Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat

Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat
Episode 122. Tidak sadarkan diri


__ADS_3

"Hiks hiks.. tidak akan kubiarkan kau mengambil kebahagian keluargaku! Apa masih belum cukup bagimu dengan menyulik diriku seperti ini? hikss..." samar-samar, terdengar suara tangisan seorang wanita.


"Uhmm.." Zelvia. membuka matanya perlahan, ia tersentak kaget saat melihat seorang wanita yang wajahnya tidak begitu terlihat dan sedang diborgol oleh besi saat itu.


"Si..siapa dia? Dimana aku?" batin Zelvia bertanya.


"Hahaha, dasar! kau tidak tahu diri sekali! Aku sudah merawatmu selama ini, manakah balas budimu padaku?" tanya seorang pria sambil tertawa besar.


Zelvia tersentak kaget melihat adegan itu, hatinya terasa sakit, dan jantungnya berdenyut kencang.


"Perasaan macam apa ini?" batin Zelvia.


"Haaah.." wanita itu menghembuskan nafasnya.


"Ini yang kau sebut merawat?" tanya wanita itu.


"JAWAB AKU, INI YANG KAU SEBUT MERAWAT DENGAN BAIK, HAH?!" tanyanya lagi dengan nada tinggi dan lantang.


Pria tadi berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan wanita yang sedang duduk bersimpuh dengan kedua tangan yang saling terikat oleh borgol itu.


"Kenapa? Apa kau marah?" tanya pria tersebut.


"Sudah bertahun-tahun kau berada disini, tapi kenapa yang kau pikirkan hanya pria itu, hah?!" tanyanya lagi.


Wanita tadi menatap pria itu dengan tatapan tajam. "Apa kau mau tahu kenapa?" tanyanya.


"Tentu saja!" sahut pria di depannya.


"Karena, Ester mencintaiku dengan tulus, tidak seperti mu! Kau berbeda jauh dengannya, dan selamanya aku tidak akan pernah mencintaimu!" tegas wanita itu.


Zelvia lagi-lagi dibuat kaget dan bingung. Namun, kali ini ia memikirkan seseorang.


"Ester? itu.. nama ayah!" batin Zelvia.


"Siapa dia? kenapa dia mencintai ayah? Atau.. aku salah sangka, mungkin saja Ester yang dimaksud orang lain???"


"Tapi siapa dia? Wajahnya tidak terlihat jelas karena aku berada di belakangnya. Aku hanya bisa melihat punggungnya!"


PLAKK...


Tamparan keras mendarat di pipi wajah wanita itu, ia ditampar oleh pria di depannya dengan sangat keras.


Zelvia yang melihatnya membulatkan matanya, ia lalu berlari ke arah wanita itu.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Zelvia. Namun, Zelvia menyadari sesuatu. Tangannya menembus tubuh wanita itu, itu tandanya ia seperti manusia transparan yang tidak bisa terlihat.


"Hei, hei, apakah kau bisa melihatku?" tanya Zelvia. Tapi nihil, wanita itu tidak menghiraukan Zelvia, sepertinya ia memang tidak terlihat saat ini.


Zelvia menepuk-nepuk pipinya, tidak ada rasa sakit yang ia rasakan.

__ADS_1


"Sebenarnya dimana ini?" tanya Zelvia.


Saat Zelvia tengah berpikir, kedua matanya terbelalak dan mulutnya ternganga saat melihat pria tadi mencekik leher wanita itu.


Wushh...wushh... Angin kencang tiba-tiba muncul, membuat penglihatan Zelvia kurang, hanya ada bau darah dan rintihan seorang wanita dengan tangisnya. Di samping itu, ia selalu menyebut sebuah kata. "Keluargaku.." lirihnya menangis.


"Siapa.. siapa kau?" tanya Zelvia berteriak.


"Ester... putriku.. hiks hiks," tangisnya lebih keras.


Sebenarnya, sedari tadi Zelvia tidak melihat wajah wanita itu karena wajahnya tertutup oleh angin entah kenapa. "Situasi apa yang sedang menimpaku saat ini? Apa aku memasuki dunia lain lagi?" gumam Zelvia.


"TIDAK AKAN KUBIARKAN KAU MENYAKITI ZELVIA!" teriak wanita itu.


DEGG! jantung Zelvia berdetak kencang, tatapannya mendadak menjadi kosong dan hampa. Tanpa sadar, ia menyebut sebuah kata yang sangat bermakna. "Ibu.." lirihnya pelan.


****


"Huwaaaa...nonaa.." tangisan kembali terdengar di telinga Zelvia.


