Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat

Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat
Episode 99. Penginapan gratis


__ADS_3

"Bagaimana anda bisa melakukan ini?" tanya Riel pada Zelvia.


Zelvia tersenyum tipis, "Menurutmu bagaimana?" tanya Zelvia balik.


"Haaah.." Riel menghembuskan nafasnya.


"Anda selalu membuat saya terkejut dan semakin mengangumi anda, nona!" batinnya.


"Aku tidak tahu rencana apa yang kau lakukan, tapi tentang kejahatan itu.. apa Hans sungguh melakukannya?" tanya Riel dengan raut wajah sedikit kecewa.


"Kau kecewa, hm?" tanya Zelvia.


"Ya," Riel mengangguk. "Walau dia bukan sahabat atau temanku, dan aku juga menganggapnya sebagai musuh, tetap saja aku kecewa atas perilakunya! Ayahnya dan ayahku berteman baik, ayahnya juga sangat mementingkan tata krama dan menghargai orang lain, berbeda jauh dengan Hans!" jelas Riel.


"Sudahlah, jangan dipikirkan! Sekarang penginapan ini ada di tanganmu, maka dari itu jagalah dan lakukan tugasmu dengan baik! Jangan melakukan hal yang serupa dengan Hans!" imbuh Zelvia menasehati.


Zelvia kemudian pamit dan beranjak pergi dari ruangan itu, namun tangannya digenggam erat oleh Riel sehingga dirinya berhenti melangkah.


"Ada apa?" tanya Zelvia.


"Nona, ambillah ini!" kata Riel sambil menyodorkan sebuah kartu VVIP berwarna hitam.


"Mengapa kau memberiku kartu khusus?" ucap Zelvia bertanya.


"Kartu ini bisa membebaskan kau di penginapan ini, semua fasilitas bisa kau gunakan secara gratis, tanpa bayaran!" ucap Riel.


"Tolong terimalah, nona! Anggap saja ini adalah balas Budi sebagian untuk anda" tambahnya.


Zelvia mengangguk, ia mengambil kartu itu dari genggaman Riel.


"Oh ya, dimana semua pekerja disini?" tanya Zelvia.


"Mereka sudah kuperintahkan untuk melakukan tugasnya masing-masing lagi, karena jika masalah ini tidak segera diselesaikan, saya takut ada yang menyebarkan rumor aneh di kalangan atas maupun biasa," jelas Riel.


"Tadi saya juga sudah memberikan waktu mereka untuk makan siang dulu, jadi sepertinya mereka sudah semangat!" lanjutnya.


"Baguslah kalau begitu, ya sudah aku pergi dulu!" ujar Zelvia yang kemudian berlalu pergi ke kamarnya


*******


Esok harinya...


Di kamar Zelvia..


Zelvia mengganti pakaian nya, ia menyisir rambutnya dan menguncir rambut itu.


Di depan cermin, matanya terus tertuju pada kalung giok di lehernya, ia menghembuskan nafas panjang dan memikirkan kalung itu.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa aneh pada semua kejadian ini? Novel yang aku tulis, alurnya berbeda jauh seperti semua yang aku alami. Hans? Riel? Bahkan tokoh-tokoh itu tidak ku tulis!" batin Zelvia curiga.


Zelvia pergi keluar kamarnya, ia mencari angin di taman.


"Nona kenapa anda disini?" tanya Rero yang juga sedang membantu pekerja untuk memotong rerumputan yang sudah tinggi.


"Aku hanya ingin mencari angin," ucap Zelvia menjelaskan.


"Pak, sebentar ya!" Rero menunduk, ia pamit izin untuk menghampiri Zelvia.


"Ze, katanya nanti malam ada festival, bisakah anda membolehkan aku kesana?" tanya Rero dengan wajah memelas.


"Hm benarkah? Kalau begitu aku ikut!" sahut Zelvia mengangguk.


"Oh ya, untuk yang kemarin terima kasih ya!" ucap Zelvia tersenyum tipis.


"Ya, itu kan memang sudah tugasku, Ze! Lagipula... aku tidak suka yang namanya kejahatan!" tegas Rero sambil menyilangkan tangannya di depan dada.


Kemarin, saat Zelvia belum menghampiri Clez dan beranjak pulang dari kantor pemerintahan, Zelvia menghubungi Rero lewat pikiran. Ia mengatakan untuk mencari informasi mengenai Hans dan pemberi surat suruhan di cabang XHI.


Benar saja, banyak kejahatan yang dilakukan Hans. Maka dari itu Zelvia berhasil membuat Lessen menyetujui permintaan nya.


