Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
118. Seperti Ikan Lele


__ADS_3

"Anak tidak tahu diuntung! Kenapa dia tidak bilang sejak awal kalau dia tidak mau dilamar? Hanya karena alasan ini dia mengiyakan lamaran lalu sekarang membatalkan secara tiba- tiba. Lalu bagaimana ini? Para tamu sudah pada datang. Tidak mungkin abah membatalkan lamaran ini. Mau ditarok kemana muka abah?" Ismail murka dengan wajah merah padam, tangannya meremas kertas dan membuangnya ke sembarangan arah.


"Aiza, kamu harus menggantikan kakakmu!" Titah Ismail tegas, menatap Aiza dengan sorot mendominasi.


Aiza terkejut. Pulang dari Kairo bukannya mendapat hadiah bagus, malah disuruh menerima lamaran dadakan. Jantung pun bisa berhenti mendadak kalau begini. Aiza pulang membawa sebongkah harapan untuk bisa kembali bersama dengan Akhmar, bagaimana mungkin ia akan menerima lamaran itu? Sudah sekian tahun ia menunggu untuk bisa bertemu kembali dengan pujaan hati, apa kabar Akhmar? Masihkah pria itu seperti dulu? Apakah sudah berubah? 


"Enggak, Abah. Ini kesalahan kak Zahra, jangan dilimpahkan kepada Aiza!" Aiza menolak.


"Ini bukan masalah pelimpahan kesalahan. Kamu memang tidak salah apa- apa. Tapi abah minta satu hal kepadamu, maukah kamu berikan baktimu pada abah kali ini saja? Bantu abah. Selamatkan abah dari masalah besar ini. Abah malu menyampaikan hal memalukan ini ke luar. Tolong, abah!" Tatapan mata Ismail memohon.


Ya Allah... Setengah hati Aiza tak tega. Tak pernah Ismail bersikap begini sebelumnya, apa lagi menatap dengan tatapan penuh permohonan begini. Tapi Aiza juga sudah memiliki janji dengan Akhmar. Bahkan penantian itu sudah dia harapkan sejak lima tahun lamanya.


"Maafkan Aiza, abah. Maaf. Aiza nggak bisa. Aiza udah punya pilihan," jawab Aiza tegas, berharap jawabannya akan menjadi telak yang memberi pengertian.


Terdiam, Ismail menghela napas. Tak lama matanya terpejam. Meringis dan memegang dada dengan kuat. Erangan terdengar dari mulutnya. E e eeeh lalu tubuh itu huyung ke sana kemari. Seperti pohon mau tumbang.


"Astaghfirullah." Qanita langsung meraih tubuh suaminya, menahannya supaya tidak terjatuh, menuntunnya duduk ke kursi.

__ADS_1


Kalap ini kalap. Kalau sudah begini, Aiza tidak lagi punya kekuatan untuk menolak. Ia sudah tau apa yang akan terjadi setelah ini, Ismail punya alasan terkena serangan jantung untuk memperkuat perintahnya. Ini persis di film- film. Hadeh.. drama banget hidup Aiza.


"Kalau kamu masih mau melihat abahmu bernapas dengan lega, kamu bantu abah menyelesaikan masalah ini. Jadilah pengganti kakakmu," pinta Ismail dengan napas cengep cengep. 


Inilah yang sulit ditolak bagi Aiza. Alangkah durhakanya dirinya jika saja ia membiarkan abahnya menggelepar seperti ikan lele yang kekurangan air saat ia menolak permintaan untuk menolong keluarga. 


 Duuuh.. Kak Zahra kenapa sih mesti kabur segala? Ini akhirnya Aiza yang kena sasaran. Kak Zahraaaaa.... 


"Harus banget ya, Bah?" Aiza seperti orang bingung.


"Harus."


"Tidak. Kamu bisa saja malah kabur kalau pergi," tegas Ismail sambil memegangi dadanya kuat.


"Enggak, Abah. Aiza nggak akan berbuat seperti Kak Zahra. Aiza pegang janji Aiza." Aiza menatap Ismail dengan penuh keyakinan.


"Pergilah, Aiza!" ucap Qanita sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


Mendapat ijin dari Qanita, Aiza pun menghambur ke rumah sebelah, tak lain rumah Adnan. Ia menerobos masuk sesaat setelah mengucap salam.


Seseorang menjawab salam dari dalam. Tak lain ibunya Adnan.


"Bunda, apa bunda melihat Adnan?" tanya Aiza pada wanita paruh baya yang dia panggil dengan sebutan bunda. Ekspresi wajah Aiza tampak cemas.


"Aiza, Adnan pergi meninggalkan rumah bersama dengan Zahra. Mereka naik taksi entah kemana. Itulah yang bunda cemaskan sejak tadi. Padahal bunda mau menghadiri acara lamaran di rumahmu, tapi batal karena bunda malu. Apa kata keluargamu saat tahu bahwa anak bunda membawa lari gadis yang dilamar?"


Aiza bersungut. Menggigit bibir bawah. Apes. Ia tidak punya pilihan lain sekarang. Ia kembali ke rumah sendirian tanpa Zahra dan hanya bisa mengangguk saat Ismail mengajaknya ke depan dan diperkenalkan sebagai sosok gadis yang sedang dilamar.


"Aiza Hulya!" Ismail memperkenalkan nama  Aiza di hadapan semua orang. Aiza duduk di sisi kiri Ismail, Qanita di sisi kanan suaminya.


Seluruh tamu menatap kecantikan Aiza. Terdengar dengungan perbincangan membicarakan betapa calon istri yang dilamar itu sangat cantik jelita. 


"Inilah calon suamimu, Aiza. Putraku, namanya Muhammad Aldan," ucap seorang pria dengan suara mengguntur berwibawa, tak lain pria itu adalah Adam.


Pelan kepala Aiza terangkat, menatap sosok pria yang disebut dengan nama Aldan. Nama yang tidak asing di telinganya. Ia kini bertukar pandang dengan Aldan. 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2