
🍂🍂🍂🍂
"Pada akhirnya, aku akan benasib buruk seperti ini ya," ucap seorang wanita tua dengan langkah yang lemah dan juga tubuhnya yang membungkuk itu muncul di hadapan Zelvia dan Greysa.
"Haaa... sepertinya aku memang ditakdirkan untuk mati!" ucap wanita tua tersebut.
"Siapa dia?" tanya Zelvia dengan pandangan yang masih terfokus pada wanita tua itu.
"Wanita itu adalah penyihir hitam yang berevolusi menjadi hewan spirit dengan dua gabungan." sahut Gresya.
"Rubah yang manis, sudah bertahun-tahun lamanya, kau masih mengenaliku rupanya." ucap wanita itu.
"Tapi siapa dia?" tanya wanita itu sambil menunjuk ke arah Zelvia.
Rosella mengulurkan tangannya pada Zelvia.
"Apa dia manusia? Kalau begitu, namaku Rosella. Salam kenal!" tambah Rosella, si wanita tua tadi.
"Ehm iya" sahut Zelvia singkat dengan wajah yang penuh pertanyaan.
Greysa menatap Rosella dengan tajam dan dengan wajah yang penuh emosi. "Bagaimana kau bisa keluar dari sana? Ini bukan tempatmu, pergilah dari sini!" usir Gresya dengan tatapan tajam.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakiti kalian lagi!" ucap Rosella.
Rosella menatap ke arah langit, "Apakah ini karma bagiku?" gumamnya lirih.
"Aku sudah lelah hidup seperti ini!" lanjutnya.
Gresya mengepal tangannya, "Kami para hewan spirit tidak pernah menginginkan kehadiran kalian para penyihir hitam di hutan spirit ini. Maka dari itu, sudah sepantasnya kau mendapat karma dan balasan yang setimpal seperti kau memperlakukan kami!" jelas Gresya.
Greysa mengeluarkan sihirnya, ia lalu berubah menjadi manusia.
"Nona, dia adalah seorang wanita yang tidak tahu diri, lebih baik kita membunuhnya sekarang agar di masa depan tidak ada orang tidak tahu diri seperti dia!" ucap Gresya geram.
Zelvia menatap kedua bola mata Gresya yang sudah memerah seperti ingin menahan tangisnya. Zelvia lalu menghampiri Greysa dan memeluknya.
"Aku tidak mengetahui masalahmu dengan penyihir hitam itu, tapi aku tahu, kau pasti memiliki dendam dengannya kan?" tanya Zelvia.
Gresya sontak langsung menoleh ke arah Zelvia, ia mengangguk dan menceritakan sedikit kisahnya.
Flashback...
Hujan lebat membanjiri hutan spirit, saat itu hutan spirit masih tidak terawat dan belum ada manusia yang tidak berkemampuan datang kesana.
"Nenek.." panggil seorang rubah kecil sambil berlari. Ia memanggil-manggil neneknya yang ada di seberangnya.
"Gresya, jangan lari-larian, kau baru sembuh kan?" tanya sang nenek pada Gresya.
Saat itu, Gresya masih seekor rubah yang masih kecil. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya dan juga neneknya yang masih hidup.
Di rumahnya, Gresya tidak akan menjadi sosok seekor rubah, ia akan berevolusi menjadi manusia karena ayah Gresya merupakan manusia.
"Tapi nek, Greysa sudah sembuh!" timpal Gresya.
"Hahh, kau ini memang keras kepala! Kan nenek sudah bilang, Gresya jangan keluar rumah dulu kalau belum sembuh!" ucap sang nenek.
"Iya nek! Oh ya, nenek kok diluar? Masuk yuk nek, cuacanya dingin karena lagi hujan, nanti nenek sakit" ucap Gresya.
Nenek Gresya mengulas senyum kehangatan di wajahnya, ia lalu mengusap wajah Gresya pelan.
PRANG...
Suara dari dalam rumah membuat nenek dan Gresya tersentak kaget. Mereka pun segera masuk ke dalam untuk memastikan keadaan.
"Dasar wanita tidak berguna!" teriak seorang pria dengan wajah yang sudah merah karena tersulut emosi.
__ADS_1
"Ayah..!" panggil Gresya.
Pria itu adalah ayah Gresya. Hubungannya dengan ibu Gresya memang kurang baik beberapa hari ini.
