
"Apa ini?" tanya Zelvia membatin.
Zelvia mengambil secarik kertas itu, kertas yang sudah agak robek yang sepertinya sudah ketumpahan air.
"Apa aku coba lihat saja kali ya? Siapa tahu ada yang penting!" gumam Zelvia.
Zelvia mengambil kertas itu, dan membaca isinya.
"Jika kau tidak memberikan penginapan mu padaku, keluargamu tidak akan selamat!" itulah tulisan dalam kertas.
"Astaga..siapa yang menulis ini?!" ucap Zelvia dalam hatinya dengan wajah terkejut.
Belum sampai disitu, di bagian bawah ujung kiri terdapat nama pengirim surat itu, dan dia adalah Riel.
Zelvia mengernyitkan dahinya, โMengapa bisa Riel yang merupakan sahabat Hans mengirim surat bertuliskan hal itu padanya?โ pikir Zelvia saat itu.
Zelvia yang mengetahui kondisi bahwa kedua tuan besar yang sedang memperebutkannya mulai sadar, ia pun bergegas pergi keluar dari ruangan itu.
#FLASHBACK OFF#
"Ha..kalau sudah begini, aku tidak bisa menyembunyikannya lagi darimu kan?" ujar Riel pada Zelvia.
"Aku tidak peduli dengan dendam pribadimu, tapi karyawan disini tidak salah!" terang Zelvia.
Riel menghela nafasnya, "Dulu..saat aku belum menemukan orang tua kandungku, Hans telah merebut hak ku, membuatku hidup terlantar dan tidak ada seorang pun yang peduli," jelas Riel tersenyum pahit.
๐ฅ๐ฅ๐ฅ
__ADS_1
Tiga tahun lalu...
"Syukurlah Riel, hari ini penghasilan kita bertambah!" ucap salah satu pekerja di restoran kecil.
"Iya, hari ini aku akan mentraktir kalian makanan enak di luar! Bagaimana?" tanya Riel pada anak buahnya itu.
Saat itu, Riel adalah pemuda miskin yang hanya membuka restoran kecil-kecilan. Karena suatu bencana alam, Riel terpisah dengan keluarga kandungnya yang merupakan menteri kaya raya.
Untuk kebutuhan hidupnya, Riel membangun restoran kecil dan pegawai disana adalah teman-teman Riel yang bersedia membantu.
"Benar nih? Tapi Riel, uang ini kan untuk kebutuhan hidupmu, kamu tidak perlu mentraktir kami makan, nanti bisa-bisa uangmu habis! Benar kan teman?" tanya Qie Rong, teman Riel.
"Tidak apa, lagipula kan kalian bertiga juga bekerja untukku!" ucap Riel.
Mereka pun menyetujui permintaan Riel dan pergi ke restoran yang lumayan besar.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di restoran itu, restoran dimana Hans adalah pemilik restoran itu.
"Tapi kak, saya sudah berjanji pada teman-teman saya untuk pergi ke restoran ini!" ucap Riel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak ada tapi-tapi! Kalian sangat merepotkan tau tidak?!" kesal pelayan itu.
Kebetulan, Hans sedang berjalan-jalan disana. Ia yang melihat pekerjanya marah-marah langsung menemuinya.
"Ada apa ini?" tanya Hans tegas.
"Ma-maaf tuan! Keempat orang ini keras kepala ingin makan di restoran ini, padahal dari penampilannya mereka tidak akan sanggup membayar makanan di restoran mahal dan mewah ini!" ujar pelayan itu.
__ADS_1
Hans mendekati Riel dan teman-temannya, dan ia menyapanya. "Hai!" sapa Hans yang membuat pelayan tadi ternganga melihatnya.
"Tuan?" tanya pelayan itu heran.
Hans mengangkat tangannya, bermaksud menyuruh pelayan itu diam. Akhirnya dengan berat hati pelayan itu menunduk dan mengiyakan.
"Siapa kamu?" tanya Riel dan teman-temannya kompak.
"Haha, aku tuan disini! Namaku Hans, umurku tujuh belas tahun!" ujar Hans tersenyum.
"Wah, umurmu sama dengan kami!" ucap Riel.
"Memangnya siapa kamu?" tanya Hans.
"Namaku Riel, ini teman-temanku..." ucap Riel ramah.
"Ini Rong, ini Sera, ini Leo." terang Riel sambil menunjuk teman-temannya.
Hans tertawa kecil, "Kalian seumuran denganku, tapi tingkah laku kalian sangat lucu hehe!" tawanya.
"Ehem, baiklah, katakan padaku kenapa kalian datang ke restoran ini? dan.. berapa banyak uang yang kalian bawa?" tanya Hans.
"Kami hanya membawa tiga juta, dan kami kemari karena penghasilan kami yang banyak dan ingin meraya---" jawab Rong, namun ucapannya dihentikan oleh Riel.
"Rong, apa yang kamu lakukan? Restoran kita tidak boleh diketahui oleh kalangan atas seperti mereka!" bisik Riel mengingatkan.
"Tapi kan dia orang baik!" ucap Rong keras.
__ADS_1
"Hah? Siapa yang baik?" tanya Hans merasa aneh.
"Emm tidak, tadi kami hanya bercanda!" ucap Riel mengalihkan pembicaraan.