Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat

Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat
Episode 121. Berbincang dengan Riel


__ADS_3

"Silakan, nona!" ujar Riel sopan, mempersilakan Zelvia untuk duduk di ruang kerjanya.


"Pelayan!" panggil Riel lantang.


Mendengar panggilan dari Riel, salah satu pelayan wanita datang dan membungkuk hormat di hadapan Riel. "Ada apa, tuan?" tanyanya.


"Tolong buatkan teh madu yang hangat dan beberapa cemilan ringan, dengan jumlah masing-masing dua!" perintah Riel.


Pelayan itu pun dengan cepat mengangguk dan mengiyakan. Ia lalu segera pergi menyiapkan hal yang diminta Riel.


"Bagaimana kalau kita minum teh dulu untuk menjernihkan pikiran? Pelayan akan segera datang dan menyiapkan tehnya." ujar Riel dan disahut dengan anggukan kepala oleh Zelvia.


Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar.


"Permisi..." ucap pelayan tadi.


"Maaf, saya hanya ingin menghidangkan makanan dan minuman yang diminta Tuan Riel," ucap pelayan itu.


"Taruh saja disitu!" titah Riel sambil menunjuk ke arah meja yang berada di dekatnya.


"Baik." sahut pelayan itu.


Setelah selesai menyiapkan teh madu hangat dan beberapa cemilan ringan, pelayan itu pun kembali pergi dan tak lupa ia juga menutup pintu ruangan Riel.


"Silakan diminum dulu, nona!" ucap Riel sambil menyerahkan secangkir teh pada Zelvia.


Zelvia tersenyum tipis, ia lalu mengambil secangkir teh yang diberikan Riel itu.


"Wanginya harum, rasanya pun enak" puji Zelvia.


"Benarkah? Teh itu adalah pemberian dari nenek saya. Ia mendapatkan teh ini dari perusahaan teh ternama. Keluarga saya juga menyukainya.." jelas Riel tersenyum.


"Ya, ini enak." jawab Zelvia.


Takk... Zelvia meletakkan cangkir teh itu diatas meja dekat Riel. Ia lalu kembali menatap Riel dengan wajah serius.


"Baiklah, kita langsung ke pembicaraan intinya saja. Jadi, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Zelvia.


"Ini mengenai masalah penginapan ini, nona" jawab Riel.


"Saya tidak tahu apakah nona berkenan untuk membicarakan ini dan memberikan usul pada saya. Saya harap, nona tidak keberatan!" ucap Riel.

__ADS_1


"Yahh, tentu saja aku tidak keberatan jika itu bukan masalah yang membawa nama banyak orang" jawab Zelvia.


"Terima kasih," sahut Riel.


"Jadi, beberapa hari ini saya sedang memiliki masalah dengan keluarga Count Raphaelo karena keluarga mereka memiliki banyak hutang yang belum terbayar pada saya." Riel mulai memasang wajah serius sambil menjelaskan.


"Namun, dikarenakan keluarga saya mempunyai beberapa usaha dan bisnis dengan keluarga Count Raphaelo, maka dari itu saya masih membiarkannya untuk sementara. Tapi sepertinya, Count Raphaelo akan segera berpindah tangan pada keluarga Grand Duke Oswerd karena kekuasaannya dan kekayaannya yang besar. Bahkan, keluarga saya yang hanya perdana menteri ini tidak mungkin bisa bersanding dengannya." jelas Riel.


"Count Raphaelo yang memiliki banyak usaha perkebunan dan peternakan, tentu saja sangat berguna bagi Grand Duke Oswerd. Maka dari itu, Grand Duke sedikit-sedikit mulai melunasi hutang Count Raphaelo, dan keluarga saya mulai kehilangan kerja sama dengan keluarga Count Raphaelo." Riel melanjutkan ucapannya.


"Dan sekarang, Grand Duke Oswerd rencananya ia ingin mengambil hak atas penginapan ini, dan semua pekerja disini akan dipecat" ujar Riel.


Tuk...tuk... Zelvia mengetuk jemarinya di atas meja.


"Dibanding itu, darimana kau mendapat informasi tersebut?" tanya Zelvia.


Riel sedikit tersentak mendengar pertanyaan Zelvia. Namun, ia berusaha memasang wajah dan ekspresi yang tenang.


"Beberapa hari terakhir saat dikabarkan bahwa Count Raphaelo bekerja sama dengan Grand Duke Oswerd, saya mulai curiga dan akhirnya menyelidiki beberapa hal. Setelah informasi lebih lanjut, saya baru menyadari bahwa Grand Duke Oswerd ingin mengambil alih Penginapan ini" ucap Riel.


