
"Oh ya Clez, kau tadi melihat Firex kan, bagaimana keadaannya? dia baik-baik saja kan?" tanya Zelvia yang merasa bersalah karena kekuatannya yang menyerang Rero saat tidak sadar.
"Aku kurang tahu nona, tadi Firex pergi begitu saja! Dia bilang sangat lelah dan ingin tidur," jawab Clez.
"Oh, ya sudah kau kembali ke kamarmu ya, aku akan menemui Firex" ucap Zelvia yang disahut dengan anggukan kepala oleh Clez.
Zelvia melangkahkan kakinya menuju kamar Rero, ia lalau mengetuk pintu kamar Rero pelan.
Tok..tok...tok..
"Permisi, Rero.. apa kau ada di dalam?" tanya Zelvia penasaran sekaligus cemas.
"Masuk saja nona!" jawab Rero dari dalam.
Krekk...
Zelvia membuka pintu kamar Rero pelan, ia lalu kembali menutupnya dengan rapat.
Di hadapannya, ia melihat Rero yang sedang kesulitan membalut perban tangannya sendiri. "Apa kau terluka?" tanya Zelvia.
Rero hanya melirik Zelvia sekilas, ia lalu menganggukkan kepalanya seraya berkata, "Hanya luka kecil!"
Zelvia menggeleng, ia tahu betul sifat Rero yang tidak ingin memberitahukan masalahnya, apalagi pada nonanya.
"Sini, kubantu saja!" tawar Zelvia sambil mengambil kotak obat.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri, nona!" ucap Rero yang masih teguh pada pendiriannya.
"Haah.. padahal aku berbaik hati ingin menolongmu!" sahut Zelvia sambil memanyunkan bibirnya, ia mengendus kesal.
"Kalau begitu aku pergi saja ya, lelah!" tambahnya ketus.
Rero menatap nonanya dengan mata menyipit, "Ya sudah, nih bantu!" ucap Rero sambil menyodorkan tangannya dan sebuah kotak obat.
Zelvia tersenyum tipis, ia lalu membalut perban di tangan Rero yang terluka dengan sangat hati-hati.
"Apakah ini lebih baik?" tanya Zelvia pada Rero.
Rero mengangguk, ia lalu berbaring di tempat tidurnya. "Nona, aku sepertinya sangat lelah, tenaga dan energi ku habis tadi!" ucap Rero.
Zelvia lalu mengangguk dan beranjak pergi dari kamar Rero. "Ya sudah, tidurlah! Aku juga akan kembali ke kamarku, oh ya.. untuk masalah tadi aku minta maaf karena mengambil energimu, saat itu aku tidak sadar!" ucap Zelvia sambil menjelaskan.
"Saya tahu itu! Itu tidak masalah, jadi jangan minta maaf!" ucap Rero sambil tersenyum tipis.
Zelvia akhirnya keluar dari kamar Rero, ia tidak mau mengganggu waktu istirahat Rero.
Ceklekk... Zelvia membuka pintu kamarnya, ia lalu duduk di sofa dan bersandar. "Haah, kupikir, aku bisa terlahir kembali dan reinkarnasi kesini adalah hal yang mudah, namun sepertinya akan banyak rintangan yang harus ku lalui!" ucap Zelvia sambil menghembuskan nafas nya.
__ADS_1
"Daripada membuang waktu, sebaiknya aku pergi melatih diri!" tambahnya bergumam.
Zelvia bangkit dari duduknya, ia lalu pergi ke halaman belakang, halaman yang sepi dan sempat ia temui waktu itu.
Halaman belakang..
Zelvia duduk bersila di atas rerumputan, ia lalu memejamkan matanya perlahan.
Sebuah cahaya putih kebiruan muncul di sekitar Zelvia. Zelvia menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya.
"Ssshh.." desisnya pelan.
Dalam jiwanya, Zelvia merasakan sesuatu yang sangat sakit, seperti ada yang menusuk kepalanya.
Karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit, ia akhirnya membuka matanya.
"Hah.. menaikkan tingkat memang sulit!" keluh Zelvia.
Zelvia kembali memejamkan matanya, ia mengulangi hal yang sama berkali-kali, namun usahanya selalu gagal karena ia terlanjur membuka mata.
"Oke oke, seriuslah Zelvia!" batinnya menyemangati diri sendiri.
Zelvia menghembuskan nafas panjang yang terasa berat itu, ia kembali memejamkan matanya dan mengeluarkan netra sihir dalam tubuhnya.
