
Rero yang sudah lelah pergi meninggalkan dua wanita cantik itu.
"Humpp" Gumam Clez kesal.
Clez yang awalnya memperingati Rero agar jangan macam-macam pada nonanya, malah kalah karena bisikan gelitik dari Rero.
"Sudahlah Clez..." Ucap Zelvia menenangkan.
Clez mengangguk paham.
"Nona...itu....Tuan sedang--" Seru Clez terbata-bata.
"Apa dia marah?" Tanya Zelvia serius.
"Emmm begitulah nona! Para pengawal dan pelayan bilang, ia marah karena anda tidak ingin menyetujui permintaan nya untuk mejadi pendamping putra mahkota!" Jawab Clez cepat.
Zelvia mengepalkan tangannya, ia tahu kalau ayahnya kesal bukan karena dia tidak ingin makan siang bersama untuk bercanda ria dengan ayahnya. Tapi Ester kesal karena rencananya untuk menjadikan Zelvia pendamping pangeran mahkota tidak berjalan mulus.
"Clez, tunggulah aku disini! Aku akan menemui ayah!" Tegas Zelvia dan berlalu.
Clez menundukkan kepalanya cemas.
"Ya tuhan...lindungilah nona!" Batinnya.
Sementara Zelvia menuju ke ruang kerja Ester dengan terburu-buru. Ia tidak tahan lagi atas perlakuan ayahnya yang menganggap dirinya hanya sebagai alat untuk kemakmuran keluarga.
Brakkk....
Dentuman keras terdengar dari arah pintu, Zelvia mendobrak pintu kerja Ester dengan sangat keras dan penuh kekesalan.
"Ayah!" Teriak Zelvia.
__ADS_1
Ester menaruh penanya ke tempat semula..Ia bangkit dari duduknya dan menuju ke arah Zelvia.
"Kenapa kau datang kemari, hah?!" Tanya Ester datar.
Zelvia ingin sekali mencabik-cabik wajah tampan ayahnya itu. Tapi biar bagaimanapun juga hidupnya selama ini adalah hasil kerja keras Ester. Zelvia tidak seperti ayahnya yang tidak punya hati...jadi dia tidak akan melakukan hal kejam pada keluarganya sendiri kan?
"Jawab aku! Kenapa kau mendobrak pintu dengan sangat keras?" tanya Ester mulai marah.
"Hah....seharusnya ayah yang menjawab pertanyaan ku ini!" Balas Zelvia.
"Pertanyaan konyol apa lagi yang ingin kau berikan?" Tanya Ester tertawa kecil.
"Apa...ayah mempunyai rasa sayang padaku walau hanya sedikit?" Tanya Zelvia tegas.
"Apa maksudmu? Jangan bertanya yang tidak-tidak" Kesal Ester.
"Ayah...apa ayah tahu seberapa kejamnya dunia politik?" Tanya Zelvia kembali.
"Lalu... kenapa ayah menyuruh ku menjadi istri putra mahkota?" Tegas Zelvia.
"Itu....ya tentu saja status sebagai 'istri putra mahkota' adalah status yang bagus dan tinggi!" Jelas Ester santai.
"AYAH!!!" Teriak Zelvia.
Deggg...
Jantung Ester berdetak kencang. Ia kaget atas teriakan putrinya pada dirinya yang sama sekali tidak pernah ia rasakan dalam hidupnya selama 14 tahun ini.
Plakkk....
"Berani sekali kau teriak pada ayah!" Seru Ester marah.
__ADS_1
Ester keluar dari ruangannya dan berlalu pergi meninggalkan Zelvia.
"Bagus..." Batin Zelvia yang senang karena rencananya hampir berhasil.
***
Siang hari nya....
Ruang Makan
"Hai..." Sapa Zelvia datar pada ayahnya yang sedang duduk di kursi sembari menyantap makanan nya itu.
"Kenapa kau datang?" Tanya Ester kesal.
"Tentu saja ingin makan...memang apa salahnya aku makan di ruangan makan?" Jawab Zelvia santai.
Suasana sangat canggung dan penuh dengan aura emosi dari ruang makan. Pengawal dan pekerja yang bertugas disana pun juga merinding ketakutan.
"Bagaimana? Apa sudah dipikirkan pertanyaanku tadi?' Tanya Zelvia.
"Jangan berharap! Aku tetap akan menjodohkan mu sebagai calon istri putra mahkota!" Tegas Ester keras kepala.
Hati Zelvia sebenarnya sangat kesal. Tapi ia harus menjalankannya dengan tenang.
"Ayah...aku akan mengangkat salah satu lelaki sebagai kesatria pribadiku!" Ucap Zelvia.
Brakkk...
"Apa maksudmu?!" Tanya Ester marah.
"Err...itu, aku wanita jadi harus mempunyai seseorang yang berjaga untukku kan? Itu...itu wajar bagi setiap para wanita bangsawan!" Sahut Zelvia.
__ADS_1
"Tidak akan ku bolehkan!" Bantah Ester dengan nada yang meninggi