Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
65. Pertahanan Runtuh


__ADS_3

Akhmar sebenarnya tidak tega melihat Aiza harus mengendarai motor berukuran gede miliknya, tapi hal itulah yang akan membawanya menjadi punya waktu untuk menatap Aiza lebih lama lagi. Toh Aiza kan serba bisa, mengendarai motor besar pun sanggup dia lakukan.


Tega nggak tega, Akhmar membiarkan Aiza nangkring di atas motor berukuran besar itu.  sedangkan Akhmar berada di dalam taksi.  Sesekali Akhmar menoleh, mengawasi Aiza yang mengikuti dari belakang.


“Berhenti, Pak!” titah Akhmar pada supir taksi setelah mereka sampai di depan warung bakso.


“Di sini?” tanya supir taksi.


“Ya.”  akhmar membayar lalu turun dneganlangkah pincang.  Kali ini pincangnya sungguhan, kakinya benar- benar terasa nyeri saat berjalan.  


Melihat Akhmar yang turun dari taksi, Aiza mengikuti pria itu.  ia tidak tahu alamat rumah Akhmar, tentu saja ia harus ikut kemana pun Akhmar pergi.


“Udah sampai?” tanya Aiza sambil melepas helm.


“Belum.  Aku lapar.  Mau makan dulu.  Ayo, makan!” ajak Akhmar sambil melangkah masuk ke warung bakso. 


Aiza mengernyit.  Menggigit bibir kesal.  


Ogah banget makan bareng cowok resek itu.  Yang bener aja harus duduk semeja sama dia!  Dih. 


Aiza memarkirkan motor di depan warung.  Ia bertahan duduk di atas motor sambil bermain hape.  Dan sialnya, aroma kuah bakso yang beterbangan mau tak mau terhirup oleh hidung Aiza.  Aromanya benar- benar membuat perut keroncongan, nafsu makan pun naik.  Apa lagi Aiza adalah pecinta dan penggila bakso.


Pandangan Aiza tertuju ke bodi motor milik Akhmar yang baret dan penyok.  Tangan Aiza menjulur mengambil barang di dalam tas yang tersampir di motor.  Ada beberapa barang milik pembeli yang belum sempat diantar ke alamat.  Bahkan bentuknya pun sudah hancur.  

__ADS_1


Ya ampun, kasian sekali Akhmar.  Apakah pria itu harus mengganti seluruh kerugian itu?  Akhmar ternyata seorang pekerja keras.  Dia bekerja sebagai kurir.  


Aiza mengembalikan barang yang dia ambil ke tas.  Rasa iba membuatnya termenung sebentar.


Lama berdiam di atas motor, Aiza sesekali menoleh ke arah Akhmar.  Pria itu tampak asik makan kerupuk.


Kenapa Akhmar lama banget sih?  Makan bakso apa nelan mangkok sih?  Makan doang pun lama amat, ya ampun.


“Mar, udah belum?  Buruan!” desak Aiza sinis.


Akhmar menoleh ke arah Aiza.  “Belum.  Baksonya enak.”


Uugh… Akhmar bener- bener gila!  Aiza kesal.  Aroma bakso kian menggoda iman.  Apa lagi pandangan Aiza menghadap ke arah etalase dimana tumpukan bakso menggunung, benar- benar melemahkan segalanya.


“Za!”  Akhmar mengangkat garpu yang di ujung terlihat pentolan bakso, lalu memasukkan pentolan itu ke mulutnya. “Lezat gila!”  Akhmar mengacungkan jempol.


“Bakso raksasa nggak usahpakai mie satu, Mas!  Minumnya jus jeruk,” pinta Aiza pada pelayan.


“Baik, Mba.  Ditunggu ya!” pelayan pergi.


Tak butuh waktu lama hingga bakso yang ditunggu pun datang, dihidangkan di meja Aiza.


Aiza tersenyum menatap bakso bulat memenuhi mangkuknya.  Aromanya menggugah selera.  Air lir Aiza sudah lebih dulu menggelitik saat ia menuangkan saus, kecap, dan sambal lalu mengaduknya.

__ADS_1


Seusai membaca basmallah, Aiza langsung menyantap baksonya.  


Ya Allah, rasanya lezat sekali.  Ini adalah bakso paling enak yang pernah ia rasakan.  Ia terkejut ketika di depannya muncul seseosok makhluk yang langsung duduk tanpa permisi, membawa mangkuk yang masih berisi satu bundar bakso.  Tak lain pria itu adalah Akhmar.  


Dasar makhluk aneh!  Suka muncul tiba- tiba.  Kayak jelangkung aja.


Aiza menunduk, melanjutkan makan.  Berusaha tak peduli atas kehadiran Akhmar di hadapannya.  Perutnya sudah sangat lapar sekali.  Ini sudah lewat jam makan siang.  Sudah sore.


“Enak?  Doyan apa lapar?” tanya Akhmar sambil memasukkan pentol bakso yang terakhir kali ke mulutnya.


Aiza tidak menjawab, terus makan tanpa peduli dengan ucapan Akhmar.


“Belepotan, tuh!” ucap Akhmar membuat Aiza langsung meraih tisu dan mengelap sekeliling mulutnya.


“Enggak apa- apa, belepotan tetap cantik kok.”


Aiza malas menanggapi meski mukanya langsung memerah.  Kelezatan si bakso membuatnya lupa diri.  


“Ehmm…”


“Uhuk uhuk…”


Suara batuk- batukan bak manusia TBC yang bersumber dari meja sebelah, membuat pandangan Aiza dan Akhmar sontak menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


Tampak Atep dan Bajul tengah berpura- pura batuk.  Keduanya saling lirik.


Bersambung


__ADS_2