
Mereka selesai makan. Nayla duluan naik motor dan meninggalkan warung. Aiza memasang helm, menunggangi motor baru miliknya. Iya, baru satu bulan yang lalu ia membeli motor matic. Keinginannya membeli motor baru dari hasil tabungan telah terwujud.
“Aiza!” panggil Bajul yang keluar dari warung bakso dan menaiki motor yang terparkir bersebelahan dengan motor baru milik Aiza.
Sejak tadi, Bajul makan bakso di warung yang sama, hanya saja Aiza tidak menyadari itu.
Aiza menoleh, menatap Bajul, yang ia ketahui adalah temannya Akhmar.
“Aku boleh ngomong penting?” Bajul menatap serius.
Melihat ekspresi serius Bajul, Aiza pun bertanya- tanya, apakah gerangan yang ingin disampaikan oleh temannya Akhmar itu? Apakah mengenai Akhmar? Duh… kenapa perasaan jadi nggak enak begini?
“Apa?” tanya Aiza menatap Bajul heran.
__ADS_1
Bajul menghela napas. Ia tampak kesulitan menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan. Ia menggigit bibir bawah, menatap Aiza.
“Ngomong aja!” kata Aiza lagi dengan dahi bertaut saking penasaran.
“Mm… Kamu kan dekat dengan Akhmar. Dan aku juga yakin Akhmar itu sangat mendengar omonganmu. Maksudku, Akhmar itu hanya mau mendengarkan kamu,” ucap Bajul sambil mengusap- usap rambutnya akibat rasa bingung.
“Lalu?”
“Astaghfirullah…” Aiza lemas mendengarnya. “Jadi Vito adalah korban salah sasaran?”
Bajul mengangguk dengan kepala menunduk penuh penyesalan.
“Kenapa kamu lakukan ini ke Akhmar? Kenapa kamu diam- diam menyikut Akhmar?” tanya Aiza yang menyimpan rasa penyesalan jauh lebih dalam.
__ADS_1
“Aku nggak bermaksud membuat Akhmar menjadi seperti ini, tujuanku melakukan semua itu hanya karena ingin Akhmar dan teman- teman tobat. Kupikir, dengan melaporkan ke Pak RT tentang perilaku Akhmar dan teman- teman, itu akan mengurangi tabiat buruk mereka. Kupikir dengan Akhmar mendapat teguran dari papanya Alya, dia juga akan menyesali perbuatannya. Tapi ternyata aku salah, keadaan justru semakin buruk. Aku nggak menyangka jika Akhmar menuduh Vito dalam kasus pelaporan itu. Hanya aku yang nggak memakai barang haram, tapi aku nggak berani menegur mereka secara langsung supaya berhenti. Sebab aku tahu pasti mereka akan mengamuk padaku.”
“Seenggaknya kamu mengakui perbuatanmu waktu itu, pasti nyawa Vito nggak akan melayang kan?” Sesak sekali mendengar cerita itu. bagaimana nasib keluarga Vito? Pasti sedih sekali. Aiza memang tidak mengenali siapa Vito, tapi ia cukup prihatin dengan kejadian itu.
“Aku takut, Za. Kamu tau sendiri Akhmar itu orangnya gimana. Dia keras. Dia brutal. Dia bisa melakukan apa pun. Aku nggak berani mengakuinya. Justru melalui kamu lah aku berharap masalah ini bisa dijelaskan ke Akhmar supaya anggapan Akhmar terhadap Vito yang menilai sebagai pengadu itu nggak terjadi lagi. Katakan ke Akhmar bahwa aku hanya ingin dia meninggalkan hal- hal yang buruk. Mungkin caraku salah. Tapi itulah tujuanku sebenarnya. Aku juga selama ini sering membacakan arti dari surat dan hadist di hadapan Akhmar, itu supaya Akhmar sadar.”
“Kamu yakin nggak mau mengakui hal ini secara langsung ke Akhmar?”
“Jika aku mengakui ini secara langsung ke dia, pasti aku akan menjadi bubur. Maka aku minta supaya kamu yang menyampaikan ini ke dia. melalui caramu bicara, pasti Akhmar bisa mengerti.”
Aiza mengerti letak ketakutan Bajul andai saja dia jujur pada Akhmar. Aiza tahu pria seperti apa yang namanya Akhmar. Namun Aiza meyakini bahwa Akhmar selalu takluk terhadapnya. Bukan takluk karena takut, melainkan takluk karena hati yang mungkin enggan untuk membantah.
Bersambung
__ADS_1