
"Uhmm.." lirih Zelvia sambil membuka matanya perlahan.
"Dimana aku?" Tanya Zelvia dalam hatinya.
Dirinya saat ini sedang terbaring di kasur. Entah dimana ia sekarang, dengan kepala yang amat sangat pusing ia bangkit dari tidurnya.
"Aishh..apa yang terjadi padaku tadi?" tanya Zelvia.
Krekkk.... pintu kamar itu dibuka.
"Nak, kamu udah bangun?" tanya seorang wanita dengan usia cukup tua.
"Maaf Bu, Anda siapa ya?" tanya Zelvia pelan karena rasa sakit di kepalanya.
"Ini di rumah saya nak. Saya menemukan kamu di tengah jalan dengan kondisi pingsan, jadi saya memutuskan untuk membawa mu ke rumah ibu." jelas ibu itu.
"Ah iya, aku ingat tadi setelah muncul cahaya aneh, kepalaku pusing dan akhirnya pingsan di tengah jalan!" batin Zelvia.
"Makasih Bu," ucap Zelvia.
"Oh ya Bu, mohon maaf rumah ibu ini di daerah mana ya?" tanya Zelvia.
"Rumah ibu tidak jauh dari pasar raya kok, nak." jawab ibu itu.
__ADS_1
Zelvia berdiri dan menghampiri ibu itu, "Kalau begitu, saya pamit ya Bu! Maaf telah merepotkan ibu" ucap Zelvia sopan sembari membungkuk hormat.
"Aduh nak, kondisi mu masih belum stabil! Ibu sarankan, menetap dulu saja disini" sahut ibu itu.
"Tapi Bu, teman-teman saya pasti sudah menunggu saya" ucap Zelvia.
"Gak apa nak, kesehatan lebih penting! Lagipula, badanmu masih demam dan kepalamu masih pusing kan?" imbuh si ibu.
"Benar juga sih, tapi..."
"Sudahlah nak, kamu berbaring dulu di tempat tidur ya, ibu ambilkan sup ayam untukmu" ucap ibu itu tersenyum.
"Hum, tidak usah repot-repot kok Bu!" ucap Zelvia.
"Gak apa kok nak," ucap ibu itu dan berlalu.
Saat berbaring, Zelvia teringat akan giok yang ia beli. Zelvia mengeluarkan giok itu dan terus memandanginya.
"Sebenarnya, giok apa ini?" tanya Zelvia.
"Tu-tunggu.." ukiran pada giok, membuat Zelvia terkejut.
"Aku ingat! Sebelum aku pingsan, giok ini memberitahukan bahwa aku adalah tuannya! Dan..ukiran ini.."
__ADS_1
Berbagai hal misterius terus saja membuat pikiran Zelvia kacau. Ia memilih menyimpan giok itu di sakunya dan kembali tidur.
Beberapa menit kemudian, ibu tadi datang ke kamar dan membawakan sup hangat untuk Zelvia.
"Ayo dimakan nak!" ajak ibu itu.
Zelvia awalnya menolak, tapi ibu itu terus meminta Zelvia untuk memakan sup itu.
"Tenang saja, ini sup murni gak ada racun atau hal semacamnya kok nak." jelas ibu itu.
Karena si ibu sudah berkata seperti itu, Zelvia akhirnya memakan sup tersebut, khawatir terjadi kesalahpahaman yang padahal Zelvia menolak karena tidak enak hati merepotkan ibu itu.
Setelah memakan sup, Zelvia meminum teh hijau dari daun teh asli yang di tanam ibu tadi. Zelvia pun kembali tidur untuk menambah staminanya.
Dua jam setelahnya, Zelvia berpamitan pada si ibu untuk pulang.
"Bu, saya pamit pulang ya Bu." ucap Zelvia.
"Iya nak, hati-hati di jalan" sahut si ibu.
"Oh ya, tadi saya lupa menanyakan nama ibu. Jadi, siapa nama ibu kalau saya boleh tahu?" tanya Zelvia sopan.
"Bu Alhya" jawab Bu Alhya
__ADS_1
"Baiklah Bu Alhya, saya pamit pulang ya! Terima kasih atas bantuannya dan maaf jika saya sudah merepotkan ibu" Zelvia menunduk hormat.
"Ya nak, sama-sama" ucap Bu Alhya tersenyum.