
"Apa yang kau lakukan pada putriku!" Teriak Ester dengan wajah yang sudah marah.
Tapi mereka bertiga salah, yang jadi korban tertampar nya wajah disana bukan Zelvia melainkan Hard. Tanpa basa-basi, Zelvia menampar Hard dengan keras sehingga menimbulkan kemerahan pada pipinya.
"Tunggu....ini.." Ucap Ratu Annette terbata-bata.
Raja Vervun juga mengangguk, ia paham kalau Hard lah yang tertampar tadi.
"Nak, kenapa kamu menampar pangeran?" Tanya Annette lembut
"Yang mulia, bukannya saya bertindak kurang ajar, tapi tadi pangeran sudah keterlaluan! Ini adil bukan?" Jelas Zelvia.
Ester menepuk bahu Zelvia.
"Ada apa nak? Apa dia menyakitimu?" Tanya Ester khawatir.
"Tuan Duke Ester, bisakah kau mengajarkan pada putrimu bagaimana cara sopan santun pada yang statusnya lebih tinggi?!" Tegur Hard marah.
"Diam kau!" Sela Raja Vervun.
Raja Vervun mendekati Zelvia, "Apa yang sebenarnya terjadi nak?" Tanya nya cemas.
"Yang mulia raja dan Yang Mulia Ratu, di negara ini pastinya sudah ditetapkan hak asasi untuk wanita kan?" Tanya Zelvia.
"Iya nak" Jawab Vervun dan Annette bersamaan.
__ADS_1
Apa yang ingin dia lakukan? Batin Hard bertanya-tanya.
"Dalam peraturan negara yang berlaku, wanita bukanlah barang yang bisa dijual seenaknya. Sedangkan kelakukan pangeran tadi mengungkit soal barang mahal yang ia berikan selama ini pada saya dengan bayaran agar saya menurutinya. Apa itu pantas?" Ucap Zelvia menjelaskan.
Oh tuhan, bantulah aku kali ini! Batin Zelvia.
Raja Vervun dan Ratu Annette saling pandang, dalam benak hati mereka ada rasa cemas sekaligus kecewa atas kelakuan buruk anaknya.
"Suamiku..." kata Ratu Annette.
"Hah.." Raja Vervun menghela nafas dan bersujud di hadapan Zelvia.
"Maaf, maafkan saya yang tidak bisa mendidik anak! Ini semua adalah perbuatan seorang ayah yang sudah gagal mendidik anaknya!" Sedih Raja Vervun.
Ratu Annette juga tak berhenti mengeluarkan air mata. Anak yang selama ini ia sayangi telah berubah menjadi seorang pangeran yang hanya mengandalkan kekuasaan.
Zelvia menggeleng kepalanya perlahan. Ia duduk di depan kedua pemimpin negara itu.
"Tidak.. kalian tidak salah sama sekali!"
Kata-kata itu membuat Ratu Annette dan Raja Vervun mendongakkan kepala mereka.
"Yang Mulia... kalian sama sekali tidak salah! Hanya saja...pergaulan Pangeran Hard yang kurang benar" Ucap Zelvia sedikit menyindir.
Raja Vervun dan Ratu Annette seketika paham. Mereka tau semua ini adalah ulah Nuriel yang menekan putranya, Pangeran Hard agar menjadi seorang putra mahkota.
__ADS_1
"Hard...kami kecewa padamu!" Ungkap Raja Vervun.
Raja Vervun menarik lengan Hard menuju keluar beserta istrinya Ratu Annette yang ikut keluar dari kediaman. Mereka hendak pulang ke istana.
Sementara Zelvia duduk di sofa dekatnya. Ia merasa lelah atas semua hal yang terjadi padanya belakangan ini.
Istana Kerajaan...
"Ayah...aku--" Ucap Hard terbata-bata.
"Nak, kau memang sudah salah pergaulan!" tegas Vervun.
Vervun melangkahkan kakinya menuju kamar Nuriel yang juga ditemani Annette.
"Ayah..." Teriak Hard.
BRAKK...
Tanpa basa-basi Vervun mendobrak pintu kamar Nuriel dengan kencang. Nuriel yang sedang merias diri dengan anggapan bahwa hari ini sudah pasti kekalahan Zelvia pun dibuat kaget oleh Vervun.
"Salam hormat Yang Mulia Raja..." Hormat Nuriel.
"Untung saja aku sudah merias diri sebelum Raja datang. Tapi, apa yang ingin dia lakukan disini? Apa rencana ku berjalan mulus?" Batin Nuriel.
"Eumm..Yang Mulia Raja dan Ratu ada urusan apa ya kemari?" Tanya Nuriel malu-malu.
__ADS_1
"Dasar anak kurang ajar! Kau pasti yang selama ini sudah mempengaruhi putraku kan?" Ucap Raja Vervun marah.
"A...apa maksud anda Yang Mulia?" Tanya Nuriel tak mengerti.