Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat

Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat
Episode 123. Maafkan aku, nona


__ADS_3

"Bukankah, saya sudah pernah menjelaskan dan menceritakannya pada nona?" tanya Clez dengan raut wajah gugup.


Zelvia bangun dan mendudukkan tubuhnya. Ia lalu menatap bola mata Clez dengan jarak yang dekat.


"Aku tahu, kau pasti mengetahui lebih dari yang kau pernah ceritakan padaku kan?" tanya Zelvia.


Clez menunduk, jemarinya meremas rok yang ia kenakan. "Hanya itu yang saya tahu." jawabnya pelan.


Zelvia memejamkan matanya sesaat, ia lalu membuka matanya dan memegang pundak Clez.


"Kau bilang kau mempercayaiku, kau bilang kau akan selalu memberi tahu kan semuanya padaku. Apa.. kau sudah tidak menganggapku sebagai nonamu sekarang?" tanya Zelvia.


Sebetulnya, Zelvia sangat tidak ingin memaksa Clez yang baginya sudah seperti saudara kandung sendiri. Tapi, ini menyangkut paut pada ibunya.


"Sejak awal kau menceritakan tentang ibuku, aku tahu masih banyak yang kau rahasiakan. Dan yang kau beri tahu hanya beberapa saja. Benar begitu kan?" tanya Zelvia.


Clez kembali meremas roknya, perlahan-lahan ia meneteskan air matanya.


"Saya sudah bersepakat dengan nona agar tidak memberi tahukannya pada anda" jawab Clez ragu.


Zelvia membulatkan matanya, ia lalu menghela nafas. "Sepertinya kau memang sudah tidak menganggapku penting dalam hidupmu" ujar Zelvia.


Zelvia lalu berdiri dan pergi ke arah jendela. Ia membuka tirainya dan menatap ke arah langit.


"Kalau memang begitu, pergilah dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku" ucap Zelvia.


"Tapi nona..,"


"Pergi!" Zelvia berteriak.


Clez tersentak kaget, selama ini ia hanya melihat sisi lembut Zelvia padanya. Namun, berbeda dengan kali ini, Zelvia sudah sangat marah padanya.


"Nona, maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk merahasiakannya pada nona" ucap Clez.


Clez berdiri dan berjalan menghampiri Zelvia. Ia lalu memeluk nonanya itu dari belakang.


"Nona, bisakah anda berhenti marah? Saya akan sedih kalau nona seperti ini" ujar Clez dengan raut wajah sedih sambil memeluk erat nonanya itu.


Srett...


"Argh" pekik Clez.


Zelvia mendorong tubuh Clez dan menepis tangan Clez yang memeluknya. Beruntung, ada kursi disana jadi Clez tidak terjatuh ke lantai.


"PERGILAH, AKU TIDAK INGIN MELIHATMU SAAT INI!" teriak Zelvia kencang.


Clez menunduk, bulir-bulir air mata menetes. Ia akhirnya mengangguk. "Baiklah, kalau itu mau nona, saya akan pergi" ucapnya.


***


Diluar kamar Zelvia.


Krekk...

__ADS_1


Clez membuka pintu, ia melihat Riel dan Rero yang masih ada disana. Ia pun menunduk.


"Apa pembicaraan kalian sudah selesai?" tanya Riel.


"Ya," jawab Clez singkat.


Rero menatap Clez dengan tatapan bertanya-tanya. Ia bingung karena raut wajah Clez sepertinya tidak baik. Padahal, biasanya ia akan tersenyum bahagia selepas mengobrol dengan nonanya.


"Kalau begitu, Nona Zelvia juga pasti sudah istirahat. Saya pamit dulu, anda pergilah juga, jangan mengganggu Nona Zelvia" ucap Riel.


Rero mengangguk, kedua pria itu pun akhirnya kembali ke ruangannya masing-masing, begitupun Clez.


Tidak berselang lama kemudian, seorang pelayan wanita datang ke kamar Zelvia. Ia lalu mengetuk pintu kamar Zelvia.


Tok...tok...tok..


"Nona, saya adalah pelayan yang ditugaskan untuk mengantar makan siang. Apa saya boleh masuk?" tanya pelayan itu.


Hening!


"Nona..nona..!" pelayan itu terus saja memanggil-manggil Zelvia. Namun, tidak ada jawaban dari dalam.


Karena tidak ingin menunggu, pelayan itu akhirnya mencoba membuka pintu itu.


"Eh, kok ga dikunci?" gumam pelayan itu bingung.


"Nona, saya masu--" belum menyelesaikan omongannya, kedua matanya membulat sempurna saat melihat Zelvia yang tergeletak di lantai.


