
"Hem, saya tidak tahu banyak tentangnya. Yang jelas, ia adalah wanita yang terlalu posesif pada tunangannya itu."
Benar.. seperti informasi yang dikatakan oleh Daisy dan teman-temannya.. ia sangat posesif! Tapi..
"Lalu, bagaimana sikapnya terhadap seseorang? Apa.. dia bersikap sopan, ramah? Atau.. sebaliknya?" tanya Zelvia.
Mendengar pertanyaan Zelvia, Minhao berkerut kening. "Tidak ada yang bisa menebak sifatnya, ia jarang keluar dari kediamannya dan menyendiri di dalam. Terkadang, ia juga sering mengirim surat pada Hans, tunangannya. Tapi, kasihan sekali, tidak ada surat yang dibalas oleh tunangannya itu," jelas Minhao.
"Aku turut kasihan padanya," sahut Zelvia pelan.
"Hans memang sudah benar-benar keterlaluan! Padahal, ia mempunyai tunangan yang sangat mencintainya. Tapi, di belakang, ia masih bermain dengan wanita lain, bahkan sampai mencampakkan gadis-gadis muda di luaran sana!" batin Zelvia.
"Sebenarnya, jika dipikir-pikir, wanita itu tidak terlalu buruk." ucap Zelvia mengemukakan pendapatnya.
"Maksud nona? Apa nona tahu, ia itu terlalu posesif pada tunangannya. Bahkan, jika tunangannya pergi bersama wanita, ia pasti marah karena cemburu!" jelas Minhao.
"Kau tidak bisa mengerti perasaan wanita, Minhao! Dia seperti itu, karena hatinya terluka melihat orang yang dicintainya, malah pergi bersama wanita lain," jelas Zelvia.
Minhao terdiam, ia mencerna perkataan Zelvia satu demi satu. Ia mulai mengerti, bahwa tidak ada salahnya juga perkataan Zelvia.
"Yahh, aku tahu itu" jawab Minhao.
__ADS_1
Zelvia lalu kembali bertanya, "Lalu, bagaimana dengan keluarganya? Dan orang dalam rumahnya?" tanya Zelvia.
"Sama seperti putrinya, ayah dan ibunya tidak terlalu banyak bicara kecuali hari-hari penting. Tapi.." Minhao menghentikan ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Zelvia penasaran.
"Aku dengar-dengar, kedua orang tuanya selaku pemilik serikat perdagangan terkenal kedua di kota ini, sangat mengekang kebebasan putrinya, Nona Xie Ra. Mereka memaksa Xie Ra untuk menjadi pribadi wanita yang baik, mereka juga melarang Xie Ra belajar melukis dan bela diri, karena bagi mereka itu tidak penting dalam keluarga bangsawan sepertinya." jelas Minhao.
"Jadi, keluarga Nona Xie Ra adalah bangsawan ya?" tanya Zelvia.
Minhao mengangguk, "Ya, mereka adalah bangsawan dengan lencana perak, yang artinya keluarga tinggi dan berkecukupan," Minhao kembali menjelaskan dengan detail.
"Anu.. nona!" Minhao memanggil Zelvia, ia menatap Zelvia ragu.
"Ehm, ya?" tanya Zelvia bingung.
"Bagaimana dengan yang waktu itu? Apa, anda menyetujui jika saya menjadi murid anda?" tanya Minhao memasang mata memelas.
"Emm..kau tidak boleh terlalu percaya padaku," ucap Zelvia.
"Kenapa?" tanya Minhao.
__ADS_1
"Karena.. yaa tentu saja aku bukan orang hebat dan berpengalaman, jadi berhenti memintaku menjadi guru!" jelas Zelvia.
"Kalau begitu, aku pamit undur diri, karena harus segera pergi kesana," ujar Zelvia yang kemudian bangkit dan hendak
"Tunggu, nona!" Minhao ikut bangkit dan memanggil Zelvia. Zelvia pun menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Ada apa, hm?" tanya Zelvia.
"Akan lebih mudah jika ada aku, aku akan ikut membantu! Tolonglah nona, kali ini aku ingin membantumu!" ujar Minhao serius.
Zelvia tersenyum tipis, "Baiklah, kalau begitu, ayo!" ajak Zelvia.
Minhao membuka pintu dibalik dinding besar itu, ia lalu kembali mengunci rapat ruangan bawah tanah itu dan berjalan di belakang Zelvia.
"Nona, tunggu saya!" ucap Minhao, ia lalu mensejajarkan langkahnya dengan Zelvia.
Sebelum melanjutkan perjalanan menuju serikat perdagangan Mue Wan, Minhao meminta beberapa bawahannya untuk berjaga.
"Kalian tunggu disini, aku harus pergi!" titah Minhao.
"Lalu.. tiga orang kemarilah!" titahnya lagi.
__ADS_1