Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
41. Kabar buruk


__ADS_3

“Maksudnya Alya mau bilang kalau dia hamil?  Dia kan masih SMA.  Nggak mungkinlah anak sekolah udah main gitu- gituan?”  Akhmar berusaha menyembunyikan wajahnya dengan memalingkannya dari pandangan Aldan.


Sayangnya Aldan sudah sangat mengenal Akhmar.  Satu- satunya manusia paling paham dengan sifat dan watak Akhmar hanyalah Aldan.  


“Akhmar, ini nggak main- main.  Kamu mesti tanggung jawab dengan semua yang udah kamu lakuin.”


“Yang melakukan siapa, minta tanggung jawabnya sama siapa.  Ini lucu!”


Aldan menyentuh bahu Akhmar, berusaha mengambil hati adiknya yang kerasnya melebihi batu.  Andai bukan Aldan yang menghadapi Akhmar, pasti sudah diusir Akhmar dari rumah itu.  Nakalnya kelewatan.  Parah.


“Nggak mungkin Alya bersikap begitu kalau kamu nggak pernah menyentuh dia.”


Akhmar diam saja.  Jika yang mengatakan hal itu adalah Atep, Bajul atau Enyong, mereka pasti sudah kena damprat, namun berbeda halnya ketika kata-kata itu terucap dari mulut Aldan.  Satu-satunya orang di dunia ini yang Akhmar segani hanyalah Aldan, lelaki yang tidak banyak bicara, lebih banyak diam, dan akan bicara jika dalam hal-hal penting saja.  Usianya terpaut empat tahun dari Akhmar.


Lalu bagaimana dengan Papanya Akhmar?  Adakah rasa segan Akhmar terhadap sang ayah?  Jawabannya tidak.  


Akhmar tidak menyukai Papanya karena beliau akan langsung marah ketika mengetahui perbuatan- perbuatan tidak senonoh yang Akhmar lakukan.  Papanya itu mendidik Akhmar dari kecil dengan cara yang keras.  Katakanlah papanya itu tidak sabar, sebab memang yang dia hadapi juga luar biasa menguji kesabaran.  Berbanding terbalik dengan aldan yang selalu patuh.


Tak jarang Papanya itu menghukum Akhmar bahkan memaki- maki atau menyiram wajah Akhmar dengan air kopi seperti yang sudah- sudah.  


Akhmar juga sudah sering dipukul Papanya, dan hal itu justru membuat Akhmar semakin berani dan membangkang pada Papanya.  Semua yang Papanya lakukan, tak luput dari rasa kesal karena perbuatan Akhmar memang sudah kelewatan.

__ADS_1


Seperti dulu, saat merasa lapar di bulan Ramadhan akibat tidak melaksanakan ibadah sunnah sahur, Akhmar pernah dijewer telinganya oleh Ayahnya akibat mencuri makanan, diam- diam dia makan di kolong meja, membuat Ayahnya berang dan Akhmar tak luput dari ceramah sepanjang- panjangnya, bahwa puasa itu wajib bagi seorang muslim.  Memang tidak ada dalil yang menyebut umur seorang anak hingga dia dibebani berpuasa, meski begitu anak- anak dibiasakan berpuasa sedari dini.  


Apa lagi usia Akhmar yang saat itu sudah memasuki dua belas tahun, dikatakan sudah cukup untuk berpuasa, dia juga sudah disunat.  


Gara-gara lapar, Akhmar sengaja membuka puasanya.  Seperti halnya shalat, Rosulullah secara tegas menyuruh anak mengerjakannya jika telah berusia tujuh tahun dan boleh dipukul jika meninggalkan shalat saat berumur sepuluh tahun.  Dan inilah salah satu alasan yang membuat ayahnya Akhmar sering memukul Akhmar, bungsunya itu paling sulit disuruh shalat.  Disebabkan ibunya Akhmar sudah meninggal, maka sang ayah bertugas menjadi ayah sekaligus ibu yang mendidik anaknya dnegan cara keras.


Akhmar juga pernah mengikat badan pemilik kebun yang sudah sangat tua di pohon jambu hanya demi bisa memakan mangga bersama teman-temannya.


Yang paling parah, Akhmar pernah menonjok seorang Bapak yang datang ke rumahnya karena melarangnya berpacaran dengan anak gadisnya.  


Ya, bukan Akhmar jika tidak menghalalkan segala cara demi terlampiaskan semua keinginannya.


Berbeda dengan Aldan ketika menghadapi tingkah keterlaluan Akhmar, Aldan hanya akan memandang Akhmar dengan tatapan serius, kemudian mengajak bicara, menasehati, memberitahukan kalau apa yang dilakukan Akhmar adalah dosa, serta memberi pengarahan dengan kata-kata bijak dan nada yang lunak.  


“Akhmar, Papa belum tau soal ini.  Carilah solusi sebelum Papa tau.  Gue yakin Papa pasti akan sangat marah kalo tau persoalan ini.  Ini bukan perkara kecil.”


“Mas, aja yang nikahin Alya,” celetuk Akhmar asal, membuat Aldan yang sudah berjalan menuju pintu, menoleh dan menatap Akhmar agak kesal.


“Kamu tu ya, jenggot aja masih selembar, masih panjangan aku, udah berani kamu menyuruhku nikahin anak gadis orang.  Itu bukan solusi, tapi nyari masalah baru.  Aku nggak akan mau menikahi dia.  Inget nggak Akhmar, Mama kamu sekarang ada di alam kubur.”


Akhmar mendengus.  Selalu begitu, Aldan pasti menyinggung Ibunya yang sudah meninggal.  Aldan sedang berusaha mengingatkan kalau manusia pasti akan mati, akan masuk ke liang kubur.  Dan Akhmar?  Sudah siapkah dengan kematian?  Akhmar tercekat dan tidak mau melanjutkan perbincangan.

__ADS_1


Aldan memutar mata malas berdebat.  Ia membuka pintu hendak keluar dan berpapasan dengan Atep di ambang pintu.


“Mas!”  sapa Atep menganggukkan kepala sambil tersenyum penuh rasa segan.


Aldan membalas anggukan Atep dengan tersenyum tipis kemudian berlalu pergi.


Atep menutup pintu setelah memastikan Aldan pergi.  


Mata Akhmar memperhatikan raut wajah Atep yang tegang dan ada beberapa titik keringat di kening temannya itu.


Masalah lagi ini.  Akhmar membatin kesal.  Melihat ekspresi wajah Atep, Akhmar meyakini kalau Atep akan membawa kabar buruk yang tentunya akan menambah daftar masalah baru di hidupnya.


“Mar, gawat!”


“Jangan bicara kalau hanya akan menyampaikan informasi nggak penting.”  Akhmar bangkit berdiri dan mengambil gelas berisi air mineral di atas nakas lalu meneguknya dengan degupan kuat, tidak bersisa lagi.


“Serius ini.  Ini soal Vito.”


Sudah Akhmar duga.  Dan Akhmar tidak ingin mendengarnya.  


Bersambung

__ADS_1


And than, jangan lupa klik like 😉


__ADS_2