
Sial! Gimana caranya dapet tumpangan di tempat sepi begini? Kasian Aiza kalau harus kemalaman di sini. Keluarganya pasti mencemaskannya.
Rintik hujan mulai turun. Akhmar mempercepat langkahnya. “Ayo, kita ke depan sana. ada gubuk tuh!”
Aiza menatap ke depan, di kejauhan sana tampak sebuah pondok kecil dengan atap rumbia. Sepertinya itu adalah tempat yang digunakan orang untuk berjualan buah- buahan.
“Waaah… iya ada pondok. Buruan ke sana!” Aiza ngibrit, lari kencang menuju ke pondok itu. ia berushaa menghindari hujan.
Rintik hujan mulai bertambah padat. Akhmar tidak bisa mempercepat langkah karena kakinya sakit. Ia melangkah sebisanya saja.
Aiza sudah sampai di pondok kecil itu. Ia langsung naik ke lantai yang terbuat dari papan. Hanya berukuran satu kali dua meter saja. Di bagian depan ada meja yang terbuat dari kayu.
Benar, tempat itu adalah tempat untuk seseorang menjual buah- buahan. Akhmar baru sampai di pondok kecil itu ketika hujan turun dengan deras.
Aiza duduk di pojokan, bersandar papan yang hanya menutupi sampai batas pundak saja. Hujan membuat cuaca menjadi sangat dingin. Ia meletakkan tasnya. Menatap hujan yang deras.
“Eeeeh… kamu mau ngapain?” jerit Aiza menatap Akhmar yang membuka baju.
“Bajuku basah,” jawab Akhmar tenang.
Aiza memalingkan wajahnya, memunggungi Akhmar. Ia tidak terbiasa melihat pria bertelanjang dada. Apa lagi di jarak sedekat itu.
“Aku pakai singlet kok,” ucap Akhmar.
__ADS_1
Aiza tidak menggubris, tetap saja memunggungi Akhmar. Kulitnya meremang. Rasanya aneh berada di satu tempat bersama laki- laki. Bahkan tak ada siapa- siapa selain mereka di sana.
Ya Tuhan, ampuni aku! Aiza menggigit bibir bawahnya.
‘Allahu Akbar Allahu Akbar… Allahu Akbar Allahu Akbar…’
Suara Adzan yang bersumber dari hape milik Aiza menggema merdu. Menggetarkan kalbu. Aiza pun tersentuh mendengarnya. Ia terpejam melafazkan doa saat adzan usai berkumandang. Gadis itu turun mendekati bibir atap, mendekati kucuran air hujan. Ia menyentuh bros jilbabnya untuk segera melepas dari tempatnya, namun urung saat ingat bahwa ia tidak sendiri. Ia menoleh, menatap Akhmar yang duduk nyender. Mereka bertukar pandang.
“Jangan ngeliatin!” titah Aiza.
“Loh, kenapa memangnya?” Akhmar mengangkat alis bingung. Ngeliatin aja kok nggak boleh?
“Aku mau wudhu’.”
“Memangnya ada larangan yang mengatakan nggak boleh ngeliat orang wudhu?”
Akhmar baru paham maksud perkataan Aiza. Ia pun memutar duduknya dan membelakangi Aiza.
Segera Aiza melepas jilbab dan menyingsingkan lengan bajunya untuk wudhu. Air hujan itu mempermudahnya untuk melakukan aktifitas itu. kalau saja tidak ada hujan, entah kemana ia akan mencari air untuk berwudhu. Mungkin ia akan tayamum.
Selama wudhu, sesekali Aiza menoleh ke belakang, takut Akhmar mengintipnya. Tapi aman. Pria itu tidak sekali pun mengintip ke arahnya, duduk tenang di posisinya sambil mengurut kakinya yang terluka.
Aiza kembali mengenakan jilbab, kaus kaki serta mengenakan kaus tangan yang dia simpan di dalam tas. Terlebih dahulu ia mencari kiblat dengan berbekal aplikasi di hape nya. setelah itu ia berdiri menghadap kiblat.
__ADS_1
“Udah selesai?” tanya Akhmar.
“Udah,” jawab Aiza.
Akhmar memutar duduknya, kembali menghadap ke arah Aiza. “Udah mirip kayak petak umpat aja.”
Aiza menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Akhmar. Dasar banyol!
Akhmar menggeser duduknya supaya tidak bersentuhan dengan Aiza. Gadis itu membutuhkan ruang agak luas untuknya melaksanakan shalat.
Akhmar memperhatikan Aiza yang tengah melaksanakan shalat. Mulai dari takbir sampai tahiyat akhir, gadis itu tampak khusyu’, tak terganggu dengan derasnya hujan. Posisi duduknya bersebelahan dengan Aiza.
Ia mengawasi bibir mungil Aiza yang bergerak- gerak melafazkan ayat- ayat suci. Tak dapat terdengar bisikan dari mulut Aiza ke telinganya karena kalah oleh suara derasnya hujan yang sesekali tampiasnya mengenai bagian depan tempat duduknya Aiza.
“Giliran kamu lagi. Wudhu sana! kenapa malah diem aja?” ucap Aiza sambil melepas sarung tangan dan mengembalikannya ke tas.
Akhmar diam saja. Ia bahkan sudah lupa bacaan tahiyat akhir. Juga bacaan saat duduk diantara dua sujud.
“Kakiku sakit banget. Aku nggak bisa duduk di posisi shalat.”
“Ya udah, kalau nggak bisa posisi shalat yang sempurna, kan bisa duduk dengan posisi lain. Mudah kok, yang penting shalat dengan bacaan yang bener. Sedangkan nggak bisa duduk aja, masih bisa shalat dengan posisi berbaring kok.”
Akhmar hanya membuang napas tanpa bergerak.
__ADS_1
Aiza tidak memerintah lagi. Ia duduk menepi di pojokan. Sejak tadi ada beberapa mobil truk dan tanki melintas. Tapi Akhmar tidak menghentikannya karena Aiza sedang shalat, mana mungkin ia menghentikan mobil dan naik ke mobil lalu meninggalkan Aiza sendirian.
Bersambung