
Rero menghela nafasnya panjang, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak sanggup melihat bola mata nonanya itu.
"Aku tahu, Ze!" jawabnya pelan.
Zelvia tersenyum tipis, "Jika kau tidak ingin memberi tahunya pun tidak masalah, kau mempunyai hak untuk itu!" ucap Zelvia sambil menepuk pelan bahu Rero.
Zelvia berdiri, ia melangkah ke depan dan membelakangi tubuh Rero.
"Aku hanya penasaran, apakah kau mempunyai hubungan dengan keluargaku?" tanya Zelvia melirik Rero sekilas.
"Tapi, aku juga tidak bisa memaksamu memberi tahukan kebenarannya padaku. Karena aku juga menyembunyikan sesuatu darimu, Rero!" batin Zelvia menunduk sedih.
Reinkarnasi, itulah yang dimaksudkan Zelvia. Sejauh ini, ia tidak pernah berani memberi tahukan kebenaran itu pada orang lain, takut nantinya terjadi hal yang tidak memungkinkan.
Zelvia membalik badannya dan melangkah menghampiri Rero. "Rero, bagaimana menurutmu tentang reinkarnasi? Apa kau mempercayainya?" tanya Zelvia.
Rero diam sejenak, ia lalu menjawab pertanyaan Zelvia. "Aku tidak mempercayainya, tapi seratus tahun yang lalu, saat aku masih kecil, kakekku berkata kalau reinkarnasi itu ada. Tapi, aku masih ragu akan hal itu sih," ujar Rero.
Deg! Zelvia tersentak mendengar pernyataan Rero. Ia lalu terdiam. "Apakah kakekmu juga mempunyai tuan sepertimu?" tanya Zelvia.
Rero mengangguk pelan, "Ya, semua ras elang akan mempunyai tuan manusia, yang mempunyai kekuasaan tinggi sekalipun akan memiliki tuannya." jelas Rero.
Zelvia hanya diam tidak menyahut, ia sedang berpikir saat ini dengan menyambung semua kejadian yang pernah dialaminya.
"Aku ingat tentang legenda pahlawan dan elang yang pernah dikatakan oleh Bu Suer. Bu Suer berkata bahwa dulu pahlawan pernah berteman baik dengan ras elang. Dan saat terjadi peperangan di kota tempat tinggal sang pahlawan, para elang berbondong-bondong membantu si pahlawan karena ia telah berteman baik dengan ras elang. Tapi, saat peperangan itu, ketua dari para elang mati di tempat, dan pada akhirnya, pahlawan lah yang mengatasi peperangan itu, dengan kemenangan yang ia dapat." batin Zelvia mengingat-ingat.
__ADS_1
"Dan kata Bu Suer waktu itu, elang itu memperoleh kemenangan, dengan kekuatan elang dan sayap elang yang begitu kuat keluar dari tubuhnya kan?" gumam Zelvia.
Zelvia memijit pelipisnya sendiri, berusaha mengingat kejadian yang pernah menimpanya.
Sedangkan Rero, ia memilih untuk diam di hadapan nonanya itu.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Zelvia mendapati suatu kejadian yang ia ingat dalam benaknya.
"Ah!" Zelvia membulatkan matanya sempurna.
"Waktu itu, saat aku menyegel Yustaf.. sayap yang keluar dari punggungku... Dan kekuatanku.. Ti-tidak mungkin, kan?" ucap Zelvia dalam hati. Jantung Zelvia seketika berdenyut kencang, tidak percaya apa yang ada dipikirannya itu nyata.
"Jadi.. apa pemilik tubuh ini.. benar-benar memiliki kemampuan spesial itu? Seperti yang pernah orang lain katakan, aku adalah.." Zelvia tersenyum tipis.
Tok...tok...tok... Ketukan pintu terdengar dari arah luar. Zelvia bangkit dan membalik badannya.
Brakk.. "Ini aku, Riel!" ucap Riel dari arah luar, yang tiba-tiba saja membuka pintu secara paksa.
Zelvia dan Rero sama-sama kaget melihat kedatangan Riel. Tidak berbeda dengan Riel, ia juga terkejut melihat keberadaan Zelvia di kamar Rero.
"Nona!" panggil Riel, ia berlari ke arah Zelvia dan menarik lengan Zelvia.
"Eh eh, ada apa?" tanya Zelvia.
Riel menatap intens ke arah Zelvia, dengan tatapan menyelidik. "Anda tidak apa-apa kan, nona? Kenapa anda bisa ada disini? Kenapa seorang wanita bisa berdua dengan seorang pria di dalam satu kamar?" Riel menghujani Zelvia dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1
"Ehem.. kami hanya sedikit berbincang, jangan khawatir!" jawab Zelvia tersenyum kikuk.
"Nona!!!" Riel menatap Zelvia tajam, dan mencengkeram lengan atas Zelvia dengan kuat.
"Agh.." pekik Zelvia.
Riel yang tersadar akan kelakuannya, segera melepas cengkramannya pada lengan Zelvia. "Ma-maaf, a-aku tidak bermaksud.." Riel terdiam, ia menatap Zelvia dan Rero bergantian.
"Huft.." Zelvia menghela nafasnya panjang, ia lalu menepis pelan tangan Riel dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh pria tersebut.
"Aku hanya berbincang dengannya, jadi jangan salah paham!" tegas Zelvia.
"Ya.." jawab Riel pelan.
"Apa kau ingin berbicara dengan Re.. Em, maksudku, Firex? Kalau begitu, aku pamit undur diri," ujar Zelvia.
"Tidak, Kalau boleh, apa nona juga ada waktu untuk berbincang dengan saya?" jawab Riel.
***
Halo, maaf semuanya, baru bisa up hari ini. Diusahakan novel ini up setiap hari kalau author tidak sibuk ya mulai hari ini, terima kasih bagi para pembaca
Oh ya, kalau berkenan boleh mampir ke novel baru author, masih on going, terima kasih...❤️
__ADS_1