Perlahan, Zelvia membuka matanya yang tadi terpejam. Ia menggerakkan tangannya pelan.


"Ehm...ini dimana?" tanyanya setengah sadar.


"Nona! hiks, akhirnya anda bangun! Saya yakin, nona pasti masih hidup!" tangis Clez yang berada di hadapan Zelvia.


"Clez?" tanya Zelvia meyakinkan kalau di hadapannya benar-benar Clez, pelayannya.


"Nona..," panggil Riel yang juga berada disana.


Zelvia terlihat kebingungan karena Riel, Rero, dan Clez berkumpul di sekitarnya, ia lalu bangun dan mendudukkan tubuhnya di atas kasur.


"Kenapa kalian menangis? Memang, apa yang terjadi?" tanya Zelvia heran.


"Nona, tadi saya sangat takut anda kenapa-kenapa" ucap Riel sedih.


Plukk...


Pelukan dari Riel membuat Zelvia terkejut. Ia lalu mendorong tubuh Riel pelan agar melepas pelukannya.


"Kenapa kau seperti ini? Ada apa?" tanya Zelvia.


"Nona, tadi anda pingsan. Dan kata dokter, kesempatan anda untuk bertahan hidup kecil." jelas Riel.


"Saya benar-benar tidak menyangka, anda masih hidup!" ucap Riel dengan tangis haru.


Zelvia terdiam sejenak, ia kembali mengingat kejadiannya yang bermula dari tersungkur di lantai kamarnya karena kepalanya terasa berat dan pusing.


Namun, ingatannya kembali tertuju pada seorang wanita dan pria yang ia temukan tadi. Entah itu mimpi atau bukan, itu terasa nyata.

__ADS_1


Zelvia menghela nafasnya panjang, ia lalu menoleh ke arah Riel dan Rero secara bergantian.


"Sejak kapan aku pingsan?" tanya Zelvia.


"Dua hari lalu" jawab Rero.


"Hah?!"


"Kalian yakin?" tanya Zelvia.


Rero, Riel, dan Clez sama-sama mengangguk.


"Nona sudah pingsan dua hari, dan ini hari ketiga" ucap mereka.


"Jadi, jika dihitung aku pingsan selama dua setengah hari?" tanya Zelvia.


Clez mengangguk, "Benar, nona" jawabnya.


"Oh jadi begi-- aghh.." belum selesai berbicara, kepala Zelvia kembali terasa pusing. Riel yang melihatnya pun segera memberikan air minum pada Zelvia.


"Minumlah nona" ujar Riel.


Zelvia tersenyum tipis menahan rasa sakitnya, ia lalu meminum air mineral yang diberikan Riel. Kepalanya pun terasa mendingan saat ini.


Zelvia menatap ke arah Clez dengan intens. "Clez, bisakah aku berbicara denganmu?" tanya Zelvia.


Clez mengangguk, "Tentu saja boleh, nona" jawabnya.


Mendengar perkataan Zelvia, tentu saja Riel dan Rero mengerti. Mereka membungkuk dan berpamitan pada Zelvia untuk pergi keluar.


"Karena tidak ingin mengganggu, maka kami pergi duluan. Banyak minum ya, nona! Agar cepat sembuh" ucap Riel dan disahut oleh Rero yang mengiyakan perkataan Riel. Mereka pun bergegas pergi keluar kamar Zelvia.


Selepas kepergian mereka berdua, kini hanya ada dirinya dan Clez disana. Zelvia berusaha bangun dari tempat tidurnya.


"Nona, hati-hati.." ucap Clez.


"Apa yang anda butuhkan? katakan saja pada saya!" ucap Clez.


"Boleh tolong papah aku, hm?" tanya Zelvia dan disahut anggukan oleh Clez.


Zelvia berjalan dan mengunci pintu kamarnya. Saat ia ingin menutup jendela dan tirai kamarnya, Clez menghalaunya dan segera menutup jendela dan tirai agar Zelvia tidak banyak bergerak, sebab ia baru saja bangun tadi.


Clez lalu kembali memapah tubuh Zelvia ke tempat tidur. Zelvia merebahkan tubuhnya, sedangkan Clez duduk di pinggiran tempat tidur sambil menggenggam tangan nonanya.


"Apa yang ingin nona katakan pada saya, hm?" tanya Clez lembut.


"Clez, ini mengenai keluargaku" ucap Zelvia yang membuat Clez membulatkan matanya dan memasang ekspresi terkejut.


"M-maksud nona?" tanya Clez ragu.

__ADS_1


"Aku ingin mengetahui tentang ibuku," ujar Zelvia.


__ADS_2