Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat

Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat
Episode 140. Istirahat [End season]


__ADS_3

"Jadi, ini yang ingin nona lakukan?" Minhao menatap Zelvia penuh pertanyaan. Zelvia lantas menoleh dan mengangguk, "Ya," jawabnya singkat.


"Apa nona mempunyai masalah pada Tuan Hans? Kalau tahu begitu, saya bisa saja menghajarnya tadi."


"Aku hanya tidak suka, mengingat tindak kejahatannya. Ia tidak boleh dibebaskan begitu saja! Coba bayangkan, bagaimana perasaan korban-korbannya jika tahu ia bebas, dan malah hidup baik di tempat pemilik serikat perdagangan?" jelas Zelvia.


"Ya, saya tahu itu." Minhao mengangguk dan membenarkan penjelasan Zelvia.


"Nona, apa sebaiknya kita menginap dulu disini? Hari ini pasti terjadi keriuhan karena 'tunangan' seorang putri dari pemilik serikat perdagangan ditangkap oleh perdana menteri. Terlebih, banyak orang yang belum tahu Hans adalah seorang penjahat yang dibebaskan," ucap Minhao.


Zelvia terdiam, sebenarnya banyak masalah yang harus ia urus. Namun, hari sudah semakin malam, tidak mungkin ia pulang di tengah malam yang gelap.


"Baiklah," Zelvia mengangguk paham, mereka lalu pergi ke kamar masing-masing yang sudah disediakan khusus atas perintah Xie Ra.


*****


Angin yang berhembus masuk ke dalam kamar Zelvia, membuat dirinya terbangun dari tidurnya. Keadaan serikat perdagangan juga sudah membaik, karena perlahan orang-orang sudah mulai bubar, apalagi hari sudah malam.


"Aku tidak bisa tidur," gumam Zelvia berkeluh. "Kalau aku lewat luar, pasti para pengawal akan curiga, kan? Bisa-bisa aku dianggap penyusup!"


Zelvia menghela nafas kasar, ia mendekati jendelanya yang terbuka. "Sudah lama aku tidak menggunakan cara ini," Zelvia tersenyum tipis. Ia memejamkan matanya dan loncat dari ketinggian dua lantai itu. Walaupun dulu ia menggunakan tali tambang agar bisa turun, tapi karena tidak ada, terpaksa harus melakukan cara ini agar bisa keluar. Toh, kemampuan secara fisiknya juga sudah lebih bagus seiring berjalannya waktu.


"Huft.." Zelvia mendarat dengan sempurna, walau kakinya sedikit terluka karena tidak seimbang.


Zelvia mendongakkan kepalanya keatas, "Oke, untung disini ada pohon, jadi aku bisa kembali ke kamar dengan mudah." Zelvia menghela nafas, kenapa tidak dari tadi saja ia turun dengan bantuan pohon? Ah, sudah terlanjur! pikirnya.


Zelvia melihat sekitar, ia lalu melangkahkan kakinya, berjalan menyusuri taman yang berada disana. "Wajar saja Xie Ra sering datang kemari, ini tempat yang indah,"

__ADS_1


Bunga tidur yang menemani tidurmu..


Sebuah lagu indah yang dinyanyikan..


Membuat mimpimu menjadi indah..


Deg!


Entah apa ini, tapi Zelvia seperti merasa ada sebuah lagu yang dinyanyikan. Ia buru-buru bersembunyi dibalik pohon, seraya memantau kondisi sekitar.


"Dia.."


"*Sebuah lagu indah yang dinyanyikan"


"Membuat mimpimu menjadi indah"


"Bisa membuatku terjun dalam tenangnya air*"


Zelvia belum pernah mendengar lagu ini, tapi dengan mendengarnya, ia merasa menjadi tenang. Dan tatapan tenang dari netra mata gadis di dekatnya, membuat dirinya terhanyut dalam iringan lagu.


"Siapa dia?" gumam Zelvia bertanya. Tak lama kemudian, lagu itu terhenti.


"Nona!"


"A-ah, iya!" satu panggilan membuat gadis itu berlari terburu-buru, ia pergi meninggalkan biolanya di atas kursi yang ada disana.


"Ah.." Zelvia mendekati tempat dimana biola itu diletakkan. Rasanya, sejak ia terlahir kembali, ia lebih sibuk mengurusi urusan penting, dan jarang menikmati hidupnya. Lelah? tentu saja.. Ia sudah berusaha keras sampai ke titik ini, mencari semua jawaban dari kerja kerasnya.

__ADS_1


Zelvia tersenyum tipis, ia mengambil biola itu dan mencoba memainkannya.


Ayah.. entah mengapa, ia merindukan sang ayah, Duke Calliorest. Sebenarnya, sudah berapa lama sejak ia pergi meninggalkan kediamannya? Ia juga rindu dengan pengawal dan pelayan-pelayan yang setia padanya, yang mau membelanya di kediaman itu.


"Eh.." tanpa sadar, cairan bening keluar dari mata Zelvia, dengan cepat ia mengusap air mata itu.


"Nggak, perjalananmu masih panjang, Zelvia!" tegas Zelvia memantapkan diri.


Namun, untuk saat ini ia memilih untuk istirahat sejenak. Ia lelah atas segalanya. Zelvia menyenderkan kepalanya dipinggir kursi, 'Kuharap akan cepat selesai..' batinnya pelan


***


Esok harinya, setelah berpamitan dengan Xie Ra dan keluarganya, Zelvia memilih untuk melanjutkan perjalanannya sendiri, mencari tahu semua kebenaran yang tersembunyi.


"Minhao, tolong sampaikan pesan pada Tuan Riel, aku akan pergi untuk waktu yang cukup lama" jelas Zelvia.


"Riel? Dia pengganti tuan Hans kan?" tanya Minhao, dan hanya disahut anggukan kepala oleh Zelvia.


"Nona, ini terlalu cepat, bisakah kita mengobrol sebentar? Jika dipikir-pikir, sudah lama saya dan anda tidak berbincang." ucap Minhao menunduk lesu. Zelvia tersenyum, sebenarnya ini juga bukan maunya, tapi ia harus melakukan ini, "Maaf, aku akan kembali jika waktunya sudah tepat. Dan mungkin, saat itu kau akan tahu siapa aku," jawab Zelvia tersenyum pahit.


Perpisahan, adalah kata yang paling menyakitkan. Karena setiap pertemuan, pasti ada perpisahan, mau itu karena kesalahan, masalah, atau maut yang memisahkan.


"Jaga dirimu baik-baik, doakan saja.. agar aku tetap hidup saat bertemu denganmu," jelas Zelvia pelan.


"No-nona?" Minhao mengerutkan kening, tapi ia tetap tersenyum. "Kita akan bertemu lagi nanti, saya harap anda selamat" ucap Minhao. Sebetulnya, ia sudah sadar kalau Zelvia pasti mempunyai sesuatu yang disembunyikan. Tapi, Minhao menghormati privasi Zelvia, dan memilih tetap diam.


"Oh ya.." Zelvia mengambil tasnya, dan memberikan secarik kertas pada Minhao. "Tolong berikan ini pada pelayan pribadiku, namanya Cleznia. Ia juga tinggal di tempat penginapan Riel," jelas Zelvia.

__ADS_1


__ADS_2