"Eh, aku jadi ingat si Lessen itu!" kata Rero tiba-tiba.


"Kenapa dia?" tanya Zelvia penasaran.


"Setelah kasus kejahatan Hans terungkap, orang bernama Lessen itu terus saja mengirimi anda hadiah, tapi Tuan Riel bilang Zeze tidak butuh hadiah-hadiah itu!" jelas Rero.


"Lalu bagaimana Ze? Kan harusnya kita lagi buka hadiah sekarang!" Rero memanyunkan bibirnya, ia kesal pada Riel yang tidak mau menerima hadiah itu.


"Kau itu sudah tua, tapi masih seperti anak kecil!" Zelvia menyentil dahi Rero.


"Mana ada! Saya hidup baru 200 tahun!" ucap Rero yang kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Ee-eee saya pergi dulu! Jangan lupa malam nanti kita ke festival ya!" ujar Rero yang kemudian berlalu.


"200 tahun?"


Malam harinya..


"Apa anda benar-benar tidak ingin ikut?" tanya Zelvia pada Riel yang sudah menyediakan kereta kuda untuk Zelvia, Rero, dan Clez untuk pergi ke festival.


"Ehm, maaf saya tidak tertarik!" jawab Riel terbata-bata.


Walau dulu Riel juga pernah hidup miskin, tapi ia tidak akan pergi ke festival karena sekarang statusnya adalah anak dari seorang menteri. Ia ingin menjaga nama baik orang tuanya dan juga dirinya sendiri dari respon negatif orang-orang.


Saat sampai di festival, Clez meminta izin pada Zelvia untuk pergi ke kamar mandi sebentar karena dirinya mual. Zelvia tersenyum dan mengizinkan hal itu, ia lalu pergi melihat-lihat barang yang terjual disana.

__ADS_1


"Nona, apa disini ada yang jual ikan mentah?" tanya Rero.


"Ada, memangnya kamu mau makan ikan mentah? Disini banyak orang loh!" jawab Zelvia santai.


"Aku sudah lama sekali tidak makan ikan mentah, makanan di penginapan tidak enak!" keluh Rero.


"Pergilah ke arah kanan, seperti nya ada yang menjual makanan laut!" jelas Zelvia sambil menunjuk ke arah kanan.


Kini, Zelvia berjalan sendiri di festival itu. Ia menoleh ke berbagai arah, dan membeli sesuatu yang ia inginkan dengan secukupnya.


"Uhuk...uhuk.. " suara seorang pria yang sedang batuk-batuk itu membuat Zelvia mencari-cari keberadaan nya.


"Suara itu.." Batin Zelvia.


"Permisi-permisi!" ucap Zelvia sopan.


"Aku tidak boleh kehilangannya!" gumam Zelvia.


BRUKKKK...


Zelvia menabrak seseorang karena terlalu fokus akan sumber suara yang ia cari sampai tidak melihat ke arah depan, Zelvia membungkuk sambil memohon maaf.


"Maaf, saya tidak sengaja! ucap Zelvia sopan.


Lelaki yang memakai pakaian serba hitam dan jubah itu hanya berdehem, namun setelah melihat Zelvia beranjak pergi meninggalkan nya, sontak ia langsung menarik lengan Zelvia.


"Jangan!" ucapnya sedikit berteriak.


Zelvia kembali menoleh, "Ada apa?" tanya Zelvia bingung.


"Tempat itu mempunyai banyak jebakan, sebaiknya kau tidak pergi kesana!" ucapnya mengingatkan


"Maaf, tapi saya tidak mengenal anda, tuan!" ucap Zelvia.


Lagi-lagi, saat Zelvia hendak pergi lelaki itu kembali melakukan hal yang sama.


"Jangan pergi!" ucapnya.


Zelvia terdiam, "Hem baiklah, tapi tolong lepaskan aku!" ucap Zelvia.


"Tanganku.. seperti ada aliran listrik yang menyengat!" batin Zelvia bergidik ngeri.


Entah kenapa, pria tersebut memijit pelipisnya sendiri, ia lalu pergi meninggalkan Zelvia begitu saja.


******


Hai readers, apa kabar? Semoga sehat selalu dan dalam lindungan-Nya. Mohon maaf author baru up setelah dua hari ini, karena ada tugas dan ujian🙏🏻

__ADS_1


Terima kasih yang sudah membaca novel ini dan memberikan dukungan.


Update tidak menentu, kalau ada waktu kosong diusahakan up setiap hari per bab. Boleh mampir juga di "Cinta Untuk Hasna" sudah up tiga episode ya..di profil author juga ( Icha Yurianne ) terima kasih🥰❤️


__ADS_2