
"Jangan kamu lampiaskan kekesalanmu atas sikap Aiza selama ini dengan menjadikan masalah ini untuk bisa mengusir Aiza, juga mencari kesalahannya," imbuh Qanita. "Aiza ini masih labil, masih terlalu belia untuk memahami kenyataan. Wajar jika ia bersikap begini, kalau pun dia bersikap buruk padamu, itu karena bentuk ekspresinya atas perilakumu yang tidak pernah menghargai istri, dia hanya ingin membela aku. Nyatanya Aiza nggak pernah berperilaku buruk kepadaku, sebab aku memang tidak pernah memberikan contoh buruk di matanya. Benar apa kata Akhmar, dosa orang lain selalu nampak, tapi apakah kamu nggak bisa bercermin untuk dirimu sendiri? Kenapa putrimu bisa berperilaku begini terhadapmu sedangkan terhadapku tidak?"
"Berhenti membela Aiza. Ini masalahnya bukan karena Aiza yang selalu bersikap nggak baik terhadapku, tapi karena dia berperilaku seperti ****** dengan terus- terusan menempel bersama dengan Akhmar." Ismail menghardik keras. "Gadis liar. Bikin malu keluarga saja."
"Aku tau mas, kamu sangat marah begini terhadap Aiza bukan sebatas alasan karena Aiza dekat dengan Akhmar, tapi juga karena selama ini Aiza membencimu. Kamu gunakan masalah ini untuk bisa melampiaskan emosimu terhadapnya."
Ismail menelan saliva. "Lagi pula Aiza itu kan paham dengan agama, disekolahkan juga di sekolah yang pendalaman agamanya baik, tapi bagaimana pula dia bisa melawan orang tuanya sendiri?"
"Apa bedanya denganmu?" Qanita melepas sesak yang selama ini dia pendam. “Wajar Aiza begini, dia masih remaja, masih labil. Bahkan manusia yang pemahaman agamanya tinggi pun akhlaknya terkadang masih rusak. Tinggi pun pemahaman agama jika tidak dibarengi dengan ketaqwaan, semua akan rusak. Jangan bertanya kenapa seseorang yang paham agama tapi akhlaknya rusak. Ada banyak contohnya. Baik itu orang yang menyandang nama besar ustad, kyai atau pangkat apa pun itu. Apa lagi Aiza yang masih belia, kehidupan ini masih sulit baginya."
"Kenapa kamu mendadak membela Aiza?" hardik Ismail.
__ADS_1
"Aku sejak awal sebenarnya nggak menyetujui sikapmu. Dan sekarang, saat kamu maki Aiza begini, hatiku sakit. Lebih baik aku lepaskan semua yang mengganjal supaya kamu tahu apa yang sbeenarnya aku rasakan selama ini. Kamu pergi ninggalin aku dan anak- anak, menikah lagi dengan perempuan lain dengan mengatasnamakan agama, bahkan nafkah pun aku cari sendiri. Ini disaksikan oleh anak- anakmu, apakah kamu sudah benar mencela orang sedangkan dirimu sendiri begitu?"
Ismail menghela napas. Ia mengedarkan pandangan, menatap wajah- wajah tegang di hadapannya.
"Tetap saja, Aiza itu salah dengan sikapnya yang membenci dan selalu pedas terhadapku," ungkap Ismail kesal.
"Benar, itu salah. Sekali lagi kukatakan, Bahkan seorang ustad, kyai sepertimu, kakek- kakek yang sudah puluhan tahun mengenyam pendidikan agama dan ilmu agamanya tinggi sekalipun masih bisa berbuat salah, akhlaknya rusak, itu karena ketaqwaan nya yang juga rusak. Kebanyakan manusia memiliki ilmu agama tinggi tapi menerapkan ilmu itu sulit. Sangat sulit. Manusia paham bahwa selingkuh itu dosa, tapi tetap dilakukan. Manusia paham bahwa menyakiti istri itu dosa, tapi tetap juga dilakukan. Aiza juga mungkin tahu bahwa bersikap nggak baik pada abahnya adalah keliru, tapi sulit baginya menerapkan pengetahuannya itu. Jadi jangan pertanyakan kenapa Aiza yang menurutmu dididik dengan agama yang baik, tapi akhlaknya masih belum sempurna. Iya, Aiza paham agama, tapi dia itu manusia, bisa salah, lagi pula ilmu agamanya nggak setinggi kamu. Manusia berbuat khilaf dan salah itu wajar, karena memang manusia tempatnya salah, asalkan masih mau diluruskan, tapi kamu? Seolah- olah sudah paling benar. Berulang kali kamu diluruskan, tetap bersikukuh dengan pendirian mu itu. Sudah cukup, jangan lagi hakimi Aiza. Dia hanya perlu diluruskan saja."
Qanita memejamkan mata sejenak. Beristighfar.
"Sudah, tinggalkan Aiza! Jangan temani dia di sini! Biarkan dia menjadi ******!" ucap Ismail emosi.
__ADS_1
"Enggak. Dia anakku." Qanita berseru.
Melihat Qanita yang tidak lagi patuh, emosi Ismail meningkat. "Hanya neraka tempatnya wanita yang tidak patuh pada suami. Bahkan haram bagi wanita yang membangkang dari suami untuk bisa mencium aroma wangi surga! Camkan itu!" Ismail melotot lalu melenggang pergi.
Air mata Qanita menganak sungai. Cepat telapak tangannya mengusap air mata itu.
"Umi!" Aiza bangkit duduk meski dengan mulut meringis menahan sakit di pinggangnya. Ia lalu memeluk Qanita. Sesenggukan. "Maafin Aiza, Umi. Maafin Aiza udah bikin masalah di rumah. Bahkan umi dan abah sampai harus bertengkar gara- gara Aiza."
Qanita membalas pelukan Aiza. Ia masih belum bisa bicara. Hatinya kebas.
Bersambung
__ADS_1