Zelvia menyunggingkan senyuman di bibirnya. "Aku pikir, Grand Duke Oswerd agak mirip dengan Hans" sahut Zelvia.


"M-maksud nona?" tanya Riel bingung.


"Itu artinya.." Riel tampak berpikir.


Smrikk.. Zelvia tersenyum menyeringai, ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi dari ruangan Riel.


"Riel, kau sudah belajar dari pengalaman Hans. Maka dari itu, untuk ini maka aku tidak akan campur tangan dengan masalahmu, kecuali dalam hal mendesak" ujar Zelvia.


"Tapi nona.."


Zelvia menghentikan langkahnya, ia lalu berbalik badan dan menoleh ke arah Riel.


"Kau tidak bisa terus mengandalkan usulan dan keputusanku. Bagaimanapun juga, kau adalah seorang pemimpin sekarang. Carilah cara agar para pekerja bisa tetap menetap pada pekerjaan mereka tanpa harus dipecat, dan cara agar kau tetap bertahan di posisimu sebagai pemilik penginapan saat ini." ucap Zelvia.


"Sifat Grand Duke Oswerd dan Hans tidak jauh berbeda, yang berbeda hanyalah kau dan dia tidak ada dendam pribadi. Maka dari itu, ini akan lebih mudah daripada saat kau menghadapi Hans. Ingatlah Riel, pemimpin yang bijaksana adalah pemimpin yang bisa membawa rakyatnya menuju kemakmuran dan kesuksesan, sama denganmu saat ini, berpikirlah matang-matang dan bijaksana, hadapi masalahmu dengan berani, demi kamu, para pelanggan, dan para pekerjamu!" jelas Zelvia panjang lebar.


Riel mengangguk paham, ia lalu mengepal tangannya. "Count Raphaelo, Grand Duke Oswerd, aku tunggu tindakan kalian" batin Riel.


Setelah keluar dari ruangan Riel, Zelvia memegang kepalanya dan terus memejamkan matanya karena kepalanya terasa berat sekali saat ini. Sebenarnya, sedari tadi ia sudah mulai merasakan pusing, tapi karena ingin menghargai Riel jadi ia menahan rasa pusing itu.

__ADS_1


"Ada apa denganku?" tanya Zelvia membatin.


Zelvia berjalan gontai menuju kamarnya, ia lalu mengeluarkan kristal hijau miliknya.


"Nah, untung saja ada obat pereda nyeri disini" ucap Zelvia.


Zelvia segera meminum ramuan yang ada dalam kristal hijau itu. Tapi, seperti tidak berefek sedikit pun, kepalanya malah tambah terasa berat dan sangat pusing.


"Apa aku panggil Rero saja ya?" batin Zelvia.


Saat Zelvia ingin menghubungkan komunikasi nya dengan Rero. Tubuhnya tidak terkendali, ia lalu terjatuh dan tersungkur di atas lantai.


Brukk...


🍂🍂🍂🍂


Disisi lain, Rero sedang sibuk berlatih pedang di taman. Ia memainkan pedangnya dengan lincah.


"Huhh, lelah sekali!" ucap Rero menghela nafas.


Degg...degg... Tiba-tiba saja, jantung Rero terasa sesak dan berdetak kencang. Ada rasa tidak nyaman dalam dirinya.


"Kenapa ya?" gumam Rero bertanya.


"Zeze..tidak apa-apa kan?" tanyanya lagi.


"Hai, tuan muda!" sapa pelayan wanita yang tiba-tiba saja datang.


"Oh, ya hai" jawab Rero singkat dan tentu saja dengan wajah datar.


"Ih, tuan muda kenapa disini sendirian? Dimana nonamu dan temannya?" tanya pelayan itu.


Bukannya menjawab, Rero malah gelisah dan terus memikirkan Zelvia.


"Maaf, sepertinya saya masih ada urusan!" ujar Rero yang ingin segera menghampiri nonanya itu.


Namun, langkahnya terhenti karena pelayan wanita itu menghalangi jalan Rero dengan tangannya.


"Kenapa terburu-buru sekali sih? Apa tuan ingin menemui nona? Tenang saja, temanku tadi disuruh Tuan Riel untuk menyiapkan makanan dan minuman karena mereka sedang berbincang. Jadi, tidak usah memikirkan nya, dia pasti baik-baik saja!" halau pelayan itu.


Meski sudah mendengar penjelasan wanita itu, Rero masih gelisah akan nonanya.

__ADS_1


"Apa nona benar baik-baik saja?" batin Rero bertanya.


__ADS_2