
Setelah keluar dari rumah Bu Alhya, Zelvia memutuskan untuk keliling sebentar lagi di luar lalu pulang ke penginapan.
Ia menyusuri jalan setapak di dekat sana, jalan yang sepi dan tidak terlalu banyak orang.
"Apa aku tersesat ya?" Batin Zelvia bertanya-tanya. Karena, sedari tadi ia bahkan belum menemukan jalan keluar gang itu.
Beberapa saat kemudian, nampak seorang pria dengan tongkat kayu yang ia genggam, membuat perhatian Zelvia teralihkan olehnya. Zelvia yang belum pasti mengetahui kota tersebut, menanyakan jalan keluar pada pria itu.
"Misi pak.." ucap Zelvia sopan.
"Hmm, iya nak?" sahut pria disana.
"Pak, apa bapak tahu jalan keluar gang ini?" tanya Zelvia pelan.
"Apa kamu orang baru?" tanya pria itu balik.
Zelvia terdiam sejenak, disatu sisi dia memang orang baru, tapi disisi lain ia tidak boleh asal memberitahukan hal tentangnya pada orang asing, ditambah ia benar-benar baru mengenal kota ini.
"Saya sudah lama, tapi belum begitu tahu jalan sekitaran sini" jelas Zelvia tersenyum tipis.
Pria itu bergeleng, โanak sekarang sudah pandai berbohongโ gumam pria itu, tapi terdengar jelas di telinga Zelvia.
"Maksud bapak?" sontak, Zelvia menanyakan hal itu pada pria tersebut. Karena, ia yang lebih muda dari pria itu merasa tersinggung.
Pria itu tersenyum, "Kamu masih muda, tapi sudah pandai berbohong."
"Sa-saya memang berbohong tentang apa?" tanya Zelvia kikuk.
"Kamu jelas orang baru disini kan?!"
__ADS_1
Zelvia sedikit tersentak, ia terdiam dan hendak pergi meninggalkan pria itu.
"Nak, jangan dianggap serius, saya hanya bercanda....hahaha" ucap pria itu tertawa
"Kenapa...perasaanku tidak enak ya?" ucap Zelvia membatin.
"Hum, saya duluan saja Pak" Zelvia melambaikan tangannya.
"Apa kamu penasaran, bagaimana saya bisa tahu kalau kamu berbohong?" tanya pria itu.
"Tidak!" tegas Zelvia.
"Haha..sudahlah, jangan emosi!" pria itu kembali tertawa.
"Nak, berhati-hatilah, entah apa yang ada di dalam tubuh mu, itu bisa membahayakan nyawamu!" nasehat pria itu.
"Maksud anda?" tanya Zelvia bingung.
"Apa kau seorang peramal? Tapi...lagipula aku juga tidak percaya pada hal mistis seperti itu, maaf pak," tutur Zelvia.
"Ya mungkin ini terdengar seperti meramal, tapi lebih tepatnya, saya adalah pengikut salah satu keturunan spesial yang akan muncul di masa depan yang terpilih oleh pengendali semua kekuatan, dan semua itu akan terungkap pada masanya..." jelas si pria.
"Saya harap, kita bisa bertemu lagi, nak!" lanjut si pria.
Zelvia mulai memikirkan hal yang dikatakan pria tadi, karena kata-katanya yang menyambung dengan misteri selama ini.
"Pak, siapa nama anda" tanya Zelvia.
Pria itu menyunggingkan senyumnya, "Xihe" jawab pria bernama Xihe itu.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya pamit undur diri.." ucap Xihe membungkuk.
"Jika ingin keluar, kau lurus saja nanti akan ketemu jalan keluarnya" tambah Xihe dan berlalu.
"Ya pak, terima kasih" sahut Zelvia.
Setelah jalan lurus, Zelvia akhirnya menemukan jalan keluar. Ia segera kembali ke penginapannya.
๐๐๐
Sementara, disisi lain Clez dan Rero sudah tertidur di sofa kamar Zelvia. Zelvia yang baru datang pun dibuat bingung.
"Ehem, hei!" ujar Zelvia memanggil.
"Hemm siapa?" tanya Rero mengantuk.
"Ini aku, Zelvia" jelas Zelvia.
Clez dan Rero membuka matanya, "Nona!!!" ucap mereka serempak.
"Ada apa?" tanya Zelvia.
"Nona, apa anda tidak tahu, anda keluar sudah lebih dari sebelas jam!" tegur Clez.
"Huwahh...aku menunggu nona sampai ngantuk" sambar Rero sambil menutup mulutnya yang sedang menguap itu.
"Hah?" mata Zelvia membulat sempurna, ia merasa kaget atas kelakuannya sendiri.
"Nona, anda pergi sore-sore, tapi, sekarang sudah jam tiga pagi!" ujar Clez.
__ADS_1
Zelvia menepuk jidatnya, "Oh ya ampun, kenapa aku bisa tidak sadar bahwa sudah lama aku keluar.." ucapnya keheranan.
"Nona, untung saja penginapannya tidak ditutup..huft" kata Rero menghela nafas.