
**Hai readers sekalian...maaf author baru up hari ini karena author lagi sibuk banget... sekarang author baru punya waktu untuk update novel ini dehπ
Maaf banget ya readers sekalian π. Author mengucapkan banyak terimakasih bagi readers yang sudah setia menunggu novel atau karya author yang lain update. Terimakasih atas dukungan kalian yang membuat author semangat!! π
π₯π₯π₯**
"Aghh..." jeritan Aren makin keras. Para pengawal pun yang mendengar nya juga kaget, mereka panik karena mereka tahu bahwa Aren memiliki penyakit dalam tubuh yang cukup parah akibat perang yang terjadi beberapa tahun lalu.
"Luka lama itu... kenapa masih terasa?" Batin Aren tak percaya.
"Kau..kau tidak apa kan?" Tanya Clez khawatir.
Clez mengecek suhu tubuh Aren dengan tangannya. Ia menempelkan tangannya di jidat Aren.
"Seperti nya kau demam.." Ucap Clez.
"Jangan sentuh aku!" Imbuh Aren menepis tangan Clez.
Aren bangkit dan berusaha menjauh dari Clez. Tapi Clez yang cemas sekaligus khawatir menarik tangan Aren agar tidak berdiri terlebih dahulu.
Brukkk...
Tubuh Aren terjatuh karena kepalanya yang sudah sangat-sangat pusing, ia tidak sanggup lagi berdiri.
"Maaf...tubuhmu--" Ucap Clez pelan.
Karena sudah sangat pusing, Aren tidak?????? melihat bahwa dibawah tubuhnya ada tubuh Clez yang sedang ia tindih saat itu.
"Ukh...ya ada apa?" Tanya Aren pelan.
__ADS_1
Aren mulai membuka matanya, ia sangat kaget karena bisa-bisanya ia menindih seorang wanita seperti itu.
"Ya maaf.." Ucap Aren yang segera bangkit.
"Tu...tunggu, kenapa rasa pusing ku hilang?" Kata Aren dalam hati.
Tok tok tok...
"Tuan, tolong bukakan pintunya! Anda tidak kenapa-kenapa kan?" Teriak para pengawal dari luar.
"Iya kalian berjaga saja di luar!" Balas Aren.
Clez tidak mau mengganggu Aren. Ia memberikan sisa daun hijau yang sudah ditumbuk pada Aren.
"Ambil ini! Jika kau mengalami luka luar, olesi dengan daun tumbuk ini. Jika luka dalam, kau seduh dengan air hangat!" Jelas Clez.
"Terserah kau ingin pakai atau tidak, yang penting aku sudah memberikannya!" Lanjut Clez dan berlalu.
πππ
Ruangan kerja Zelvia
"Hemmm" Ucap Zelvia berdehem.
"Ayah sudah berubah, kekuatan sihir ku meningkat, ditambah lagi..orang yang menggosipi ku sudah berubah juga menjadi baik " Kata Zelvia.
Zelvia bangun dari kursi nya, ia membuka jendela dan duduk di tepian jendela.
"Hah.... hari-hari sudah kujalani.. kira-kira, sudah berapa lama ya aku berada di dunia novel ini?" Gumam Zelvia yang rambutnya sedang beterbangan itu.
__ADS_1
"Seandainya waktu dulu aku tidak lemah dan pengecut, setidaknya aku bisa menghukum orang yang telah membunuh ibuku! Oh tuhan...aku mohon hukumlah orang-orang yang bersalah" Batin Zelvia sedih.
Zelvia menutup jendela ruangannya dan keluar dari ruangan. Ia pergi menemui Rero yang sedang terluka dengan membawa keranjang yang berisi tempat makan yang berisi daging ayam segar yang sudah lama ia siapkan.
Tok...tok...tok...
"Tolong bukalah pintunya! Ini aku, Zelvia" Ucap Zelvia.
"Iya nona, sebentar" Balas Rero dari dalam.
Krekkk....
"Hai nona!" Sapa Rero.
"Ayo masuklah..." Lanjutnya.
Zelvia mengangguk dan memasuki kamar Rero. Rero menutup pintunya dan segera duduk di sofa.
"Nona...kenapa anda kesini?" Tanya Rero penasaran.
"Aku ingin menjenguk mu" Sahut Zelvia.
"Hehe...makasih nona!" Ucap Rero.
"Makanlah ini.." Kata Zelvia sembari memberikan barang bawaan nya.
Rero tersenyum senang.
"Makasih nona!!!" Ucapnya.
__ADS_1
Rero lalu membuka tutup keranjang yang dibawakan Zelvia....