Ayah Gresya menoleh ke arah Gresya, dengan cepat ia menghampiri putri kecilnya itu.
Plakkk... tamparan keras mengenai wajah Gresya.
"A-ayah.." ucap Gresya terbata-bata.
"Hentikan!" ucap ibu Gresya yang juga ada disana.
"Jika kamu membenciku, maka bencilah aku saja! Jangan benci Gresya, dia putri kita!" ucap sang ibu.
"Hahaha... anak katamu? bisa saja itu adalah anak dari pria lain, karena rubah ekor sembilan kan mitosnya adalah 'penggoda pria' yang sangat licik.. ckckck" ucap ayah Gresya.
"Ayah, jangan berkata seperti itu pada ibu!" ucap Gresya dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Ibu Gresya menaruh jari telunjuk nya di bibir Greysa. "Jangan sayang, biar ibu saja yang jawab perkataan ayah ya!" ucap sang ibu sembari memeluk Gresya sambil menangis.
"Kalau kau berpikir seperti itu tentangku, mengapa kau menikahiku?! Mengapa kau tidak menikahi manusia seperti mu?!" tanya Ibu Gresya dengan berlinang air mata.
Nenek Gresya yang juga berada di sana hanya menatap kosong ke arah menantunya. Ia tidak habis pikir akan tingkah laku menantunya itu.
"Yah, aku tahu aku memang salah! seharusnya aku menikah dengan wanita dari kalangan penyihir hitam itu! Sekalian memberantas penggoda pria sepertimu!" hina ayah Gresya yang setelah itu berlalu pergi.
Gresya, ibu, dan neneknya hanya duduk termenung. Mereka menangis sambil berpelukan.
*****
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan dari arah luar. Ibu Gresya segera membukakan pintu tersebut.
"Iya, dengan siapa ya?" tanya ibu Gresya.
"Apa yang mau kalian lakukan? Lepaskan ibu!" ucap Gresya.
Namun, kedua pria tersebut tidak memperdulikan ibu Gresya dan terus menyeretnya keluar.
"Pergilah nak!" ucap sang ibu.
"Ibu..hiks.. ibu mau kemana" tanya Gresya sambil berlari menuju ke arah ibunya.
Nenek Gresya yang sudah tersadar segera menggendong Gresya. "Jangan nak, jangan ikuti ibumu!" ucap nenek Gresya lembut.
Namun, Greysa tetap kokoh akan pendiriannya dan berlari pergi menghampiri ibunya. Akhirnya, sang nenek pun ikut berlari untuk memastikan keselamatannya cucunya.
"DASAR PELA**R!" teriak ayah Gresya.
Gresya menutup telinganya, ia sangat kaget mendengar teriakan sang ayah yang berada di dalam semak.
"Ayah, ibu, kenapa kalian disini?" tanya Gresya pelan.
Nenek Gresya segera menutup mulut Gresya dengan tangannya, ia kemudian bergeleng untuk mengisyaratkan agar tidak berisik. Gresya pun menurut dan diam sambil mengintip ayah dan ibunya.
"Kau bilang, kau itu rubah baik-baik. Namun apa ini? Aku sungguh kecewa padamu!" ucap ayah Gresya yang bernama 'Xiro', dia adalah seorang manusia biasa tanpa kemampuan apapun yang pertama kali mengunjungi hutan spirit dan menikah dengan seekor rubah ekor sembilan betina yang juga ibu dari Gresya.
"Ini.. ini semua tidak benar, mereka menjebakku!" bantah Leira, ibu Gresya sambil menunjuk ke arah dua pria yang menculiknya tadi dan seorang wanita cantik di samping kedua pria itu.
"Sayang, jadi dia istrimu?" tanya wanita itu sambil bergelayut manja di lengan Xiro.
Nenek Gresya yang melihat hal itu pun segera menutup kedua mata Gresya dengan tangannya.
"DASAR PRIA TIDAK TAHU DIRI!" teriak Leira dengan wajah emosi.
__ADS_1
Xiro berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Leira yang bersimpuh di tanah dan terikat oleh tali. Ia lalu memegang dagu Leira. "Kenapa? Apa kau marah?" tanya Xiro.
Leira mengepal tangannya, ia sangat muak saat ini.
"Lepaskan aku!" ujar Leira memberontak.
"Oke, aku lepaskan." ucap Xiro sambil melepaskan dagu Leira dari tangannya.
"Ish, tidak seru!" protes seorang wanita yang juga wanita selingkuhan Xiro.
