
"Ha..ha..apa kau bercanda?" tanya Zelvia sambil tertawa kecil.
"Tidak, siapa yang bilang aku bercanda?!" tanya Hans balik.
"Coba katakan, apa syarat yang kau ajukan tadi?" tanya Zelvia.
"Tentu saja aku memintamu untuk menjadi kekasihku!" jelas Hans percaya diri.
"Maaf, tapi aku tidak terima tawaranmu, Tuan Hans," ucap Zelvia tersenyum tipis.
"A-apa yang kau katakan?!! Bisa-bisanya kau menolakku!" tegas Hans terkejut.
"Aku sarankan, jangan terlalu percaya diri! Aku ini perempuan baik-baik, lagipula.. untuk apa aku menjadi kekasihmu? Aku sudah mempunyai pengawal dan pelayan di sisiku, dan aku tidak butuh orang lain." jelas Zelvia.
"Dasar perempuan keras kepala! Apa kau tidak tahu, berapa banyak perempuan yang ingin menjadi kekasihku?!" tanya Hans berteriak.
"Oh oh, tuan, bisakah kau tidak berteriak? Gendang telinga ku hampir pecah karena mu!" seru Zelvia.
"Heh, kalau begitu, bagaimana nasib karyawan disini? Jika kau menolak tawaranku, maka mereka juga akan dipecat!" tegas Hans sambil tersenyum licik.
"Pecat saja, itu juga bukan urusanku!" ucap Zelvia acuh tak acuh.
"Aku pikir, dia wanita yang baik dan mau menolong kita, tapi nyatanya dia hanya perempuan rendahan." bisik salah satu karyawan pada temannya.
"Jika aku adalah dia, aku pasti akan menerima tawaran bagus itu. Selain aku akan menjadi wanita kaya, aku juga bisa menyelamatkan semua karyawan disini kan?" sahut temannya.
"Hei! Bisakah kalian berhenti bicara? Nona Zelvia adalah wanita yang baik!" imbuh Aneelie.
__ADS_1
"Urusi saja urusanmu, lihat bagaimana kita akan dipecat dan keluar dari penginapan ini, maka kau pasti akan membenci wanita itu!" ucap seseorang di sebelah Anee.
"Tidak, sekalipun aku dipecat aku tidak akan membenci Nona Zelvia!" tegas Anee yang membuat semua karyawan terdiam seribu bahasa.
"Nona, aku tawarkan sekali lagi, maukah kamu menjadi kekasihku?" ucap Hans tulus.
"Tidak!" tegas Zelvia.
Hans mengepalkan tangannya, ia kesal sekaligus malu di depan banyak orang. Tidak sedikit orang yang mencemooh nya karena ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita.
"Haha, nona, anda sangat hebat bisa membuat saya kesal seperti ini!" Hans kembali tersenyum dan mendekati Zelvia.
Tap...tap...tap...
Langkah kaki begitu jelas terdengar dari arah luar ruangan pusat, semua mata tertuju pada pintu dan sesegera mungkin mereka membungkuk hormat melihat siapa yang datang.
"Teman, sudah lama tidak bertemu, ternyata diam-diam kau sudah mempunyai pasangan ya?" ucap pria yang baru saja datang.
"Lama tidak bertemu!" ucap Hans sambil berjabat tangan.
"Bagaimana kabarmu, teman?" tanya pria bernama Riel Qioan, dia adalah anak dari menteri yang kaya raya dan juga sahabat Hans yang sebentar lagi akan membeli penginapan.
"Aku baik, bagaimana denganmu?" tanya Hans balik.
Namun, mata Riel tertuju pada Zelvia. Ia tersenyum tipis dan menghampiri Zelvia.
"Oh, hai!" sapa Riel.
__ADS_1
Zelvia menoleh, ia terkejut melihat pria di sampingnya. "Sepertinya, aku pernah melihatnya, tapi dimana?" itulah pikiran Zelvia saat ini.
"Apa ini takdir? Kita bertemu lagi, Nona!" ucap Riel sambil mengulurkan tangannya bermaksud ingin berjabat tangan.
"Ah, aku tahu! Dia adalah pria yang berebut giok denganku kan?" batin Zelvia.
"Nona, apa anda masih ingat giok yang kita perebutkan waktu itu? Dan..apa anda masih menyimpan giok itu?" tanya Riel.
"Kenapa dia bertanya seperti itu? Apa ada masalah dengan giok itu?" batin Zelvia.
"Tidak, setelah aku gunakan, ternyata tidak ada manfaatnya! Lagipula, giok itu tidak bisa dibuang jadi aku bakar saja!" ucap Zelvia.
"Huhhh syukurlah.." Riel tersenyum lega.
Hans menghampiri sahabatnya, "Apa-apaan kamu?" tanyanya sambil menarik lengan Riel. "Dia wanitaku, aku mohon bersikap yang sopan padanya," ucap Hans dingin.
"Oh, ternyata dia kekasihmu? Kenapa aku baru tau, hmm?" tanya Riel tidak suka.
"Dia memang kekasihku, maka dari itu aku mohon jangan terlalu dekat dengannya! Kau tahu sendiri bukan, bagaimana aku bersikap pada kekasihku?" Hans tersenyum dingin.
"Aihhh mereka lagi ngapain sih?" Zelvia memutar bola matanya malas. Tanpa sengaja, ia melihat sebuah berkas yang ditaruh di amplop cokelat di meja.
"Bagus!" gumam Zelvia.
Zelvia membuka amplop itu pelan, agar kedua pria itu tidak mengetahuinya. Zelvia memasukkan kertas lain yang berisi tentang penetapan penginapan, jadi penginapan itu tidak akan jatuh pada Riel.
"Tuan tuan, aku pamit pergi, " ucap Zelvia sopan.
__ADS_1
"Nona, tunggu!" panggil Hans dan Riel bersamaan.
Zelvia tidak mementingkan mereka, ia tersenyum dan berlalu begitu saja.