Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
87. Amukan Parah


__ADS_3

Aiza setengah berlari memasuki rumah, langkahnya yang gontai memelan, lalu semakin pelan saat memasuki halaman rumah. Ia mendapati Umi, abah dan Zahra berkumpul di teras dengan raut wajah yang tampak jauh berbeda dari biasanya. Aiza bingung menyaksikan pemandangan yang tak pernah sebelumnya. Sesuatu yang aneh bagi Aiza melihat mereka berkumpul di teras, hal itu tak pernah dilakukan sebelumnya. 


Terlebih kini pandangan dan ekspresi wajah abahnya tampak emosi, merah padam. Sedangkan ekspresi Uminya sedih, kecewa bercampur kesal. Berbeda Zahra yang tampak resah, cemas dan gelisah. Dahinya bertaut dan menggigit bibir. Ia menatap Aiza bingung.


"Nah, ini dia. Ini dia biang masalahnya. Anak tidak tahu malu. Bikin malu nama Ismail saja!" Ismail menunjuk- nunjuk ke arah Aiza, membuat Aiza bingung tujuh keliling. Kepala puyeng. Seperti ada bintang cantik berkejaran di atas kepalanya.


"Ada apa ini, Umi?" Aiza menatap uminya karena bingung. Tak pernah Ismail semarah itu terhadapnya, dan ini adalah pertama kalinya. Amarah Ismail sama seperti saat marah pada Akhmar. Artinya kesalahan Aiza di mata Ismail sudah di luar batas.


Qanita hanya diam, memalingkan pandangan dengan raut yang tampak sangat kecewa dan sedih.


"Ya Allah, ada apa, Abah? Kenapa marah- marah? Abah kan bisa bicara baik- baik!" tegas Aiza berdiri menghadap di depan ayahnya.


"Lancang bicara!" Ismail melotot dengan napas tersengal, kemarahannya memuncak. "Apa kau tidak juga sadar dengan kelakuan binalmu itu? Masih kecil sudah keterlaluan! Mencoreng nama baik Ismail. Memalukan! Benar- benar sampah!" Ismail menarik lengan Aiza dengan tarikan yang sangat kuat hingga tubuh mungil Aiza tersentak dan terhuyung mengikuti tarikan itu. Ismail menyeret tubuh mungil itu menuju ke dalam. 


"Abah, jangan perlakukan Aiza kayak gini. Abah bisa bicara baik- baik! Aiza ini manusia, jangan seperti binatang begini!" Aiza berusaha memberontak, namun tak menghasilkan apa pun.


Meski tua, namun tenaga Ismail ternyata masih jos. Pantas saja istrinya bisa sampai empat. Maksudnya, mencari nafkan untuk empat istri pun sanggup dia lakukan. Cmiiw.


"Umi, Kak Zahra, bantuin Aiza!" Aiza menoleh ke arah Uminya yang ternyata masih di posisi yang sama, tak mau menatap Aiza. Sedangkan Zahra tampak prihatin, bingung dan sedih. Kakaknya itu ingin menolong, namun juga tak kuasa melakukan apa pun. Ia tak punya nyali untuk bertindak. Jadi memilih diam meski menyaksikan dengan prihatin.

__ADS_1


"Lepasin, Abah! Jangan begini! Aiza nggak perlu diperlakukan seperti ini kalau abah mau kasih nasihat ke Aiza." Aiza terus menggerak- gerakkan tangannya meski tak ada hasil dari pemberontakannya itu.


Ismail terus menyeret hingga masuk ke kamar mandi. 


Byurrr byurr...


Ismail menyiramkan air berulang kali ke kepala Aiza hingga gadis itu gelagapan.


"Anak tidak tau diuntung. Bikin cemar nama baik keluarga. Kecil kecil sudah kegatelan." Ismail sangat marah. "Berapa kali abah katakan supaya kamu tidak berhubungan lagi dengan Akhmar, tapi kamu diam- diam masih ketemuan sama dia. Bahkan ketemuan di dekat sekolah, apa kata orang? Memalukan! Perempuan itu tidak boleh merendahkan diri dengan menunjukkan sisi bodohnya yang rela diobok- obok laki- laki."


"Abah! Jangan vonis Aiza serendah itu. Aiza nggak akan mau merendahkan diri sendiri dengan cara itu!" Aiza berteriak sengit. "Abah jangan asal tuduh. Apa salahnya tanyakan baik- baik dulu."


Buk buk pak pak... 


Bunyi pukulan menyayat hati.


Zahra sampai menutup mata dan telinga karena tak tega. Ia mengerjapkan mata setiap kali.mendengar suara pukulan.


"Umi, tolongin Aiza!" Zahra meraih lengan uminya.

__ADS_1


Qanita hanya diam. Tak mau melakukan apa pun. 


"Masih kecil sudah gatal!" Ismail melanjutkan makiannya sambil terus memukul. "Memangnya siapa Akhmar itu sampai- sampai membuatmu menjadi setakluk dan sebodoh ini? Dia yang membuatmu membangkang dan melawan orang tuamu ini. Dia sumber masalah, kamu sudah pergi malam- malam bersamanya, lalu kepergok berduaan di kamar dengan kondisimu yang tanpa busana, sekarang diam- diam masih saja ketemuan sama dia. Memalukan! Anak tidak tau diri. Bikin malu keluarga! Perempuan murahan! Menjijikkan!" Ismail menjewer telinga Aiza.


"Aiza bukan gadis murahan! Aiza nggak ngapa- ngapain selain ngajarin Akhmar membaca Al Quran. Abah jahat!" Aiza masih melawan meski tubuhnya sudah basah kuyup, pahanya lebam, dan telinganya pun sakit.


"Cuma perempuan murahan yang mau sama Akhmar. Sudah kepergok beberapa kali bersama dia, masih bisa ngeles kamu! Abah malu punya anak liar dan bahkan pembangkang sepertimu. Memalukan!" Berulang kali Ismail mengulang kata- kata yang sama sambil terus mendaratkan pukulan ke kaki Aiza.


Tak mau menahan sakit, Aiza menjerit dan menarik tangkai sapu dari tangan Ismail, dia lempar sapu itu ke sembarang arah dan malah masuk ke bak mandi.


"Sakit, Abah. Sakit!" Jerit Aiza marah.


Ismail makin berang karena dilawan. Ia pun menarik lengan Aiza dan kembali menyeretnya keluar, melewati Qanita dan Zahra yang kini berada di ruangan utama, lalu mendorong tubuh mungil itu keluar rumah.


"Pergi kamu! Pergi sana! Jangan menginjakkan kakimu lagi di rumah ini! Sudah cukup beban dan aib yang kamu benamkan di keluarga ini, jangan ditambah lagi! Sudah berulang kali diperingatkan supaya tidak mendekati pria laknat itu, tapi masih saja kamu langgar perintah abah. Sekarang semuanya terserah padamu, apa pun yang akan kamu lakukan, maka itu bukan lagi urusan abah. Pergi!" Ismail menunjuk ke arah luar gerbang.


Tatapan Aiza makin nanar pada abahnya. Ia pun marah di perlakukan begini. segala penjelasannya tak mengubah apa pun. Percuma ia bicara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2