Terjerat Pesona Preman Insaf

Terjerat Pesona Preman Insaf
74. Mengalah


__ADS_3

Aiza semakin menolehkan kepalanya ke samping.  Tak ingin menatap wajah si Rumi.  Ia diam dan tak mau bicara.  Terlalu berharga suaranya untuk melayani wanita itu.


“Perempuan yang gampangan itu nggak berharga di mata laki- laki,” imbuh Rumi lagi.


Gedeg, akhirnya Aiza menoleh dan menatap ke arah Rumi.  Ia tersenyum sinis dan berkata, “Perempuan yang terhormat itu yang menjaga harga dirinya dengan menikahi laki- laki yang tidak beristri.”


Sontak wajah Rumi langsung memerah, senyum yang sejak tadi merekah di wajahnya pun langsung lenyap.


“Kamu ngatain aku?” Rumi terlihat sinis.


“Jadi siapa lagi?  Sebab wanita terhormat itu akan menjaga kehormatannya dari stempel pelakor.”  Senyum Aiza mengembang.  Ia lalu membuka pintu mobil dan turun, menutup pintu dengan hentakan kuat hingga membuat tubuh Rumi terlonjak kaget.


Rumi kesal sekali sampai hampir menangis.


Aiza berpapasan dengan Ismail yang berjalan menuju ke mobil.  “Kenapa turun?  Ada yang mau dibeli?  Kenapa tadi nggak pesan sama abah saja?”


Ismail salah menduga, Aiza tidak bermaksud ingin membeli apa pun.  Dia ingin meninggalkan mobil karena tak mau berdekatan dengan si Rumi.


“Aiza mau naik taksi aja.”  Aiza berlari menuju ke arah jalan, melambaikan tangan pada taksi yang melintas.

__ADS_1


“Aiza!  Hei, Aiza!  Jangan pergi! Kamu harus pulang bersama dengan abah!  Aiza!”


Suara Ismail terus berteriak, memanggil Aiza.  Namun gadis itu tetap masuk ke taksi.  Dalam hitungan detik, taksi melesat pergi.


***


“Huuufth…”  Napas itu keluar dari mulut Akhmar.  Pria itu berada di sisi gedung kampus.  Sendirian.  


Dia menatap sebatang rokok yang ada di jarinya.  Ia menggeleng.  Lalu kembali memasukkan batang rokok ke kotaknya.  Akhmar sudah tidak memiliki pekerjaan lagi sekarang.  Barang- barang yang seharusnya dia kirim ke custumer, hangus terbakar.  Dan itu menyebabkan dia dipecat bahkan didenda.  Motor pun sudah tidak ada lagi.


Ia menumpang mobil pick up yang mengangkut dua ekor kambing kemarin, duduk di bagian bak belakang karena kursi depan sudah dihuni oleh dua orang.  Sesekali ia bertabrakan dengan si kambing di bak itu ketika mobil ngerem atau ban masuk lubang.  


Apes sekali malam itu.  bertatapan mata dengan si kambing, saling senggol dan baunya bikin perut neeg.  


Dan sekarang yang menjadi masalah adalah motor pemberian Aldan.  Sudah hancur.  Semua kekacauan terjadi di hidupnya karena masalah memang bersumber dari dirinya.  Beginilah jadinya, hidupnya kacau.  Akhmar berpikir banyak hal tentang hidupnya.  Semenjak ia mengenal Aiza lebih dekat, pikirannya mulai berubah haluan.  Gadis itu selalu memberikan pelajaran berharga untuknya.  


Akhmar duduk di semen dekat pagar.  Ia mengeluarkan hape.  Ingin menghubungi Aiza.  Apa kabar gadis itu setelah satu minggu tak bertemu?  Hape miliknya sudah diperbaiki.  Sekarang sudah bisa untuk menelepon.  


Akhmar lalu menekan tombol telepon di whatsapp.  Eh, tapi ia salah klik, malah tombol video call yang tersentuh.  Kamera berjalan.  Aiza menjawab VC.

__ADS_1


Gadis itu mengernyit kaget menatap wajah Akhmar.


Tangan Akhmar bergetar melihat wajah Aiza yang muncul di layar hape.  Sampai- sampai hape nya hampir terlepas.  Untung saja masih ada sisa kekuatan untuk memegangnya.


Akhmar tidak menyangka jika Aiza menjawab video call- nya.  dan tepat saat wajah Aiza muncul, rasanya jantungnya seperti tersengat.


“Loh, kamu gimana bisa video call ke aku?”  tanya Aiza menatap wajah Akhmar.  


“Bukan hal sulit bagi seorang Akhmar mendapatkan nomermu.”  Akhmar menjauhkan hape dari wajahnya supaya bisa melihat wajah Aiza dengan jelas.  Sedangkan wajah Akhmar sekarang malah tidak kelihatan di layar hape, hanya kelihatan bagian dadanya saja.


“Trus mau ngapain?  Seminggu kamu nggak dateng untuk setor hafalan, ngajimu juga pasti udah pada lupa kan?  Ingat, kalau hafalannya nggak juga lancar, hukumannya berat.”  Aiza bicara panjang lebar.


“Kamu tau sendiri ayahmu melarang aku ketemu kamu.  Dia pasti bakalan marah besar kalau aku datang ke rumahmu.”


“Dan kamu takut?”


Akhmar tersenyum.  Ia mulai mengarahkan kamera ke wajahnya sehingga Aiza bisa melihat wajahnya.  “Aku nggak takut.  Tapi dia itu kan abah kamu.  Nanti aku kualat kalau melawan.  Mengalah bukan karena takut.  Tapi demi menghormati.”  Akhmar tersenyum tipis setelah mengucapkan kalimat itu.  sejak kapan ia bisa sok bijaksana begitu? 


Pada kenyataannya, dia tidak mau mendatangi rumah Aiza karena terkendala banyak hal.  Yaitu tentang kendaraan yang sudah hangus, membuatnya kesulitan bepergiantanpa kendaraan.  Juga karena malas ketemu abahnya Aiza.  Bisa- bisa ia naik pitam dan menonjok Ismail jika ia khilaf.  

__ADS_1


Perkataan Ismail selalu saja memancing emosinya.


Bersambung


__ADS_2