"Baiklah, kau mau melihat dia disiksa atau dibunuh langsung?" tanya Xiro sinis.
Wanita itu tersenyum licik, ia lalu membisikkan sesuatu di telinga Xiro dan disahut anggukan kepala oleh Xiro.
Kedua pria yang juga ada disana segera mendengarkan perintah nonanya yang juga selingkuhan Xiro. Mereka mendekati Leira dengan tatapan yang ganas.
"Hahaha, memang seorang siluman wanita, benar-benar cantik." ucap mereka dengan wajah memuakkan sekaligus menjijikan itu.
Salah satu dari pria itu mendekati Leira dan mengelus wajahnya. "Sepertinya pekerjaan kali ini akan menyenangkan, kita harus berterima kasih pada nona." ucap salah satu dari mereka.
"Tidak! Xiro, tolong aku!" teriak Leira lirih.
Namun, bukannya memperhatikan istrinya, Xiro justru sibuk bermesraan dengan selingkuhannya.
Leira yang tidak ingin harga dirinya hancur, akhirnya memutuskan untuk menghancurkan dirinya dengan sisa sihir yang ada di tubuhnya. Karena, memang semenjak ia menikah dengan Xiro, ia melumpuhkan kekuatannya sesuai dengan kemauan Xiro.
DUARRR!
Gresya kecil yang mendengar hal itu segera membuka lebar matanya, ia sangat terkejut melihat sang ibu tercinta yang telah berbaring di atas tanah dengan tubuh yang berlumuran darah.
"Gawat, dia bunuh diri!" ucap Xiro kaget, begitupun dengan selingkuhannya.
"IBU!" teriak Gresya. Ia menghampiri ibunya.
"Ibu... ibu... hiks, jangan tinggalkan aku.. ibu, ibu sudah berjanji untuk berada di sisiku selamanya kan?" ucap Gresya dengan tangisan yang membanjiri wajahnya.
"Sa...yang.." lirih Leira sambil mengelus pipi Gresya.
"Ibu, jangan tinggalkan aku Bu.. hiks.." tangis Gresya.
"Oh, ternyata ada anak haram juga disini" ucap Xiro.
Nenek Gresya segera menghampiri Gresya dan mengangkat tangannya. "Hentikan ini, hentikan!" ucapnya lirih.
Namun, tidak ada belas kasih di wajah dan hati Xiro untuk istrinya dan keluarganya.
"Bunuh mereka!" titah Xiro pada para pengawal disana.
Para pengawal pun mengangguk, sementara nenek Gresya dan ibu Gresya memeluk tubuh Gresya erat untuk melindunginya.
SRETT...BOOMM....DUARR! dentuman-dentuman keras terdengar disana. Tangis pilu dari anak yang masih kecil memeluk kedua tubuh yang sangat ia sayangi. Tubuh yang telah berubah kembali menjadi dua ekor rubah dengan darah yang berlumuran dimana-mana.
"Ibu...nenek..." panggil Greysa di tengah gumpalan asap akibat ledakan.
Leira dan nenek Gresya sama-sama mengulas senyum di wajahnya.
"Pergilah dari sini, selamatkan dirimu! Hanya kamu yang bisa bertahan hidup disini nak!" ucap mereka serempak.
"Tidak, aku ingin ikut dengan ibu dan nenek! Aku ingin mati saja!" ucap Gresya histeris, ia masih setia dengan tangis dan air mata yang terus mengalir di wajahnya.
Untuk terakhir kalinya, Leira memeluk Greysa. "Ibu sudah menghancurkan diri ibu, maka hidup ibu tidak akan lama lagi. Selain itu, karena ledakan tadi, kemungkinan kematian ibu sangat besar. Ibu mohon.. hiduplah dengan baik, balaskan dendam ini pada mereka yang telah merebut kebahagiaan kita!" ucap Leira menangis.
"Dan ingat, jangan pernah berbelas kasih dengan golongan dari penyihir hitam" ucap Leira dengan tatapan tajam. Ia pun menghembuskan nafas terakhirnya bersama dengan ibunda tercinta sekaligus nenek dari Gresya.
Gresya menangis, namun ia mengerti perkataan ibunya dan segera kabur dari tempat itu dengan langkah gontai.
__ADS_1
"Ibu..nenek.. aku akan membalaskan dendam kalian!" batin Gresya.
END FLASHBACK