Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat

Terlahir Kembali Menjadi Putri Raja Yang Jahat
Episode 132. Serikat perdagangan


__ADS_3

Tiga dari enam bawahan Minhao maju dan menghadap pada tuannya itu.


"Ada apa, tuan?" tanya mereka agak heran.


"Kalian ikutlah denganku menuju serikat perdagangan, aku dan Nona Zelvia akan jalan lebih dulu," jelas Minhao pada anak buahnya.


"Baik," jawab mereka bertiga serempak.


Minhao dan Zelvia jalan berdampingan, sementara tiga bawahan Minhao berada beberapa meter di belakang.


"Nona..!" panggil Minhao pada Zelvia.


"Hmm?" sahut Zelvia.


"Sebenernya, kenapa nona ingin kesana? Apa ada suatu keperluan? Tapi.. kenapa harus sembunyi-sembunyi?" tanya Minhao penasaran.


"Oh, iya.. aku hampir lupa menjelaskannya padamu!" ucap Zelvia


"Sebenarnya, aku tidak mempunyai hubungan dengan Nona Xie Ra dan keluarganya itu," ujar Zelvia.


"Lalu?"


"Aku kemari karena ada kaitannya dengan tunangan Nona Xie Ra, Hans." jelas Zelvia


"Memangnya ada apa?" tanya Minhao


"Dia adalah orang jahat, Minhao!" ucap Zelvia menjelaskan.


Minhao terdiam. Ia mengingat bahwa Hans adalah seorang tahanan sebelumnya. Tapi, berkat Nona Xie Ra ia dibebaskan.


"Kalau begitu, aku akan mendukungmu, nona! bukan hanya membantu, tapi aku memang tidak mau ia dibebaskan begitu saja!" ucap Minhao tegas.


"Ya, terima kasih," ujar Zelvia menyahut.


Setelah 100 meter lebih berjalan, Zelvia dan Minhao akhirnya sampai di tempat yang dituju. Walaupun agak lelah, tapi mereka tetap semangat untuk menangkap Hans kembali dan membawanya ke penjaga.

__ADS_1


"Ini tempatnya? Ramai sekali," ucap Zelvia pelan.


"Oh iya, aku lupa!" ujar Minhao, Zelvia pun menoleh ke arah Minhao.


"Hari ini ada acara ulang tahun Nyonya Hwan, sebagai istri dari tuan Rou, pemilik serikat perdagangan ini!" ujar Minhao menjelaskan.


"Nona, ikutlah dengan saya!" ucap Minhao, Zelvia menurut dan mengikuti langkah Minhao.


Sesampainya di tempat yang dituju Minhao, Zelvia diminta untuk membuka jubahnya.


"Nona, bukalah jubahnya, disini aman, tenang saja!" ucap Minhao pada Zelvia.


Zelvia menghela nafas panjang, ia lalu membuka jubah yang menutupi wajahnya itu.


Deg...deg... entah kenapa, jantung Minhao berdebar melihat wajah Zelvia. Sesegera mungkin ia memalingkan wajahnya dan berhenti menatap Zelvia.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Zelvia.


"Nona, sebaiknya anda pergi bersiap dahulu, agar tidak dicurigai!" ucap Minhao.


"Eh..??" Zelvia menatap bingung ke arah Minhao.


"Tu-tuan, ada apa?" tanyanya terbata-bata. Bagaimanapun, Minhao terkenal dengan preman yang jahat di kota ini.


"Kau masih mengingatku?" tanya Minhao pada wanita itu.


"Te-tentu saja," jawabnya ragu.


"Kalau begitu, apa saya boleh meminta bantuan?" tanya Minhao.


"Bo-boleh" jawabnya.


"Tolong rias saudari ku, dan pakaikan ia pakaian perayaan yang dipakai orang-orang hari ini," titah Minhao.


"Baik tuan," jawab wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu mengajak Zelvia agar mengikutinya masuk ke dalam. Zelvia hanya bisa menurut karena ia tidak terlalu tahu lingkungan disini.


Setelah masuk, Zelvia diajak untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu menjadi pakaian tradisional.


Saat sedang dirias, wanita itu menanyakan beberapa hal untuk memecah kecanggungan.


"Nona, anda cantik sekali! Selama ini, saya merias banyak orang, tapi anda paling cantik!" pujinya dengan ramah sambil melihat ke arah cermin.


Zelvia hanya tersenyum mendengar hal itu. "Apa kau sudah lama bekerja menjadi perias, Nyonya?" tanya Zelvia.


Wanita itu mengangguk pelan, "Sudah sekitar lima tahun aku bekerja menjadi perias," jawabnya.


"Oh ya, nona.. apa kau adalah adik Tuan Minhao?" tanya wanita itu.


Zelvia bingung menjawabnya. Alhasil, ia hanya tersenyum menyahutnya.


Setelah beberapa menit, Zelvia akhirnya selesai dirias. Ia lalu bercermin di depan cermin besar yang sudah khusus disiapkan.


"Nah, selesai!" ucap wanita itu.


Zelvia menatap dirinya di cermin, seolah tidak percaya itu adalah dirinya. " Kalau seperti ini, Hans tidak akan mudah mengenali wajahku, ini bagus!" batin Zelvia.


"Terima kasih, Nyonya!" ujar Zelvia.


Zelvia mengambil sesuatu di tas yang ia bawa, ia menyodorkan tiga buah perak.


"Apa segini cukup?" tanya Zelvia.


Wanita itu tergencang melihat jumlah yang Zelvia berikan. Ia lalu menggeleng pelan, "Ti-tidak usah! Aku tidak memerlukannya!" tolaknya.


"Tidak apa-apa, ini sebagai tanda terima kasihku" ujar Zelvia.


Tidak diragukan lagi, saudari Tuan Minhao juga wanita kaya! ucap wanita itu kagum.


"Saya benar-benar tidak membutuhkannya, nona! Saya memang sudah terbiasa bekerja tanpa imbalan!" jelas wanita itu tersenyum manis.

__ADS_1


"Ambillah, aku memang ingin memberikannya padamu!" ujar Zelvia.


Akhirnya, wanita itu mengangguk dan mengambil tiga buah perak dari Zelvia. Ia lalu mengantar Zelvia keluar dari rumahnya


__ADS_2