
"Kau ingin berbicara denganku juga?" tanya Zelvia memastikan perkataan Riel.
Riel mengangguk, "Ya, nona! Apa anda mempunyai waktu sebentar untuk mengobrol dengan saya dan Tuan Firex?" jelas Riel.
"Ya, tentu saja," jawab Zelvia.
Rero mempersilakan Riel dan Zelvia untuk duduk di sofa panjang di kamarnya. Perbincangan pun dimulai.
"Jadi, ada apa sebenarnya?" tanya Zelvia.
"Nona.. saya mendapat kabar dari pihak pemerintah, bahwa Hans kabur dari tempat tahanan," ucap Riel menjelaskan.
"Apa? Bagaimana bisa dia kabur?" tanya Zelvia kaget.
"Lebih tepatnya, ia dibebaskan dari penjara atas perintah dari tunangannya yang membawanya keluar dari tahanan itu. Kabarnya, tuangannya adalah seorang putri dari seorang pemilik serikat perdagangan yang terkenal di kota Tersevane ini. Jadi, pihak yang menahan Hans pun tidak bisa berkutik." jelas Riel.
Zelvia mengepal tangannya, ia juga menggigit bibirnya kesal. "Dimana Hans sekarang?" tanya Zelvia lagi.
"Saya tidak tahu pasti ia dimana, tapi yang jelas sekarang ia sedang dalam pengamanan dari serikat perdagangan Mue Wan, nama serikat perdagangan milik calon mertuanya," ujar Riel.
__ADS_1
"Apa selama ini Hans belum sadar akan kesalahannya? Benar-benar, yang namanya penjahat, tidak bisa dinasehati dengan cara halus! Hans.. rencana apa lagi yang kau perbuat?" batin Zelvia.
"Apa penjagaan di serikat perdagangan tersebut begitu ketat? sehingga pihak kepolisian tidak bisa menangkap paksa Hans?" tanya Zelvia.
"Ya, nona! Mereka adalah serikat perdagangan yang begitu terkenal, wajar saja fasilitas dan penjagaannya sangat ketat. Untuk sekarang, tidak mungkin anda bisa kesana dengan tangan kosong!" ujar Riel memperjelas.
"Tapi, ada satu hal yang ingin aku tanyakan, dimana letak serikat perdagangan itu?" tanya Zelvia.
"Tidak jauh dari penginapan ini, terletak sebuah gang yang ramai dilewati banyak orang. Tidak jarang penjual dan pembeli melakukan interaksi disana. Jika anda terus lurus, anda akan menemukan sebuah kediaman besar, itulah tempatnya," jelas Riel.
"Baiklah, aku mengerti." jawab Zelvia.
"Oh ya, Tuan Firex, ada satu hal yang aku butuh pertolonganmu, bisakah kau ikut denganku sebentar?" ucap Riel.
"Oh, iya." jawab Zelvia.
Rero dan Riel pergi keluar dari kamar Rero, sementara Zelvia masih memikirkan sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menangkap Hans kembali, khawatir ia melakukan hal buruk lagi.
"Aku harus pergi keluar sekarang!" ucap Zelvia mantap.
__ADS_1
Zelvia kembali ke kamarnya, ia mengambil jubah hitam yang ia pakai seperti biasa saat ingin keluar penginapan.
"Oke, siap!" ujar Zelvia sambil tersenyum tipis.
Zelvia berlari ke arah luar penginapan, tampak para pengawal yang memperhatikannya. Mereka merasa curiga dengan gerak-gerik Zelvia.
"Tunggu!" ujar salah satu pengawal. Ia menyodorkan pedangnya pada Zelvia.
"Siapa kamu?" tanya pengawal itu lantang.
Zelvia menghela nafasnya panjang, ia membuka jubah itu dan memperlihatkan wajahnya. "Aku Zelvia!" ujar Zelvia.
Pengawal itu seketika tersentak melihat wajah Zelvia. Di penginapan ini, tidak ada yang tidak mengenal Zelvia kecuali pengunjung. Karena, Zelvia diibaratkan sebagai penyelamat mereka, karena mereka tidak jadi dipecat berkat akal Zelvia.
"No-nona Zelvia? Ma-maaf, aku tidak tahu.." ujar pengawal itu sambil membungkuk merasa bersalah.
"Iya, aku maafkan. Kalau begitu, izinkan aku keluar, ya?" jawab Zelvia ramah.
Pengawal itu mengangguk dan mempersilakan Zelvia keluar dari penginapan. "Silakan nona," ujar pengawal itu.
__ADS_1
Zelvia kembali memakai jubahnya, ia berjalan pergi dengan berjalan kaki.
"Serikat perdagangan ya..." gumam Zelvia pelan.