
"Ok ok....aku tidak akan mengerjai mu lagi!" Seru Zelvia.
"Hmp..." Sahut Rero.
"Oh ya, Rero...apa kau bisa mengajariku tentang sihir? Aku ingin sekali belajar sihir" Pinta Zelvia.
"Tentu saja! Tapi....apa di kawasan ini kita boleh mengeluarkan sihir?" Tanya Rero.
"Emmm kalau itu aku kurang tahu. Tapi saat aku teliti selama ini, sepertinya sihir adalah hal misterius dan disembunyikan" Jawab Zelvia.
"Kalau begitu lebih baik kita jangan latihan disini" Jelas Zelvia.
"Lalu kita latihan dimana?" Tanya Rero bingung.
Mendengar pertanyaan Rero, pikiran Zelvia langsung tertuju pada gudang. Zelvia langsung mengajak Rero menemui Pak Qio dan pergi ke gudang itu.
"Ikuti aku! Aku akan menunjukkan tempatnya!" Ujar Zelvia.
"Eh eh...tapi kamu beneran gak mau makan siang bersama ayahmu? Kasian loh dia!" Ucap Rero.
"Aku tahu itu....tapi, sekarang ini aku sedang tidak ingin bertengkar. Lagipula ayahku tidak pernah memedulikan diriku sedari kecil. Mungkin bila ayah peduli padaku, itu hanya karena status ku meningkat, karena yang ayah pikiran hanya hal seperti itu!" Jelas Zelvia sembari menundukkan kepalanya.
"Zeze...." Gumam Rero kasihan.
__ADS_1
"Tidak usah pedulikan dia! Ayo kita belajar sihir, jika aku mempunyai kekuatan setidaknya sedikit, maka....aku tidak akan perlu lagi bergantung pada orang lain!" Seru Zelvia semangat.
Zelvia menghampiri Pak Qio bermaksud meminta izin untuk menempati gudang sendirian.
"Hai pak!" sapa Zelvia pada Pak Qio.
"Hai juga nak..." Jawab Pak Qio tersenyum.
"Jarang sekali kamu kesini! Bapak sangat merindukan Zelvia!" Jelas Pak Qio.
"Iya pak maaf soalnya akhir-akhir ini aku memiliki banyak pekerjaan. Jadi tidak sempat bertemu bapak" Sahut Zelvia merasa bersalah.
"Iya nak tidak apa, bapak tahu itu kok" Ucap Pak Qio lagi.
"Pak, sebenarnya aku kesini bukan hanya ingin bertemu bapak. Tapi aku juga ingin meminta tolong sesuatu" ujar Zelvia.
"Iya pak makasih" Jelas Zelvia menunduk.
"Lalu kau ingin meminta bantuan apa?" Tanya Pak Qio sambil melanjutkan memotong kayu-kayu.
Selain menjadi pengawas perpustakaan, Pak Qio juga berjualan kayu berkualitas yang dari pohon Keluarga Calliorest.
"Pak, Zelvia boleh tidak menempati gudang selama satu hari?" Izin Zelvia pada Pak Qio.
__ADS_1
"Hah kau ini! Gudang itu ada di dalam kediaman mu, jadi jangan izin pada bapak. Ambillah kunci ini, nanti jika sudah selesai menempati gudang berikan kunci ini pada bapak ya soalnya besok ada banyak barang yang harus ditaruh di gudang" Jelas Pak Qio.
Zelvia membungkuk hormat pada Pak Qio.
"Terimakasih banyak Pak!" Ucapnya dan berlalu pergi ke gudang.
Di Gudang...
"Nona, kau yakin tempatnya disini? Disini terlalu banyak debu!" Protes Rero.
"Tentu saja yakin! Disini tidak akan ada orang yang datang. Karena bagaimanapun juga tidak ada bangsawan yang mau datang kesini!" Jelas Zelvia sembari menyapu debu-debu di lantai.
"Tapi kan nona juga bangsawan" Kata Rero.
"Iya, tapi aku aslinya--'' Zelvia menghentikan ucapannya.
Zelvia terdiam dan mengingat bahwa ia tidak boleh memberi tahu siapapun tentang hal yang berkaitan dengan "reinkanasi" sekalipun pada orang yang ia percayai di dunia ini.
Lagipula Rero juga belum kenal lama dengan Zelvia.
"Aslinya apa nona?" Tanya Rero penasaran.
"Emmm... maksudku, sifat asliku tidak seperti wanita bangsawan lainnya!" Jelas Zelvia yang melanjutkan menyapu.
__ADS_1
Setelah beberapa lama, debu-debu di lantai sudah tersapu bersih. Walau tidak seperti rumah pada umumnya yang seluruh sudut bersih, tapi ini sudah lebih dari cukup jika dibandingkan dengan kondisi gudang yang sebelum disapu dan dibersihkan.
"Nah sudah selesai.." Ujar Zelvia dengan keringat di seluruh tubuhnya.