"Nona, nona.." ucapnya menghampiri Zelvia.


"Nona, bangun nona!" ucapnya.


Karena tidak kunjung mendengar jawaban, pelayan itu pun berpikir negatif. Ia lalu pergi ke ruangan Riel.


Tok..tok...tok...


"Tuan, tuan!" panggil pelayan itu panik.


Riel yang mendengarnya lantas segera membukakan pintu.


"Ada apa?" tanyanya.


"No-nona Zelvia, dia.."


"ADA APA DENGAN NONA?" potong Riel sebelum pelayan itu menyelesaikan ucapannya.


Riel segera berlari ke kamar Zelvia, dilihatnya Zelvia yang tergeletak di lantai. Ia pun segera memanggil dokter agar segera datang kesana.


***


Setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter keluar dari kamar Zelvia dengan tatapan lesu.


"Sepertinya ia akan mengalami tidur berkepanjangan, ini akan berujung kematian jika saja saya tidak tepat waktu." ucapnya.

__ADS_1


Clez dan Rero juga berada disana. Clez yang mendengarnya sontak menghampiri dokter itu


"Apa maksud anda? Memangnya ada apa dengan nona? Saya yakin, nona tidak apa-apa tadi!" tanya Clez cemas.


"Pasien masih dalam keadaan sakit, tapi sepertinya ia memaksakan dirinya untuk bangun." jelas dokter.


"Selain itu, apa diantara kalian ada yang mengajak Nona Zelvia berbicara walau hanya sebentar?" tanya dokter.


Lantas, Rero dan Riel langsung menoleh ke arah Clez. Karena yang terakhir kali berbincang dengan Zelvia adalah Clez.


Clez merasa bersalah, ia lalu mengangkat tangannya. "saya" jawabnya jujur.


Dokter itu menggeleng pelan, "Haaah" ia menghembuskan nafasnya. "Seharusnya, ia tidak boleh diajak bicara dulu" ucap dokter itu.


Karena tugasnya sudah selesai, dokter itu pun pamit undur diri karena ia juga masih ada urusan di rumah sakit.


"Saya pamit, permisi" ucapnya.


Selepas itu, Clez segera mendobrak pintu dan menangis di samping tempat tidur yang ditiduri Zelvia.


"Nona.. maafkan aku, bangunlah" tangisnya.


Saat Riel ingin menghampiri Clez, Rero menghalaunya dengan tangan kanan.


"Biarkan saja" ucapnya.


"Tapi, dia bisa saja mengganggu Zelvia! Dia juga yang menyebabkan Nona Zelvia kembali sakit kan?!" ujar Riel kesal.


"Hubungan pengikat antara aku dan Zeze masih terhubung. Itu artinya, masih ada kesempatan hidup baginya." ucap Rero dalam hati.


"Kau sama saja dengan nya jika kau kesana! Pergilah ke ruanganmu lagi, aku akan berjaga disini!" titah Rero.


Riel akhirnya mengangguk dan pasrah pada ucapan Rero.


Rero menutup kamar Zelvia. Ia lalu duduk di kursi yang terletak di depan kamar Zelvia.


"Ze, bangunlah" batinnya sedih.


Di dalam kamar Zelvia..


"Nona, kumohon bangunlah.. aku janji akan memberitahukan segalanya pada nona, termasuk tentang keluarga anda! Saya mohon, bangunlah nona, hiks" Clez meneteskan air mata di pipinya. Ia memeluk tangan Zelvia yang tengah terbaring di atas tempat tidur.


"Nona.. maafkan saya nona, bangunlah..hiks," derai air mata membasahi wajah Clez. Ia tidak bisa berhenti mengeluarkan air matanya.


"ARGGHH" Clez memegang kepalanya, ia berteriak frustasi.


"Kenapa bukan aku saja yang mengalami hal ini? Kenapa harus nona? Dan.. penyebab semua ini adalah aku..hiks," ujar Clez.


"Hiks... nona, saya tidak punya siapapun selain anda! Tujuan saya hidup hanya karena anda! Nona, hanya nona yang bisa mengerti perasaanku. Jadi, jangan tinggalkan aku, nona!" tangisnya.


"Nona...hiks, hiks.."


"Clez, berhentilah menangis" samar-samar terlihat Zelvia di udara. Ia tersenyum sambil melambai ke arah Clez dan perlahan menjauh.

__ADS_1


"Nona!" teriak Clez berusaha menghampiri bayangan Zelvia.


Clez melihat itu adalah nonanya yang perlahan menjauh darinya. Padahal, tidak ada apapun disana. Karena stress dan sedih, Clez jadi melihat bayangan Zelvia yang tersenyum padanya.


__ADS_2