
“Berat kan?” ucap Aiza kemudian melenggang pergi degan raut yang masih ditekuk. Kekecewaannya masih memuncak. Ia tak kesal kenapa Akhmar memutuskan untuk menjauh darinya. Ia benar- benar kehilangan momen kebersamaan dengan pria itu.
Aiza menghampiri sebuah rumah sederhana yang di depannya terdapat bangunan beton minimalis namun terkesan elit. Menjual berbagai macam menu sarapan.
Aiza menghampiri warung itu dan makan di sana. benar apa kata Akhmar, warung itu menyajikan sarapan lezat yang murah meriah. Makanan paling mahal harganya sepuluh ribu.
Ada dua pelayan yang sibuk melayani pembeli. Meski warung itu tak begitu laus karena lahan yang memang tak luas, namun pembelinya ramai.
Seorang wanita paruh baya tampak duduk di meja kasir, tersenyum ramah pada setiap pembeli yang membayar makanan.
Tiba- tiba tampak Akhmar memasuki warung. Pria berwajah melankolis yang selalu menjadi pusat perhatian wanita itu tampak memesan makanan.
Akhmar melintasi meja Aiza begitu saja. Hanya melirik sebentar kemudian berlalu pergi.
Hati Aiza mencelos melihat sikap Akhmar. Rasanya seperti ada yang menggigit di dalam sana. Mata Aiza berkaca- kaca hanya dalam hitungan detik.
__ADS_1
Ini aneh. Padahal Aiza tidak berharap akan merasakan sesuatu yang aneh itu, tapi rasa itu muncul begitu saja.
Apakah itu yang dinamakan sakit hati? Ngilu di ulu hati.
Kenapa Aiza senyeri ini hanya karena dicuekin Akhmar? Pria itu benar- benar telah memutuskan untuk mengakhiri komunikasi. Aiza kehilangan harapan itu, dan rasa kehilangan itulah yang membuatnya sakit. Ia kini sudah bisa memahami perasaannya sendiri.
Aiza beristighfar. Tak seharusnya ia bersikap demikian. Apa lagi kesedihan itu bersumber dari setan, ia harus bisa menguasai diri. Jangan sampai hanyut dalam rasa yang tak seharusnya.
Fix, Aiza sudah tidak lagi memiliki harapan untuk bisa berbagi waktu dengan Akhmar lagi. Ada rasa yang hilang, kosong.
Aiza berangkat ke sekolah dengan naik ojek. Sengaja Aiza meminta abang ojek untuk berhenti di samping rumah. Ia menghambur mendekati pagar dinding beton di bagian luar rumahnya, ingin melihat tambahan Wishlist yang mungkin sudah ditulis oleh Akhmar. Bukannya melihat tulisan, ia malah dikejutkan oleh dinding yang sudah berubah warna.
Tangis Aiza pecah menatap dinding pagar yang dulunya berwarna putih, kini sudah berganti cat menjadi warna biru, rata. Ia menyentuh dinding, mengelusnya pelan, tulisannya Akhmar yang berderet di sana sudah tidak ada lagi. Dan mungkin tulisan di dinding bagian dalam pun sudah tidak ada lagi.
Ya ampun, kenapa sebaper ini hanya karena tak bisa melihat tulisan itu lagi? Apakah tulisan itu begitu berpengaruh dalam dirinya?
Aiza mengusap air matanya.
"Za!" panggil Zahra yang baru saja muncul dan memegangi jeruji besi pagar.
Aiza sontak menoleh ke sumber suara, ia menggeser langkah hingga sampai ke pagar di mana Zahra berdiri di dalamnya. Mereka bertukar pandang, berbataskan jeruji.
"Kak Zahra!" Aiza tersenyum dan histeris. "Aiza kangen banget. Kakak apa kabar?"
__ADS_1
Zahra dan Aiza berpegangan tangan.
"Kakak baik." Berbeda halnya dengan Zahra yang malah tampak sedih, tak ada senyum, justru matanya berembun.
"Aiza seneng banget bisa ketemu kakak." Aiza ceria sekali.
Zahra mengusap air matanya penuh keharuan. "Za, nenek kangen sama kamu. Nenek terus aja nanyain kamu."
"Kalau gitu Aiza temuin nenek sekarang ya? Abah nggak ada di rumah kan?" tanya Aiza.
"Nggak ada. Umi di belakang sedang mencuci baju."
"Ya udah, Aiza masuk. Tapi jangan bilang siapa- siapa kalau Aiza masuk ke rumah." Aiza berlari memutari pagar dan masuk melalui pintu gerbang.
Sedangkan Zahra duluan menuju pintu dan bertindak sebagai pengawas yang mengawasi situasi, ia celingukan menatap ke segala penjuru lalu berbisik, "Aman. Cepetan!"
Aiza pun berlari ngibrit memasuki rumah dan langsung menuju ke kamar neneknya.
Zahra menyusul di pintu kamar dan berbisik, "Za, kakak ke belakang untuk mengamankan situasi. Kakak akan tahan umi supaya tetap berada di dapur, jadi kamu aman. nanti kalau mau pergi, langsung pergi aja, nggak usah pamitan sama kakak."
Aiza mengangguk. Pintu ditutup dan Zahra berlalu pergi.
Bersambung
__ADS_1