Wushh...wushh...
Angin di sekitar Zelvia bertambah lebih kencang, suhunya pun lebih terasa dingin. Zelvia tetap memejamkan matanya, ia berusaha tenang untuk menaiki tingkat sihir selanjutnya.
"Syukurlah!" ucapnya.
Tanpa sadar, sudah larut malam dan Zelvia belum balik ke kamarnya, ia pun bergegas kembali ke kamarnya sebelum bertambah larut. Ia lalu mengganti baju dan segera tidur.
...🍂🍂🍂...
Esok harinya...
Drap...drap...drap...
"Hah..hah... tenaga anda benar-benar kuat, nona!" ucap Clez kelelahan dengan nafas nya sudah tidak teratur.
Saat ini, Zelvia dan Clez tengah beradu pedang untuk melatih kekuatan mereka.
Clez duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu yang terletak di sebelahnya, ia lalu meminum segelas air mineral.
"Kita istirahat dulu!" ucap Zelvia yang juga sama lelahnya dengan Clez.
"Nona, anda sangat hebat tadi! Walau anda perempuan bangsawan, tapi kemampuan berpedang anda sangat baik seperti kesatria!" puji Clez kagum.
__ADS_1
"Oh.. nona-nona cantik sedang apa disini?" tanya seorang pria dengan pakaian rapih serba hitam.
"Riel?" tanya Zelvia pada lelaki itu, ia adalah Riel.
"Ya nona! Apa kabar anda? Akhir-akhir ini kita jarang bertemu ya..!" ucap Riel pada Zelvia dengan ramah.
"Aku baik," jawab Zelvia.
"Baguslah kalau begitu, lalu... mengapa anda disini? Apa ada keperluan?" tanya Riel penasaran.
"Aku hanya ingin berlatih kemampuan berpedang, kau sendiri?" jawab Zelvia sekaligus bertanya.
"Aku hanya kebetulan lewat saja nona!" jawab Riel tertawa kecil.
"Ngomong-ngomong, Anda memang punya kemampuan berpedang? Sejauh yang saya kira, perempuan itu lebih identik dengan pesta bukan berlatih bela diri yang katanya bagi mereka sulit, haha!" ucap Riel heran.
Zelvia menatap tajam ke arah Riel, "Ekhem.. aku juga adalah perempuan, dan tidak semua perempuan itu lemah!" tegas Zelvia.
Riel tersentak kaget, ia tidak menyangka Zelvia bisa menjawab seperti itu padanya. "Ahaha, tentu saja! Tidak sedikit juga kok pahlawan wanita," ucap Riel kaku.
Riel tersenyum tipis, "Oh ya nona, berhubung anda memiliki kemampuan berpedang, bagaimana jika kita bertanding sebentar? Tidak ada ketentuan menang atau kalah, hanya sekedar bertanding!" ucap Riel bertanya.
"Boleh," jawab Zelvia singkat dengan anggukan sekilas.
Zelvia dan Riel berjalan ke tengah lapangan, mereka mengangkat pedangnya.
Salah satu pengawal sudah berdiri sigap untuk memberikan aba-aba.
"TIGA, DUA, SATU.. MULAI!" teriak pengawal itu.
Sringgg... Zelvia dan Riel mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke arah lawan, keduanya tampak serius dan tersenyum sinis.
Sementara, Clez sedari tadi masih sibuk dengan makanan ringan nya, ia hanya menonton sambil menyemangati nonanya itu.
"Semangat nona!" ucap Clez berseru.
Keringat Riel mulai membasahi tubuhnya, ia tampak lelah bertanding dengan Zelvia. Berbanding terbalik dengan lawannya yaitu Zelvia, ia hanya fokus pada pertandingan dengan hati yang tenang.
"Dia bukan wanita yang mudah dilawan" batin Riel.
Zelvia berlari menghampiri Riel, ia lalu menabrak pedang Riel dengan pedang miliknya.
Sring!
"Kau sudah kalah!" ucap Zelvia sambil menyodorkan pedang ke samping leher Riel yang telah terduduk bersimpuh.
"Haha, iya nona! saya mengakuinya, saya kalah pada seorang wanita!" ucapnya kikuk.
__ADS_1
Zelvia mengangkat pedangnya, ia mengelus pedang itu lembut. "Lumayan" gumamnya.
"Tuan Riel, sepertinya anda jarang berlatih!" ucap Rero yang tiba-tiba saja muncul.